
Di mobil, terlihat Nara sedang menggendong Syakila yang tertidur dengan sangat pulas. Nara sedari tadi hanya bisa diam saja dan seperti belum ingin berkata apa-apa.
Gibran sedikit sungkan jika ingin menanyakan sesuatu perihal apa yang sudah terjadi tadi, ia tidak tahu perasaan Nara saat ini seperti apa.
"Skripsi kamu belum kelar, Gibran?" Nara tiba-tiba membuka topik pembicaraan baru.
"Oh, belum Nara. Kenapa?" tanya Gibran dengan sedikit canggung.
"Tanya doang sih. Aku juga bentar lagi mau kelar, tinggal ngerjain bab 4. Pingin cepet lulus rasanya," ujar Nara.
"Iya, untung dapat dosen yang nggak nyusahin. Aku tinggal kelarin bab 5 sih, besok mau ke kampus setelah nemenin kamu," jawab Gibran.
"Nemenin ke mana?" Nara langsung melihat ke arah pria yang tengah menyetir mobil itu.
"Lah? Ke rumah Rendi kan? Kamu janji mau nemuin keluarga Rendi besok kan?" Gibran memastikan kembali.
"Ya iya sih, nggak usah ditemenin nggakpapa kok. Aku bisa sendiri. Lagian ada orang tua Rendi, mereka baik sama aku kok," ujar Nara.
Namun, tetap saja Gibran merasa was-was jika tiba-tiba terjadi sesuatu kepada Nara. Terlebih saat ini, Nara tidak terkena imbas apapun dari kesalahan Rendi tersebut di kampusnya.
"Ya udah, aku anter aja ya?" Gibran akhirnya hanya bisa pasrah.
__ADS_1
"Terima kasih ya, kamu udah nemenin aku selama ini, aku bisa lakuin apa buat balas semua kebaikan kamu?" tanya Nara.
Gibran terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu, tentu saja hal itu membuat Nara sedikit bingung dan menaruh rasa curiga juga.
"Mau jalan sama aku malam ini? Tapi berdua doang," ujar Gibran.
"Lah? Terus, Syakila gimana?" tanya Nara.
"Syakila bisa dititipin kalau malam? Kalau nggak bisa nanti aku carikan babysister dadakan biar bisa jagain Syakila sebentar." Gibran seperti sudah merencanakan hal itu.
"Kayaknya bisa sih, soalnya mbah Tik juga siap sedia kapanpun." Nara sebenarnya tidak ingin Syakila dirawat oleh orang yang belum dia kenal sama sekali.
"Boleh."
"Itung-itung kamu juga harus healing, udah setiap hari kamu jagain Syakila, kamu harus tetap waras dan nggak boleh sampai setres," ujar Gibran.
"Iya, baweel," ledek Nara kepada pria itu.
Semenjak pisah dengan Rendi, Gibran memang mengatur segala yang dibutuhkan oleh Syakila dan Nara. Nara juga berusaha untuk tidak terlalu bergantung kepada pria itu, karena Nara tidak enak hati.
Gibran memperlakukan Nara seperti istrinya sendiri, sedangkan Nara juga berusaha memperlakukan Gibran layaknya ia memperlakukan Rendi selama ini. Saat Nara diajak pergi berdua, jantung Nara langsung berdegup dengan cukup kencang, ia belum pernah pergi kemana-mana semenjak merebaknya masalah ini.
__ADS_1
Nara pun datang ke tempat Mbah Tik dan menitipkan Syakila di sana, tentu saja wanita tua itu senang ketika Syakila datang dan sudah seperti cucunya sendiri. Beliau juga tidak keberatan jika Nara akan pulang malam.
Setelah dititipkan, Nara pun kembali masuk ke dalam mobil dan terlihat Gibran sedang melihat ke arah Syakila.
"Nggak nangis kan?" tanya Gibran.
"Nggak dong, Syakila masih kecil. Di umur segitu dia belum tahu ditinggal," jawab Nara.
"Ya udah. Udah siap jalan? Atau mau pulang dulu?" tanya Gibran.
Nara pun melihat tas dan juga pakaiannya. Dia takut pakaiannya sama sekali tidak cocok jika akan pergi bersama dengan pria tampan dan kaya raya seperti Gibran.
"Nggak perlu sih kayaknya, aku cocok nggak pakai baju ini?" tanya Nara sembari melihat ke arah Gibran.
Pria itu tersenyum dan langsung mengecup kening Nara dengan lembut, lalu mengusap kepala Nara sembari berucap, "Kamu selalu cantik pakai baju apapun."
Gibran langsung tancap gas dan pergi meninggalkan Syakila bersama dengan pengasuhnya di jam 4 sore, rencana Gibran ingin pulang malam dan membuat Nara tidak penat lagi karena sudah menjaga Syakila terus menerus.
Namun, belum pergi saja pria itu sudah membuat Nara salah tingkah, bagaimana jika nanti mereka sudah jalan berdua? Nara tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti kepada jantungnya.
"Aduh, kok deg-degan ya!" batin Nara.
__ADS_1