Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Lebam di Wajah


__ADS_3

Hubungan Nara dan Rendi ternyata semakin lama semakin toxic, ada banyak ancaman yang dilontarkan oleh suami kepada sang istri, membuat Nara cukup takut. Suami yang tadinya begitu lembut dan baik hati, kini berubah menjadi iblis kala menghadapi Nara. Namun, saat dia bersama dengan teman-temannya, dia terlihat sangatlah baik, bahkan berkata kasar pun tidak berani. Nara jadi lebih sering menutup dirinya kepada Tia dan Gibran.


Tiap kali Nara membantah dan protes apa yang dilakukan oleh Rendi, pria itu langsung main tangan dan tanpa segan membentak istrinya.


"Kenapa kamu nggak ceraikan aku aja!" teriak Nara yang sudah lelah karena terus menerus mendapatkan tekanan, baik mental maupun psikis.


"Mana bisa aku ceraikan kamu? Kalau aku ceraikan kamu, pasti nanti kamu bakal ngaduin ke semua orang kalau sikapku seperti ini kan? Kamu bakal jelekin aku di depan semua orang, kan?!" tegas Rendi.


"Daripada kamu siksa aku terus, aku capek!" bantah Nara.


"Makanya nurut!"


Rendi memukul pipi Nara dengan sangat keras.


"Aku lagi nggak mood mukul kamu. Beruntunglah kamu!" Mood Rendi sedang membaik, apalagi saat dia membuka ponselnya.


Nara pun berusaha untuk bicara baik-baik dengan Rendi, siapa tahu dia bisa mendapatkan sedikit harapan untuk berbaikan.


"Rendi, kalau kamu udah nggak sayang sama aku, terus kenapa kita harus melanjutkan hubungan kita?" tanya Nara dengan sedikit takut.


"Pernah aku bilang nggak sayang sama kamu, gitu?" Rendi justru membalikkan pertanyaannya itu.


"Belum pernah sih. Terus kenapa kamu kasar sama aku?" Nada bicara Nara semakin pelan, karena takut membuat Rendi sakit hati dan jadi marah kepada dirinya.


"Kamunya yang nggak nurut loh, kalau kamu nurut kan aku udah pasti nggak bakal mukul kamu kan? Aku ngelakuin ini buat kamu kok. Aku nggak mau nantinya kamu dosa karena sering bantah aku," ucap Rendi dengan percaya dirinya.


Alasan itu sama sekali tidak masuk akal untuk Nara, jika memang sudah tidak cinta lagi, mengapa Rendi harus memertahankan Nara? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rendi.


"Kalau perasaan aku ke kamu jadi berubah, gimana? Aku bukan mau ngebantah kamu atau apa, ditampar itu sakit, tahu. Aku nggak mau kamu pakai cara kekerasan, kamu boleh marahin aku, tapi tolong jangan pakai kekerasan," pinta Nara kepada suaminya.

__ADS_1


"Asal kamu nurut aja sih." Rendi masih terus menatap layar ponselnya dan tak menghiraukan juga apa yang dikatakan oleh Nara.


Rendi semakin abai akan perasaan Nara, bahkan sampai dia sering sekali jalan bersama dengan Adel. Sebenarnya, Nara ingin sekali cerai dengan Rendi karena merasa Rendi sudah keterlaluan, namun, Rendi selalu mengeluarkan berbagai macam alasan agar Nara tidak bisa menceraikan Rendi. Nara terjebak dalam hubungan toxic. Mungkin, Nara akan selamanya menjadi istri rahasia Rendi.


Karena Nara sudah sangat lelah, ia pun memutuskan untuk segera tidur. Badannya juga terasa remuk. Ingin rasanya dia mengakhiri hiduupnya.


Keesokan harinya, Nara pergi ke kampus dengan menggunakan ojek online, karena Rendi libur kuliah dan masih tertidur. Sedangkan Nara sedang menyiapkan beberapa hal untuk KKN yang sebentar lagi akan diadakan. Ia pergi mengantarkan Syakila lebih dulu, lalu baru pergi ke kampus.


Sampai di sana, ada banyak sekali teman-teman Nara yang sedang heboh mengisi data KKN. Karena nantinya mereka akan dihadapkan dengan mahasiswa di fakultas lain yang sama sekali mereka tidak kenal.


Namun, saat Nara akan menghampiri kerumunan teman-temannya, seseorang menarik tangan Nara dan membawa Nara bersembunyi di belakang gedung.


"Aduh! Kenapa sih?" Nara jelas bingung karena tiba-tiba ditarik. Dia sampai hapal betul dengan pria yang sering menarik tangannya jika ada sesuatu terjadi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Gibran yang melihat Nara menggunakan masker.


"Ya mau ke sana lah! Kan udah mulai plotingan KKN!" Nara nampak terburu-buru.


Nara langsung terkejut saat dtanya seperti itu, bisa-bisanya Gibran menghentikan Nara karena Nara menggunakan masker.


"A-aku lagi batuk tau! Kenapa sih?" elak Nara yang ingin sekali pergi.


"Sejak kamu pulang dari acara itu, kamu seperti menghindar dari aku dan Tia, apa terjadi sesuatu?" Gibran nampak curiga dengan sikap Nara.


"Perasaan kamu aja kali! Biasanya aku juga gini kok!" Nara masih saja berkilah.


Jantung Nara berdegup dengan sangat kencang, karena di pipinya ada sedikit luka lebam, yang padahal sudah ditutup foundation olehnya, namun tetap saja masih terlihat bekasnya. Ia baru menyadari tadi pagi saat bangun tidur.


Dengan cepat, Gibran langsung mengambil masker Nara dengan cukup kencang, membuat Nara tidak bisa mengindar dari tangan pria itu dan akhirnya, Gibran berhasil merebut masker Nara.

__ADS_1


Terlihat jelas luka lebam berwarna ungu dan Nara langsung menutup dengan tangannya.


"Siapa yang lakuin ini ke kamu?" Gibran masih berusaha tenang.


"Nggak! Ini karena aku kena sudut meja dan kenceng banget, makanya sampai lebam gini. Jangan salah paham dulu," ujar Nara yang berusaha berbohong kepada Gibran.


"Kau pembohong yang lihai ya? Rendi yang melakukannya kepadamu, kan?" Gibran langsung tahu siapa pelakunya.


Nara pun terdiam sesaat, dia ingin sekali berkata iya, namun tidak bisa. Alhasil dia hanya bisa diam saja. Gibran menatap wajah Nara dan melihat bekas berwarna ungu yang berusaha dihilangkan menggunakan foundation, namun masih kelihatan.


"Gibran, plis jangan kasih tahu siapapun."


"Kamu kenapa nggak lapor polisi sih? Ini udah kekerasan loh namanya, dia bisa aja lansung masuk penjara kok dengan bukti yang ada di wajah kamu itu!" Gibran marah kepada Rendi.


"Aku nggak bisa, aku masih mau keluargaku bertahan kok. Aku juga kasihan Syakila Nanti nggak punya ayah gimana?" dusta Nara yang berusaha mencari alasan selain membahas apa yang dibicarakan oleh Rendi dan Nara semalem.


"Tapi kasihan tubuh kamu, Nara!" Gibran sangat iba melihat kondisi Nara sekarang.


"Nggakpapa, aku nggak papa kok! Dia kemarin kelepasan dan kecapekan aja, serius aku baik-baik aja kok!" Nara masih berusaha meyakinkan Gibran.


"Nggak! Aku nggak percaya sama ucapan kamu barusan. Aku nggak mau kamu disiksa begini! Cerai aja ya?" pinta Gibran seakan bersiap untuk melakukan sesuatu agar Nara bisa keluar dari jerat pria toxic.


"Dia nggak mau cerai, Gibran!"


"Nggak masalah, kamu bisa gugat cerai meskipun dia nggak mau kok!" Gibran semakin emosi. "Gini aja, kamu pindah kontrakan aja sebentar gimana? Mau?" lanjut Gibran yang seperti memiliki rencana.


"Hah? Ngapain? Kamu mau apa sih?" Nara makin tidak paham dengan sikap pria itu.


"Aku mau kamu pisah sama Rendi. Biarin dia nyariin sampai jera, ini demi kebaikan kamu juga! Mau ya?" pinta Gibran memaksa Nara karena tidak ingin Nara kenapa-kenapa lagi.

__ADS_1


"Nggak bisa, Gibran."


"Kenapa nggak bisa?!" Gibran nampak kesal lebih dulu, ia tahu jika Nara pastii selalu nolak permintaan Gibran untuk berpisah dengan Rendi.


__ADS_2