
Hari-hari pun berlalu, di mana Nara masih tinggalbdi rumah itu dan merasa bahwa semuanya
baik-baik saja. Ia menikmati hari-harinya bersama dengan Syakila. Meskipun dia sering sekali
mendapatkan pesan dari Rendi yang mengatakan akan memperbaiki semuanya, namun
sepertinya Nara sudah tidak ingin mendengar kata-kata tersebut dari pria itu.
Ada buah hati yang harus ia bahagiakan dan ada pikiran yang waras setiap harinya.
Gibran juga sering menemui Nara untuk memastikan semua baik-baik saja, namun, karena
Gibran sedang menjalankan skripsi, ia jadi sering pergi ke kampus.
“Kamu hari ini ke kampus lagi?” tanya Nara yang sedang menyuguhkan masakan di meja ke arah Gibran yang tengah menggendong Syakila.
“Iya, makanya aku dateng ke sini karena mau numpang makan, hehe.” Pria itu nampak tersenyum gemas sekali di hadapan Nara. Membuat Nara hanya bisa tersenyum saja. Mereka
sudah seperti keluarga kecil yang bahagia.
“Kamu sering ketemu Rendi?” Nara menanyakan hal yang seharusnya tidak ia cari tahu lagi, namun, di satu sisi ia juga penasaran dengan nasib pria itu sekarang.
“Kayaknya dia belum ke kampus sih, nggak tahu kalau sekarang. Mungkin dia masih ada di
masa pemulihan juga, bisa aja orang tua dia nanyain kamu kan, dan dia sendiri bingung
jawabnya,” urai Gibran yang sebenarnya juga tidak tahu dengan keadaan Rendi.
“Oh, yaudah. Biar dia sama keluarganya yang bertanggung jawab, aku juga bakal kasih tahu orang tua aku tapi bukan sekarang. Aku belum siap.” Nara pun mengambil Syakila dari gendongan Gibran, namun dihentikan.
“Mau ngapain? Udah ayo ikutan makan!” pinta Gibran sembari menjauhkan Syakila dari Nara.
“Aku aja yang bawa, kamu makan aja keburu telat ke kampus! Gimana sih,” protes Nara
sembari berusaha untuk mengambil Syakila dari tangan Gibran lagi.
“Halah, udah ayo makan.” Gibran justru menarik tangan Nara hingga wanita itu langsung duduk
di sebelah Gibran.
Karena Nara tahu tidak bisa menyangkal keinginan pria itu, pada akhirnya Nara hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh pria itu. Meskipun sedikit kesal, namun, ia merasa sangat bahagia karena ada pria yang bisa menghargai dirinya dan memperlakukannya dengan baik.
Mereka pun makan bersama dan Nara menikmati sarapan pagi yang begitu tenang.
“Nanti kamu mau nitip apa nggak waktu aku balik?” tanya Gibran.
“Hah?” Nara merasa bahwa dirinya sudah seperti sepasang suami istri saja, padahal Rendi saja tidak pernah melakukan hal seperti itu sama sekali.
__ADS_1
“Kok hah? Ditanyain juga,” ujar Gibran.
“Nggak ah, lagi nggak mau apa-apa,” jawan Nara.
“Ya udah, chat aja kalau kamu mau dibawain apa. Aku baliknya nanti sore juga.” Gibran
nampak menikmati makanannya sembari membawa Syakila di pangkuannya.
Setelah sudah selesai makan, Gibran pun pergi ke kampus dan meninggalkan Nara sendirian di kontrakannya itu.
Gibran pun sampai ke kampus dan menemui dosennya, saat ia sedang berada di kampus, terlihat Rendi sedang menarik tangan Adel seperti akan membawanya pergi.
“Mau ke mana sih, Sayang?” tanya Adel sembari pasrah tangannya ditarik oleh Rendi.
“Aku mau ngomong sama kamu.”
Rendi nampak marah kepada Adel, namun ia juga berusaha untuk menahan amarahnya. Pria
itu membawa Adel ke belakang kampus dan tempatnya lebih sepi, hingga tidak ada orang yang
bisa mendengarkan percakapan mereka.
“Kenapa, Sayang? Kamu kangen sama aku? Kalau kangen kan bisa langsung aja ke kos aku?”
ucap wanita gatel itu.
“Iya, Sayang! Aku seneng banget sumpah akhirnya bisa hamil anak kamu! Aku jadi nggak sabar mau nikah sama kamu ih!” ucap Adel dengan perasaan yang sangat bahagia. Sedangkan
Rendi sudah sangat kesal dengan ulah wanita itu.
“Kenapa kamu kasih tau Nara segala sih!” gertak Rendi.
Adel yang mendengar Rendi berkata seperti itu langsung menatap ke arah Rendi dan wajahnya menjadi murung dan juga marah.
“Kok kamu malah marah sih? Dia siapa kamu sampai kamu belain dia terus? Sampai aku bahkan nggak bisa jenguk kamu selama ini. Aku tuh khawatir banget sama kamu,” ujar Adel
yang juga mulai merasa kesal.
Rendi mulai sedikit frustasi dan marah. Ia merasa wanita yang ada di hadapannya itu
benar-benar sampah.
“Gugurin anak itu.”
Rendi langsung berniat untuk pergi dan tidak ingin menghubungi wanita itu lagi untuk selamanya dan mencari Nara. Namun, Adel jelas menghentikan pria itu untuk pergi dan
menarik tangan Rendi dengan keras.
__ADS_1
“Kok kamu gitu sih?! Kan kamu udah janji mau tanggung jawab kalau sampai ada kejadian kaya gini!” protes Adel.
“Kapan aku bilang gitu? Aku selalu minta buat pakai pengaman loh, kamunya aja yang minta buat nggak pakai! Jadi, kamu berencana buat hancurin reputasi aku sebagai ketua BEM ya?” Rendi semakin kesal dengan wanita itu.
“Nggak kok! Kalau mereka semua tahu kamu ngandung anak aku, udah pasti mereka semua seneng lah!” Adel nampak percaya diri dengan sikap buruknya itu.
“Kamu seneng? Aku yang sengsara! Kamu bisa ngerusak nama baik aku di kampus, juga di keluargaku! Kamu kalau mau ngapa-ngapain itu dipikir dulu!” tegur Rendi.
“Kok kamu jadi gitu sih sama aku?” Adel mengeluarkan air mata buayanya dan nampak bersedih di hadapan Rendi.
“Kamu yang aneh-aneh. Resiko tahu kalau sampai berita ini kesebar dimana-mana! Aku ini di
sini pakai beasiswa, Adel! Kalau semua orang bahkan universitas tahu aku menghamili kamu
dan harus nikahi kamu, udah pasti beasiswaku dicabut! Aku sekolah pakai apa? Pakai duit
kamu? Kamu yang bayarin?!” Rendi nampak semakin kesal dengan Adel.
“Oh, jadi habis manis, sepah dibuang ya? Terus, kamu mentingin reputasi kamu ketimbang aku? Aku kira kamu bakal tanggung jawab atas semuanya. Ternyata enggak. Ini hasil dari cinta kita loh, Sayang. Bukannya harusnya kita jaga dan rawat?”
Adel masih berusaha membujuk Rendi.
“Gugurin. Aku nggak mau tahu.” Rendi sudah tidak ingin berdebat apa-apa lagi dengan Adel dan berusaha meninggalkan wanita itu, tapi masih saja ditahan.
“Nggak! Nikahin aku, Rendi! Kamu harus tanggung jawab atas semua yang udah kamu lakuin
ke aku!” Adel pun semakin menjadi-jadi.
Rendi semakin kesal dengan tingkah Adel yang malas ia tanggapi. Apalagi jika perihal
tanggung jawab, urusannya dengan Nara saja belum selesai, sekarang ada lagi masalah
seperti ini.
“Adel, denger ya. Aku nggak mau tanggung jawab, kamu yakin itu anak aku? Kamu sering kan main di belakang aku sama cowok lain? Dikira aku nggak tahu ya? Bisa aja itu bukan anak aku
tapi kamu minta tanggung jawab ke aku, yakan?” Rendi akhirnya mengungkapkan semuanya.
Adel sempat terdiam sejenak dan ia berusaha menyanggah perkataan pria itu, namun ucapannya terbata-bata.
“O–oke kalau kamu nggak mau tanggung jawab, aku bakal sebarin ke semua orang!” ancam Adel.
Rendi yang sudah tidak tahan lagi pun langsung pergi meninggalkan Adel begitu saja,
meskipun Adel berusaha memohon-mohon dan menahan Rendi, pria itu tetap pergi
meninggalkan Adel dan tidak ingin berhubungan dengan wanita sialan itu.
__ADS_1
Rendi baru sadar, jika ternyata Nara jauh lebih baik daripada Adel yang hanya memanfaatkan Rendi saja. Penyesalan Rendi baru datang sekarang setelah sedari kemarin ia terus bersikap bodoh dan melukai perasaan Nara.