Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Wanita yang Menyukai Gibran


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka semua berkumpul di balai desa karena akan melakukan perpisahan KKN dan sekaligus memberikan kenang-kenangan kepada desa. Cukup ramai yang datang ke


balai desa karena merasa kedatangan mereka sangatlah membantu desa bisa lebih maju lagi.


Sejak malam Gibran mengutarakan perasaannya, Nara dan Gibran menjadi selalu salting saat bertemu.


Nara juga jadi sering mengabaikan panggilan maupun pesan dari Rendi, meskipun Rendi


meminta maaf sampai memohon-mohon ingin bertemu, bahkan menjanjikan hal lainnya, Nara


tetap berusaha untuk abai dan tidak peduli dengan pria itu. Selepas KKN, Nara berniat untuk bercerai dengan Rendi agar bisa mengakhiri semuanya secepat mungkin, dia sudah tidak ingin


dimanfaatkan ataupun diperlakukan semena-mena oleh Rendi lagi.


Gibran juga lebih sering memberikan perhatiannya kepada Nara, karena kini sudah menjadi


tanggung jawab Gibran untuk melindungi Nara, ia sudah sangat bahagia dengan perjanjian yang mereka buat semalam, jadi, Gibran akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik lagi.


Hingga acara hampir selesai, tiba-tiba Evi melihat ke arah Nara dan mencolek tangan Nara.


“Kenapa?” tanya Nara yang langsung melihat ke arah wanita itu.


“Kamu lagi deket sama Gibran ya?” tanya Evi kepada Nara.


“Eh? Enggak kok, emang kenapa?” Reflek Nara berucap seperti itu agar semua orang tidak curiga.


“Syukurlah kalau begitu, malam ini aku mau mengungkapkan perasaanku kepada Gibran,” ucap


Evi dengan raut wajah yang memerah.


“Hah? Sama Gibran? Kamu yakin?” kejut Nara.


“Iya! Dia selama ini baik banget sama aku, sering nganter aku juga, mau kalau aku ajak pergi,


dia juga kayaknya asyik diajak ngobrol, nyatanya semua cewek hampir naksir sama dia loh!


Tapi perasaanku kali ini bukan perasaan sebagai teman atau sekadar memberikan ucapan


terima kasih saja, aku sungguh-sungguh menyukai Gibran.” Evi berucap seperti itu dengan


suara yang cukup kecil, untungnya hanya ada mereka berdua saja di sana dan memang Evi


sudah sangat dekat dengan Nara, hingga ia bisa menceritakan semuanya dengan sangat

__ADS_1


mudah.


Sebenarnya, Nara sedikit tidak bisa menerima hal itu dan ingin mencegah wanita itu untuk menyatakan perasaannya kepada Gibran. Namun, Nara ingat jika dia tidak boleh bersikap


arogan, karena maui bagaimanapun nanti hasilnya, tetap Gibran lah yang menentukan dan jika


memang Gibran tidak mencintai Nara dengan tulus, sudah pasti perasaan Evi akan ia terima


dengan senang hati.


“Ya udah ungkapin aja, sebentar lagi selesai KKN loh, nanti daripada menyesal,” ledek Nara


dengan dada yang sedikit sakit. Karena sebenarnya Nara tidak menginginkan hal itu sama


sekali.


“Aku grogi banget, aku takut ditolak. Tapi nggakpapa sih, kalau misal ditolakpun yang penting


aku udah berusaha mengutarakan,” ucap Evi.


“Kalau ditolak, cari yang lain lah! Kamu juga cantik kok, jadi menurutku udah pasti banyak cowok yang mau sama kamu. Semangat ya! Mau ngutarain kapan?” tanya Nara.


“Nanti malem, soalnya aku udah siap-siap lama banget nih,” ujar Evi dengan penuh percaya


Mendengar waktu tersebut, Nara langsung ikut deg-degan dan berharap Gibran menolak wanita itu. Memang terdengar egois, entah mengapa perasaannya sudah mulai tumbuh.


“Emang kamu seberapa deket sama Gibran Sedeket itu ya?” tanya Nara.


“Iya! Aduh, dia baik banget pokoknya! Aku berulang kali salting kalau jalan sama dia, yang entah dia ngelap bibirku karena kotor, entah dia membantu memasang tali sepatuku, menggandeng tanganku saat kakiku sakit, pokoknya dia act of servicenya kerasa banget deh!”


ujar Evi sembari membayangkan hal yang pernah ia lalui bersama Gibran.


“Wah … kalian sedekat itu ya ternyata? Kenapa nggak pernah cerita sih?” tanya Nara yang berusaha antusias mendengar cerita Evi.


“Iya, dia juga kalau aku ajak jalan-jalan juga pasti selalu mau, itu yang bikin aku jadi makin


percaya diri buat nyatain perasaanku,” jawab Evi.


“Dia lebih tua dari kamu loh, emang nggakpapa?” tanya Nara.


“Halah, beda 3 tahun doang kan? Kalau cuma segitu mah aman, nggakpapa. Malah katanya yang lebih tua itu lebih mengayomi kan?” ucap Evi yang justru merasa senang.


Nara pun hanya membalas ucapan wanita itu dengan senyuman kecil saja, karena dia tahu betul jika Gibran adalah pria yang memang baik kepada semua orang, apalagi wanita. Namun, Nara tidak tahu perasaan Gibran seperti apa dengan Evi, jadi lebih baik dia tidak bersikap egois

__ADS_1


untuk sekali ini saja. Dia tidak ingin menghalangi kebahagiaan Rendi bersama dengan orang


lain.


Sejak Evi bercerita seperti itu, wanita itu nampak kegirangan, bahkan sampai acara perpisahan selesai. Ternyata, alasan mengapa Gibran tidak selalu bisa bersama Nara, karena memang ia meluangkan waktunya untuk bisa dekat dengan orang-orang yang mengikuti KKN bersamanya. Hingga malam hari pun tiba, di mana semua orang sudah tidur. Evi juga sudah janjian dengan Gibran di teras depan untuk bicara perihal perasaannya.


Saat satu kamar Evi sudah tidur, ia keluar kamar perlahan dan menyelinap keluar untuk


menemui Gibran. Nara yang berpura-pura tidur pun langsung membuka matanya dan perlahan mengikuti Evi keluar kamar dan bersembunyi di samping teras rumah untuk mendengarkan pembicaraan mereka.


“Loh? Evi? Aku kira kamu udah tidur loh,” ujar Gibran.


“Belum. Ada yang mau aku bicarain sama kamu,” ucap Evi sembari duduk di samping Gibran.


“Ngomong aja, nggak usah malu-malu juga loh,” ujar Gibran dengan senyuman.


Evi pun terdiam sejenak dan mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan apa yang ia rasakan selama ini. Ternyata ini hal yang cukup berat untuk Evi, padahal dia sudah merencanakannya jauh-jauh hari.


“Gibran, maaf ya kalau ini mendadak banget buat kamu. Tapi ….”


Gibran melihat ke arah Evi dan kebingungan karena wanita itu tidak langsung to the point.


“Aku suka kamu, Gibran!”


DEG!


Ucapan itu membuat Nara dan juga Gibran sedikit terkejut, Nara juga terkejut karena tidak menyangka Evi akan mengatakannya sungguhan dan ia juga tidak sabar menunggu jawaban Gibran.


Mendengar ungkapan perasaan seperti itu, Gibran langsung menggaruk belakang kepalanya


yang sebenarnya tidak gatal, ia bingung harus jawab bagaimana. Mereka terdiam cukup lama


dan membuat hubungan di antara mereka jadi canggung. Hingga Gibran pun angkat bicara.


“Kamu yakin suka sama aku? Kenapa? Karena kita sering bersama?”


“Iya, kamu juga perhatian banget sama aku. Jujur aja aku baper dan nggak bisa nahan untuk mengungkapkan perasaan ini, tapi kalau kamu mau nolak aku juga boleh kok!! Itu kan hak


kamu juga!” ujar Evi.


Gibran pun tersenyum kepada wanita itu.


“Evi, terima kasih ya. Aku juga nyaman sama kamu kok….”

__ADS_1


Jawaban itu langsung membuat air mata Nara ingin menetes, namun, ia masih tetap berada di sana sampai Evi masuk ke dalam kamar.


__ADS_2