
Pada akhirnya, Nara pun meninggalkan Rendi dan tidak ingin kembali lagi apapun yang terjadi.
Saat keluar dari perumahan tempat Rendi berada, Nara pun sudah disambut oleh Gibran yang menunggu di depan gang. Pria itu menyambut Nara dengan perasaan senang dan juga
bahagia.
“Udah dapet tempatnya?” tanya Nara sembari memberikan tas milik Syakila.
“Udah dong, tenang aja. Deket sama kampus kok.” Gibran pun menerima tas milik Syakila dan Nara naik ke motor, lalu mereka pun pergi dari tempat itu.
Jantung Nara berdegup dengan kencang kala ia sedang membonceng pria lain yang bukan suaminya, meskipun ini sering terjadi, namun entah mengapa kali ini dia sangat gugup dan juga
takut. Ada sedikit keraguan di dalam hati Nara, apakah yang ia lakukan adalah sesuatu yang
benar? Atau justru sebaliknya?
Sepanjang jalan, Nara juga hanya diam saja dan tidak berbicara apapun kepada Gibran. Gibran juga berusaha mengerti jika wanita itu sedang berada di masa yang cukup sulit.
Hingga sampailah di sebuah perumahan yang letaknya berada di belakang kampus dan sangat dekat dari kampus Nara dan juga tempat di mana Syakila biasa dititipkan.
“Loh? Gibran? Kamu yakin aku bakal ngekos di sini? Emang nggak mahal?” tanya Nara.
“Enggak kok, murah banget di sini malah. Sebulan cuma 100ribu,” ujar Gibran sembari turun
dari motor.
“Hah? Bohong banget! Yang bener ih!” Nara sedikit kesal karena takut Gibran sedang bercanda, karena ini adalah perumahan yang cukup elit dan rumahnya juga terlihat bagus meskipun minimalis. Memang cocok ditinggali oleh keluarga kecil, namun, bagi Nara harganya sangatlah tidak wajar.
“Beneran kok, kamu kasih aja ke aku uangnya, nanti aku yang setor ke yang punya.” Gibran nampak serius sembari merogoh sakunya dan mengambil kunci rumah dari kantung celananya dan membuka pintu rumah tersebut.
Nara pun bahkan sempat terkesima dengan isi di dalam rumah itu, dalamnya bagus dan
bahkan lebih bagus dari tempat kontrakan Nara yang ditinggali bersama Rendi.
“Serius, Gibran?” Nara masih saja tidak percaya.
“Iya, udah kamu istirahat sama Syakila. Nanti aku ke sini lagi ya,” ujar Gibran sembari keluar
dan jalan kaki ke luar rumah Nara.
“Kan rumah kamu jauh, Gibran!”
Namun, Gibran hanya terus berjalan dan menuju ke samping rumah Nara, lalu membuka pintu
rumah sebelah Nara dan hal itu langsung membuat Nara semakin terkejut bukan main.
“Aku lupa, aku sedang berurusan dengan pria tajir yang keras kepala.” Nara mengusap
rambutnya sembari bergumam sendiri.
__ADS_1
Karena Gibran berkata jika ia akan kembali lagi, Nara pun langsung membawa Syakila masuk dan meletakannya di kasur pendek yang ada di depan tv. Di sana, Syakila bisa merangkak
sepuasnya tanpa harus takut kotor atau ada hewan melata, karena lingkungannya bersih. Tidak
seperti kontrakan Nara yang dulu. Dapurnya berada di luar rumah dan belakangnya merupakan
kebun. Bisa saja ular bersembunyi di semak-semak. Tempatnya juga kotor dan terlihat lawas.
Beda sekali dengan yang dicarikan oleh Gibran.
Nara merapikan pakaian Syakila dan menempatkannya di lemari yang ada di kamar. Hingga
Gibran datang dengan membawa dua bungkus makanan untuk Nara.
“Makan dulu ya? Kamu belum makan kan?” Gibran langsung menuju ke dapur dan mengambilkan piring untuk Nara. Ia bersikap layaknya pemilik rumah tersebut. Namun, Nara juga tidak keberatan karena Gibran sudah banyak membantunya. Gibran pun sudah
membukakan makanan milik Nara dan menyediakannya untuk Nara.
“Terima kasih ya. Kamu baik banget sama aku. Ini pasti punya kenalan kamu juga kan?” tebak
Nara.
“Tahu aja kamu ini, aku sengaja nggak mau bilang dari awal karena udah pasti kamu nolak
kalau aku bilang dari awal,” ujar Gibran kepada wanita itu.
“Aku soalnya udah banyak banget ngerepotin kamu. Aku ngerasa jadi beban banget buat kamu tau.” Nara memakan makanannya dengan lahap.
deh, aku yakin. Jadi, kamu bakal aman di sini,” ujar Gibran sembari ikut menyantap
makanannya.
Saat mereka berdua sedang asyik makan, Syakila terlihat juga ingin memakan makanan yang sedang mereka santap dan naik ke paha Gibran, berusaha untuk berdiri.
“Syakila mau? Tapi ini buat orang dewasa. Syakila makan ini aja ya?” ujar pria itu sembari memberikan jajanan bayi yang sudah ia beli duluan sebelum datang ke rumah itu.
Nara yang melihat hal itu pun merasa senang dan juga merasa bersyukur sekali, karena ia
memiliki teman seperti Gibran. Meskipun Gibran tidak menganggap Nara sebatas teman saja,
namun, pria itu sama sekali tidak pernah melewati batas.
Di saat sudah selesai makan, Gibran mulai membicarakan hal yang cukup serius untuk Nara.
“Jadi, kamu beneran memutuskan untuk berpisah?” tanya Gibran.
“Iya, aku udah nggak mau lagi berurusan sama Rendi. Aku juga bakal bilang ke orang tuaku
entah kapan. Pokoknya aku udah berniat dan bertekad untuk cerai!” Nara nampak
__ADS_1
menggebu-gebu.
"Kalau boleh tahu, kenapa akhirnya kamu milih cerai?" Gibran nampak sedikit penasaran.
Nara pun terdiam sejenak dan mengehela nafas panjang.
"Rendi udah menghamili Adel. Aku tidak bisa memaafkan hal tersebut, mereka berdua salah dan harus menerima konsekuensinya. Aku rela meninggalkan Rendi agar mereka berdua bahagia." Nara mengucapkan hal itu sembari menatap Syakila yang sedang bermain sendiri.
Gibran merasa bahwa ia salah membuka topik pembicaraan hingga membuat Nara sedikit murung.
“Ya udah, aku bantu kamu kok. Besok aku carikan syarat-syarat cerainya ya. Kamu tenangin
pikiran kamu aja di sini. Kalau kamu mau pergi, bilang sama aku biar aku yang anterin. Kalau
aku nggak ada, panggil ojek online. Terus, kalau kamu lagi ngerasa nggak sanggup jaga
Syakila, titipin aja ya. Kalau mau pinjem uang juga bilang aja sama aku. Pokoknya sekarang
aku bakal jagain kamu sama Syakila apapun yang terjadi.” Gibran nampak tidak ingin luput
sedikitpun dari kegiatan wanita itu.
Memang terlihat over protective, namun, Nara justru senang
diperlakukan seperti itu. Ia merasa sangat dihargai oleh Gibran.
“Terima kasih banyak, Gibran. Aku tertolong banyak kali berkat kamu,” jawab Nara dengan senyuman.
“Iya, santai aja sih … ya udah, kamu istirahat sekarang, pasti seharian capek banget kan? Syakila juga kayaknya udah ngantuk. Aku pamit pulang dulu ya!” Pria itu pun beranjak dari
depan tv dan keluar dari rumah yang ditinggali Nara, lalu pergi masuk ke dalam rumahnya
sendiri yang ada di sebelah rumah Nara.
Nara pun tersenyum saat melihat pria itu begitu baik kepada Nara, Sebuah keberuntungan Nara bisa mengenal pria itu dengan baik sampai saat ini. Nara mematikan lampu di seluruh ruangan dan masuk ke dalam kamar.
Ada bed cover yang sangat empuk, biasanya Nara dan Syakila
tidur di kasur kapuk atau kasur lipat. Kali ini, punggungnya terasa sangat lega sekali. Nara melihat ke arah Syakila dan mengajak Syakila mengobrol sebentar sebelum tidur.
“Kamu suka sama om Gibran? Dia baik banget kan? Mama sering banget lihat kamu manja
sama dia loh!” goda wanita itu sembari menjawil pipi putrinya, lalu memberikan putrinya
susu karena terlihat sudah mengantuk.
Hingga satu botol besar habis, Syakila pun tertidur dengan nyenyak. Nara tersenyum saat melihat putrinya itu begitu cantik dan lucu ketika tidur.
Saat Nara akan bersantai dan membuka ponselnya, terlihat pesan dari Gibran dan menanyakan
__ADS_1
kabar Nara yang baru saja beberapa menit lalu ia temui. Pada akhirnya, Nara pun menghabiskan malamnya untuk chat bersama Gibran dan tentunya sembari senyum-senyum sendiri.
“Terima kasih, Gibran. Kamu memang pria terbaik yang pernah aku kenal!” batin Nara sembari membalas pesan Gibran.