Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Sang Menantu dan Mertua


__ADS_3

"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Aku lagi malas bahasnya. Aku emang kadang kangen sama kamu, kadang bersyukur memiliki kamu, tapi aku sendiri juga masih labil." Rendi seakan menjelaskan perihal perasaannya.


"Aku tahu. Makanya aku milih buat nggak terlalu sayang sama kamu semenjak kejadian kemarin. Maaf ya, bukan aku udah nggak cinta atau ada yang lain, tapi aku juga punya perasaan." Nara bicara dengan Rendi sembari melipat baju Syakila.


"Kamu mau maafin aku?" Rendi nampak meminta dengan wajah melas.


"Tergantung bagaimana cara kamu bersikap, aku udah singgung ini dari tadi ya." Nara masih berusaha acuh agar tidak tergoda oleh omong kosong pria itu.


"Aku benar-benar butuh kamu, Nara." Dengan raut wajah yang bersedih, Rendi membuat Nara semakin luluh.


"Nggak, Rendi. Aku belum bisa seperti dulu. Aku juga butuh waktu untuk menata diriku sendiri," ucap Nara sembari masuk ke dalam kamar.


Sebenarnya, bisa saja dia berdamai dengan Rendi. Namun, dia belum ingin.


Rendi menyusul ke dalam kamar dan memeluk Nara dari belakang. Sedangkan Nara tengah mengambil beberapa pakaian di lemari.


"Aku sebenarnya mau cerita. Tapi belum waktunya deh, mungkin besok aja setelah KKN." Rendi masih murung dan bersedih.


"Ya udah, nggak usah cerita juga nggakpapa. Kamu lakuin aja apa yang kamu mau," ujar Nara berusaha untuk tidak peduli, meskipun sebenarnya dia agak sedikit penasaran.


"Kamu jadi cuek sama aku."


Nara pun menghela nafas panjang. Bagaimana dia tidak bersikap acuh, jika sikap Rendi masih seperti itu. Rasa sayangnya kepada Rendi bahkan sudah berkurang, jika Rendi meminta dilayani, maka Nara akan melayani bukan karena cinta, namun karena memang itu kewajibannya sebagai istri.


Saat mereka tengah berada di kamar, tiba-tiba ayahnya Nara sudah datang dan langsung parkir di depan rumah mereka. Nara yang sudah selesai langsung menyambut ayahnya itu.


Rendi juga langsung menyambut mertuanya dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Sehat, Nara? Rendi?" Ayahnya Nara langsung masuk ke dalam kontrakan dan disambut baik oleh mereka berdua dengan mencium tangan sang ayah. Padahal yang sebenarnya, hubungan mereka sangatlah tidak baik-baik saja. Namun, Nara belum akan bilang kepada keluarga besarnya, sudah pasti ayahnya akan langsung marah kepada Rendi dan menghajarnya lagi.


"Yang mau dibawa apa? Dimasukkin aja ke mobil. Barang-barang Syakila juga, ibumu titip pesan tadi, bawa aja semua barang Syakila, pasti banyak yang penting," ujar sang ayah sembari duduk di sebelah cucunya dan bermain dengan cucunya itu.


"Iya, Ayah. Semuanya sudah kusiapkan kok." Nara mengangkat tasnya ke bagasi, dibantu oleh Rendi.


"Rendi gimana kerja sambilannya? Lancar?" Sang mertua hanya ingin tahu apakah menantunya menafkahi putrinya dengan baik atau tidak sama sekali.


"Saya kerja tiap pulang kuliah, Pak. Alhamdulilah bisa nafkahi Syakila sedikit-sedikit," jawab Rendi dengan sedikit berdusta.


"Syukur kalau gitu. Kalau bisa besok habis kuliah kamu kerja. Gimanapun juga Syakila sama Nara saya serahkan sepenuhnya ke kamu. Ibunya Nara sudah agak susah membantu keuangan kalian, jadi, tolong sekali ya, Rendi." Ayahnya Nara nampak sedikit khawatir.


"Baiklah, Ayah. Maaf sudah membuat kalian khawatir." Rendi meminta maaf karena merasa tingkahnya merugikan Nara dan keluarganya.


Ayahnya Nara melambaikan tangannya dan meminta Rendi untuk mendekatinya dan duduk di sebelahnya.


Mendengar ucapan seperti itu, Rendi langsung semakin merasa bersalah dan sekaligus bersedih. Air matanya hampir menetes karena ucapan barusan.


"Terima kasih sudah mengingatkan, Ayah."


"Sama-sama, Nak. Apapun itu, jangan menyerah dan teruslah semangat. Karena rejeki seorang suami itu berasal dari istri yang bahagia. Kamu harus paham itu," imbuh sang mertua.


Rendi menganggukkan kepalanya dan mengerti apa yang dikatakan oleh mertuanya itu. Ia tidak benci Nara, ia juga tidak pernah dituntut untuk bisa melakukan segalanya oleh sang mertua. Berbeda dengan perlakuan keluarga besar Rendi kepada Nara yang justru membuat Nara sangat tertekan.


"Maaf kalau Rendi belum bisa menjadi suami dan menantu yang baik," ujar Rendi.


"Di dunia ini, tidak ada yang sempurna, Rendi. Saya juga belum sempurna, nyatanya Nara bisa kecolongan hamil di luar nikah, itu pasti karena didikan saya yang kurang," ucap ayahnya Nara dengan senyuman.

__ADS_1


"Bukan, Pak! Itu pasti salah saya karena saya sudah merusak masa depan putri bapak." Rendi menambahkan dan masih merendahkan dirinya.


"Ayah, barangnya sudah masuk semua," ucap Nara sembari mengambil tas miliknya sendiri yang memang akan dia bawa.


"Oh, baiklah, Nara. Kamu tidak mau mengucapkan perpisahan dengan suamimu dulu? Kalian bakal sebulan lebih nggak ketemu loh. Syakila biar sama ayah." Ayahnya Nara sedang menggoda mereka berdua.


Karena tidak ingin ayahnya curiga, Nara mengajak Rendi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu perlahan. Di dalam kamar, Nara melihat ke arah Rendi.


"Aku kasih kamu waktu 45 hari untuk memperbaiki semuanya. Kalau kamu nggak bisa, maaf ya, aku juga nggak bisa." Nara kembali memperingatkan Rendi.


Pria itu justru mengecup bibir Nara dengan cepat dan juga kening wanita itu. Membuat Nara tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hari ini, Rendi benar-benar sangat aneh. Ia bahkan memeluk Nara dengan erat sebelum Nara pergi pulang.


Setelah sudah selesai dibacarakan, Nara pun keluar dan pulang ke Temanggung bersama sang ayah. Ternyata masih ada juga rasa iba terhadap pria itu.


"Udah nggak usah khawatir, Rendi pasti bisa jaga diri sendiri kok. Apalagi ada keluarganya di sini," ujar sang ayah karena tahu Nara sedih.


"Iya, Ayah. Aku juga percaya kok." Nara pun hanya berkata seperti itu dan membalas ucapan sang ayah.


Sedangkan saat Nara pergi, Rendi menghela nafas panjang dan merasa sangat kesal, juga pusing. Ia membuka ponsel dan melihat sebuah notifikasi.


Tagihan kamu akan jatuh tempo pada ....


Melihat notif saja sudah seperti melihat setan. Masalahnya, Rendi bingung bagaimana melunasi semuanya, karena dia sendiri tidak memiliki pekerjaan apa- apa


"Arggh! Pinjaman sialan!" umpat Rendi dengan rasa kesal.


Semenjak jalan bersama Adel, ternyata Rendi jadi sering sekali berhutang online dan tidak peduli dia bisa bayar atau tidak, yang penting dia bisa jalan dengan Adel dan menghabiskan semua uangnya tanpa sisa.

__ADS_1


"Dahlah, paling Nara juga kalau kumintain duit pasti ngasih. Nggak mungkin nggak dikasih, Nara pasti bakal bantuin aku," ujar Rendi dengan percaya diri, yang padahal entah Nara mau membantu atau tidak, Rendi juga tidak tahu.


__ADS_2