Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Masa Lalu Gibran


__ADS_3

Gibran membawa Nara ke taman kecil yang ada di kampus. Sampai di sana, Nara langsung melepaskan genggaman pria itu.


"Kenapa sih? Tiba-tiba pergi gitu aja?" tanya Nara.


"Ntar kamu denger apa yang mereka bilang." Gibran melipat kedua tangannya di dada dan menatap ke langit-langit biru.


Nara kembali memikirkan apa yang tadi dibicarakan oleh wanita yang tadi berada di dekat Nara dan menatap Gibran seakan jijik dan takut.


"Emang kenapa? Yang mereka bilang itu beneran?" Nara benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dan mengapa Gibran sampai harus pergi dari hadapan orang-orang itu.


"Haish! Dasar nggak peka!" Gibran mengacak-acak rambutnya, lalu melihat ke arah Nara.


Nara pun memutar otaknya dan berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menghubungkan kejadian tadi dengan membawa Nara pergi. Hingga ia pun mendapatkan jawaban sendiri atas pertanyaannya.


"Oh!" Gibran langsung melihat ke arah Nara saat merasa Nara sudah sadar dengan tindakan Gibran tadi.


"Apa? Aku yakin kamu nggak bakal tahu." Gibran meledek Nara.


"Kamu nggak pengen aku denger apa yang mereka bicarakan?" Nara menebaknya sembari duduk di kursi panjang yang ada di taman kecil itu.


"Kau paham juga, meski lemot." Gibran makin meledek Nara.


"Apa mereka sedang membicarakan masa lalu kamu?" Nara kembali bertanya sembari mendongak ke arah pria tinggi itu.


Gibran pun menghela nafas panjang dan bersiap untuk bicara.


"Sebenarnya itulah alasan mengapa sampai saat ini aku belum lulus. Padahal seangkatanku sudah lulus semua. Aku juga nggak pernah cerita ini sama siapapun. Tiba-tiba rumor itu juga sudah menyebar dengan cepat. Pada akhirnya aku hanya bisa menerima perkataan mereka dan memilih diam saja. Lagipula, aku yakin akan segera lulus." Gibran tersenyum menatap ke langit-langit.


Nara melihat wajah pria itu dengan tatapan yang begitu hangat dan sedikit iba. Ternyata, di balik orang yang selalu menguatkan Nara, ia juga tengah terluka dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia terluka dan butuh seseorang untuk bercerita.


"Kau boleh cerita kepadaku." Nara tersenyum kepada pria itu.

__ADS_1


"Kau ada waktu? Bukankah sekarang sudah waktunya kamu menjemput Syakila?" Gibran justru mengingatkan Nara.


"Oh iya! Aku harus jemput Syakila! Maaf ya!" Nara langsung berdiri dan meminta maaf kepada Gibran. Ia merasa bersalah karena telah menjanjikan sesuatu yang ia sendiri tak bisa menepatinya.


Namun, Gibran langsung menggenggam tangan Nara sebelum ia pergi.


Grep!


"Biar kuantar," pinta Gibran dengan tatapan yang hangat.


"Ta–tapi ... Rendi pasti marah jika ia melihatku bersamamu," ucap Nara yang merasa tidak enak hati.


"Aku yakin hari ini dia pulang sore. Aku bakal bawa kamu sama Syakila jalan-jalan." Gibran kali ini meminta dengan penuh ketulusan.


"Eh? Nggak usah, kasihan kamunya nanti. Kamu nggak malu bawa aku sama Syakila pergi? Bawa anak loh aku ini." Nara nampak kurang setuju dengan keputusan Gibran.


"Aku bukan pria yang nggak bisa menerima sebuah kenyataan. Lagian kamu kan sama anak kamu, bukan anak hasil nyolong, kenapa aku harus malu? Aku antar aja ya?" Gibran ngotot untuk mengajak Nara pergi.


Wanita itu pun menghela nafas panjang, dan merasa tidak enak hati.


"Maaf ya, aku merepotkan kamu." Nara menunduk dan merasa bersalah kepada Gibran.


"Keputusan yang tepat, Nara. Ayo! Kasihan Syakila! Aku bakal bawa kamu ke tempat yang bagus juga. Mau, kan?" Gibran menarik tangan Nara dengan penuh semangat.


"Jangan lama-lama ya? Aku nggak mau Rendi tahu dan marah. Bisa-bisa aku nggak jadi pulang besok." Nara pun pada akhirnya hanya bisa pasrah.


Mereka berdua menuju ke parkiran dan Nara pulang bersama dengan Gibran. Mereka pergi menjemput Syakila ke tempat Mbah Tik. Saat sampai di sana, sudah jelas mbah Tik menanyakan siapa pria yang datang bersama Nara, karena bukan bersama ayahnya.


"Hari ini saya pulang sama teman, Mbah. Ayahnya Syakila lagi sibuk, jadi nggak bisa antar pulang." Nara menggendong Syakila dan membawa putrinya pergi dari sana.


"Ya sudah, hati-hati ya, Nak. Besok datang lagi, kan?" tanya Mbah Tik seperti berharap Nara akan datang lagi.

__ADS_1


"Besok jumat libur, Mbah. Masuk lagi senin jam 8 ya." Nara tersenyum sembari memberikan amplop putih ke arah Mbah Tik.


"Baiklah. Ya sudah, hati-hati ya. Rasanya mbah pingin tiap hari ketemu Syakila. Dia lucu banget, sudah seperti cucu sendiri." Mbah Tik mencium pipi Syakila dengan lembut.


Nara pun berpamitan untuk pergi dan meninggalkan tempat Syakila di titipkan. Ini kali pertamanya Nara membonceng pria selain suaminya sendiri.


Gibran pun membawa Nara dan Syakila pergi ke sebuah taman yang ada di samping sungai, di sana cukup asri dan pemandangannya cukup bagus juga. Nara dan Gibran membawa Syakila ke gazebo di pinggir sungai dan duduk di sana. Anginnya begitu sepoi-sepoi, membuat mereka menjadi semakin nyaman di sana. Nara juga nampak menikmati hal itu.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan kepadaku?" tanya Nara sembari menatap Gibran.


Gibran pun tersenyum dan mulai menceritakan apa yang terjadi.


Ini terjadi saat Gibran masih semester 2, di mana ia melakukan apapun untuk menyembuhkan ibunya yang kini sudah meninggal dunia. Karena Gibran butuh uang, ia melakukan apapun untuk mendapatkan uang, termasuk menjadi orang suruhan mafia.


Rumor menyebar, karena teman satu angkatannya melihat Gibran sedang bersama dengan perundung yang merupakan salah satu mafia. Hal itu membuat gosip menyebar di kampus lewat mulut temannua itu.


Semenjak saat itu, semua orang jadi menggabungkan apa yang dikatakan oleh rumor dan juga kenyataan yang terjadi di hidup Gibran.


"Lalu, semua sudah sedikit berubah, semenjak kematian ibuku." Gibran berusaha tersenyum saat berkata seperti itu. "Bukankah tidak adil untukku?"


Gibran berusaha menahami keadaan yang sudah tak bisa diulang kembali lagi.


"Jadi begitu ...." Nara seakan mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Gibran.


Nara ikut bersedih dan suasana di sana menjadi cukup serius dan sedih.


"Itulah cerita yang sebenarnya. Aku tidak ingin kamu salah paham dan ikut dengan ucapan mereka. Cuma kamu yang tahu soal masa laluku, tahu." Gibran nampak tersseyum dan mengetahui yang di hadapannya sekarang adalah Nara.


"Kamu juga sering dengerin ceritaku, kan? Bukannya kita impas? Aku bakal berusaha menjadi pendengar yang baik buat kamu. Jangan dipendam lagi, ya." Nara menyentuh tangan Gibran sembari tersenyum.


"Terima kasih, Nara. Sekarang perasaanku jadi lebih baik." Gibran nampak merasa lega dan tersenyum ke arah Nara dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2