
Satu minggu pun berlalu, di mana Nara masih menikmati kegiatannya itu bersama dengan putrinya. Ia merasa sangat tenang dan bahkan tidak frustasi lagi seperti dulu. Nara berusaha menikmati hari-harinya sebagai ibu yang bahagia. Nara berusaha menghilangkan semua beban
di pikirannya dan berusaha juga tidak terlalu memikirkan Rendi.
Suatu hari, Gibran sedang pergi ke kampus dan belum bilang kepada Nara jika Gibran pergi menemui dosennya karena dia akan menyelesaikan skripsinya. Dia merasa harus segera
menyelesaikan semua hari ini agar bisa pulang ke rumah. Hingga jam menunjukkan pukul 3
sore, Gibran pun selesai bimbingan dan segera pergi dari kampus. Namun, saat ia akan pergi
dari kampus, Gibran bertemu dengan Tia dan menyapa pria itu dengan hangat.
“Gibran?!” panggil wanita itu dengan keras.
“Loh? Tia? Kamu ngapain di sini?” tanya Gibran saat wanita itu sudah sampai di hadapan
Gibran.
“Kamu tahu Nara ada di mana nggak? Sejak KKN selesai aku nggak pernah ketemu sama Nara sama sekali, padahal kita udah janjian mau meet up. Kira-kira kamu tahu nggak dia ada di
mana?” tanya Tia.
Namun, Gibran justru terdiam sejenak dan sepertinya Nara belum memberitahukan kepada Tia
apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, Gibran sama sekali tidak memberitahukan keberadaan Tia.
“Nggak tahu juga sih, aku juga belakangan ini sebenere nyariin Nara. Dia juga udah jarang chat aku.” Gibran sengaja berbohong untuk menutupi semuanya.
“Duh, gimana ya. Aku takut dia kenapa-kenapa. Soalnya aku nggak percaya sama si Rendi itu.”
Tia nampak gelisah dan khawatir.
“Coba hubungi Nara, siapa tahu dia mau hubungi kamu juga sungkan?” ujar Gibran yang
berusaha memberi solusi tanpa harus membuat Tia bertemu dengan Nara lebih dulu.
“Iya sih, coba deh nanti aku hubungi lagi. Emang Nara juga nggak cerita apa-apa sama kamu?”
Tia masih saja penasaran.
“Nggak tuh, aku sama sekali nggak dapat kabar apa-apa.” Gibran kembali berdusta kepada
__ADS_1
wanita itu.
“Ya udah deh, aku balik dulu kalau gitu.” Tia pun akhirnya menyerah karena dia tidak tahu kabar Nara sama sekali.
Namun, disaat Tia akan pergi, tiba-tiba Adel datang dengan genit sembari menggandeng tangan Gibran. Adel sengaja menunggu Gibran selesai bimbingan dan memata-matai pria itu.
“Hai, Gibran! Kamu mau anterin aku nggak? Aku hari ini sendirian nih, kos aku juga ngeri
banget kalau udah sore gini. Kaki aku juga sakit banget nih,” ujar Adel dengan sangat genit.
“Najis,” ledek Tia dengan spontan hingga membuat Gibran tertawa kecil, dan Adel langsung
terkejut dengan ucapan wanita itu.
“Kenapa sih! Sirik banget, ga bisa dapetin Gibran ya?” ledek Adel balik.
“Udah ah, kamu juga ngapain berisik banget. Bikin malu aja, aku kalau di suruh milih antara
kamu atau Tia, ya lebih milih Tia banget lah. Ngapain aku milih kamu?” Gibran menggandeng
tangan Tia dan membuat wajah wanita itu memerah dan jantungnya berdegup cukup kencang.
“Ih Gibran! Kok kamu gitu sih! Kamu juga kenapa belain si Nara Nara itu! Emangnya apa
kembali kejadian beberapa waktu yang lalu.
“Rumah sakit?” Tia yang tidak tahu apa-apa langsung terkejut mendengar hal itu, sedangkan Gibran merasa sedikit kesal karena ia gagal merahasiakan apa yang terjadi kepada Nara dari Tia.
“Semua cowok lo deketin, lo dibuang sama Rendi makanya deketin gue kan?” ujar Gibran
dengan mulut pedasnya karena kesal.
“Eh! Gue yang mencampakkan pria gila itu! Gue kan sekarang lagi hamil anaknya nih, gue
bakal sebar hal ini ke seluruh kampus biar mampus tu cowok!” ujar Adel.
Tia yang semakin bingung dengan hal itu hanya bisa diam saja dan sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia terus menerus berusaha meminta penjelasan kepada Gibran.
“Aku sudah menolakmu berkali-kali, jadi tolong jangan dekati aku lagi. Aku juga tidak peduli dengan kehamilanmu itu, apalagi hubunganmu dengan Rendi. Nggak penting.”
Rendi pun mengajak Tia pergi dari hadapan Adel. Sedangkan Adel hanya mengeluarkan
__ADS_1
senyum kecut dan berdecak kesal ke arah mereka berdua. Adel seperti memegang kartu As Rendi dan bisa menghancurkan pria itu kapan saja dia mau.
Saat mereka pergi, Adel melihat target yang pas untuk menjalankan rencana jahatnya itu. Adel berjalan mendekati pria yang sedari tadi seakan sedang mencari seseorang.
“Tama? Kamu cari apa?” tanya Adel dengan nada bicara yang begitu lembut.
“Aku nyariin kamu, kemana aja sih? Rapat kan udah mau dimulai, Rendi juga udah nyariin kamu terus dari tadi.” Namun, belum sampai selesai bicara, Adel langsung menarik tangan
Tama dan membawa Tama ke sisi samping gedung, di mana tidak ada siapapun di sana.
“Kenapa sih?!” tanya Tama yang sedikit bingung. Adel nampak melihat ke sekitar dan memelankan suaranya.
“Aku lagi cari orang yang mau kuajak curhat. Kamu mau dengerin aku curhat?” tanya Adel dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
“Kenapa? Kamu bisa cerita ke aku kok,” ujar Tama sembari memegang tangan Adel.
Melihat respon pria itu, Adel menyadari sesuatu jika Tama sepertinya tertarik dengan Adel.
Wanita itu langsung memasang wajah sedih dan menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan air
mata buaya adalah keahlian wanita itu.
“Eh, eh, kamu kenapa? Kok nangis?” Tama berusaha menenangkan wanita itu.
“Si Rendi. Dia jahat banget sama aku,” ujar Adel dengan penuh isak tangis.
“Kenapa? Si cecunguk itu ngapain nih!” Tama mulai emosi mendengarnya.
“Aku dihamilin Rendi, tapi dia nggak mau tanggung jawab, huhu. Aku sekarang bingung banget
harus gimana,” dusta Adel dengan mudahnya.
Tama yang mendengar hal itu langsung merasa kesal dan mengepalkan tangannya seakan ingin memukul Rendi.
“Dia lakuin itu ke kamu? Gila! Kok bisa gitu sih Aku nggak nyangka kalau Rendi segila itu!” ujar Tama dengan amarah yang meluap-luap.
“Aku sering banget diminta memuaskan nafsunya, dan sekarang waktu aku hamil, dia nggak
mau tanggung jawab, Tama.” Adel semakin bersemangat mengeluarkan air mata buaya.
“Brengsek! Ternyata begitu sikap ketua BEM kita selama ini! Ini nggak bisa dibiarin!” Tama pun sangat marah kepada pria itu. “Ya udah, kamu jangan sedih ya. Aku bakal bantu kamu sampai Rendi mau tanggung jawab kok. Aku janji bakal bantuin kamu sampai semuanya selesai,” ujar Tama yang membawa Adel ke dalam pelukannya dan menepuk punggungnya dengan lembut.
__ADS_1
Sedangkan dalam pelukan pria itu, Adel nampak tersenyum licik dan langsung merasa bahagia, Rendi pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan sikapnya itu.
“Lihat aja, Rendi. Bentar lagi semua yang kamu miliki bakal hilang dan juga hidupmu bakal hancur!”