
Nara pun melepaskan pelukan Gibran, dia takut ada warga desa yang melihat mereka melakukan hal seperti itu.
Sedangkan skandal tersebut semakin menyebar ke seluruh mahasiswa yang mengikuti KKN. Nara masih berusaha bersabar mendapatkan jawaban dari suaminya itu, namun, sudah cukup lama juga mereka sama sekali tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Jika bukan karena Nara, Gibran tidak akan ikut panik dan memikirkan apa yang terjadi kepada suami Nara itu.
"Jangan panik, saat ini kamu hanya perlu menunggu, apalagi ini masih kabar yang simpang siur, jadi kamu jangan panik," ucap Gibran.
"Iya iya. Kamu nyamperin aku ke balai desa cuma biar aku nggak panik?" tanya Nara.
"Menurutmu? Aku takut kepanikan kamu bikin semuanya buyar, sebenarnya aku nggak masalah banget sih kalau sampai hubungan kalian ketahuan. Aku cuma nggak mau kamu panik di depan semua orang," ucap Gibran.
Nara tersenyum kepada Gibran dan berusaha menenangkan dirinya lagi. Sebenarnya, Nara sangatlah khawatir jika sesuatu terjadi kepada Rendi, namun, di sisi lain ucapan Gibran juga benar adanya. Jika Nara panik, mungkin dia akan bertindak ceroboh dan mengatakan hal yang tidak-tidak.
Mereka hanya bisa menunggu sampai mendapatkan kabar baiknya.
"Hmm, selagi kita menunggu kabar, mau jalan sama aku?" tanya Gibran yang sebenarnya mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Eh? Kan kamu lagi ada kerjaan. Lagian ini udah sore loh, kalau kita keluar barengan emang nggak dicurigai?" tanya Nara yang sebenarnya ingin menolak juga.
"Halah, jangan terlalu patuh sama aturan. Lagian kamu perginya sama aku, aku ini juga koor, aku bisa memberikan alasan apa saja biar bisa keluar," ujar Gibran yang memberikan alasan kepada wanita itu.
Nara pun menghela nafas panjang dan hanya bisa tersenyum kecil, pria itu jelas tidak bisa dibantah jika sudah menginginkan sesuatu. Apalagi dia ingin sekali pergi bersama Nara.
"Tapi aku nggak mau sampai nyasar kaya kemarin-kemarin lagi loh!" ucap Nara.
__ADS_1
"Iya iya, tenang aja!" Gibran berdiri dari teras dan menuju ke arah motornya.
Diikuti oleh Nara yang langsung naik dan membonceng Gibran. Mereka berdua langsung pergi dari desa itu dan menuju ke tempat yang sudah Gibran rencanakan selama ini.
Mereka langsung pergi begitu saja, padahal jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Emang kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Nara yang sudah penasaran dengan destinasi mereka.
"Aku mau ajak kamu pergi menenagkan diri, mungkin bisa dibilang healing deh!" ujar pria itu dengan senyuman manisnya itu.
"Hah?! Serius?" kejut Nara yang sama sekali tidak menyangka kalau dia akan diajak jalan-jalan oleh Gibran saat sedang KKN. Apalagi Nara pergi bukan dengan suaminya.
"Pokoknya, nikmatin aja! Berharap setelah ini kamu bakal dapat kabar baik!" timpal Gibran.
Mereka duduk sembari menatap indahnya langit sore itu, Gibran sering sekali melirik ke arah Nara dan merasa bahwa wanita yang ada di sebelahnya itu begitu cantik dan ia beruntung bisa bertemu dengan Nara.
Gibran tiba-tiba mengusap kepala Nara dengan lembut dan perlahan.
"Sabar ya, Nara. Aku yakin semuanya bakal baik-baik aja kok. Kamu semangat ya! Terus, sayangi diri kamu sendiri juga, jangan terus-terusan mikirin orang lain. Kamu berhak bahagia loh," ucap Gibran dengan melemparkan senyuman manis ke arah Nara.
Wajah Nara tiba-tiba memerah saat mendengar perkataan itu. Apakah memang benar jika Nara berhak untuk bahagia?
Selama ini dia merasa bahwa ia tak pantas bahagia karena terus menerus mendapatkan ujian dalam hidupnya, alhasil membuat dirinya sama sekali tidak bisa berhenti insecure dan terus menyalahkan dirinya atas semuanya.
__ADS_1
Nara terdiam sejenak dan memikirkan perkataan Gibran.
"Jadi, aku berhak bahagia ya?" gumam Nara.
Namun, ucapannya itu tak terdengar sampai ke telinga Gibran karena suara deburan ombak yang cukup kencang. Gibran tahu, jika wanita itu masih merasa bahwa dirinya sama sekali tidak pantas ada di dunia ini.
Gibran mengajak Nara berdiri dan menarik tangan wanita itu, membuat Nara bingung, namun tetap saja mengikuti pria itu.
"Kenapa?" tanya Nara.
"Di sini nggak ada yang kenal kita kan?" ucap Gibran.
Nara pun menggelengkan kepalanya karena merasa sudah aman berada di situ.
"Ya sudah kalau begitu."
Gibran menarik tangan Nara dan membuat wanita itu kini ada di dalam pelukan Gibran. Ombak yang terus menerus menerpa kaki mereka berdua menjadi saksi bisu bahwa Gibran begitu mencintai Nara.
Gibran menarik tubuh Nara hingga sampai ke pelukannya. Pria itu mengusap kedua pipi Nara dan berusaha mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nara juga. Nara sudah memejamkan matanya dan jantungnya padahal berdegup sangat kencang karena gugup, ini kali pertama dia membuka hati untuk pria lain, yang tidak terus menerus menyakiti seperti Rendi. Gibran benar-benar jauh berbeda dari Rendi, entah mengapa Nara juga merasa bahwa sebenarnya Rendi berubah drastis sejak menikah.
Hingga wajah mereka sudah sangat dekat dan Nara bahkan bisa meraskaan hembusan nafas pria itu.
"Perasaan ini kembali muncul ya?" batin Nara.
__ADS_1