
Masuk ke dalam cafe, Rendi terlihat bahagia saat bertemu Nara, bahkan ia tersenyum saat sudah ada di depan Nara.
“Duduk sini, Sayang. Gimana KKN di tempat kamu?” tanya Rendi dengan senyumannya.
Nara berusaha tersenyum saat mendekati pria itu.
“Enak kok, aku bahkan menikmati hari-hariku. Kamu gimana?” Nara menanyakan kabar Rendi
kembali.
"Syukurlah kalau begitu. Aku kangen banget sama kamu, aku juga sering banget nanyain kabar Syakila ke ibu kamu." Rendi terlihat bangga dan merasa bahwa ia sudah melakukan yang terbaik untuk menjadi seorang ayah.
"Iya, aku tahu. Ibu sering bilang kepadaku." Nara tersenyum dan merasa Rendi jadi sedikit berubah.
Mereka terdiam sejenak karena tengah menikmati makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Nara sempat merasa canggung, karena jujur saja perasaannya sudah sedikit memudar. Apalagi sejak Rendi sering menyakiti Nara, itu menjadi hal yang cukup membuat Nara trauma.
"Nara, kamu masih sayang kepadaku kan?" tanya Rendi dengan tiba-tiba.
Nara sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Kamu serius tanya itu ke aku sekarang?" Nara justru terlihat menantang Rendi.
"Tentu saja. Aku ingin tahu jawabannya dari kamu. Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan, dan aku sedang berusaha memperbaikinya sekarang. Karena saking ngerasa bersalah, aku bahkan kangen terus sama kamu juga Syakila." Raut wajah pria itu berubah menjadi sedih.
Nara menghela nafas panjang dan ingin sekali dia pergi dari tempat itu.
"Kamu buktikan aja kalau kamu benar-benar udah berubah. Karena jujur aja aku susah banget buat lupain semua yang udah kamu kasih, terutama rasa trauma." Nara menikmati makanannya dan lebih mengesampingkan perasaannya. Cintanya kini sudah tidak bisa lagi dipaksakan.
"Baiklah, aku mengerti kok. Makanya aku ngajak kamu jalan, soalnya aku mau memperbaiki hubungan kita. Maafin aku ya?" Rendi meraih kedua tangan Nara dan menggenggam tangan wanita itu.
__ADS_1
Jika ini perihal sandiwara, maka Nara juga bisa melakukannya. Jika Rendi melakukan hal seperti itu karena keterpaksaan bukan karena ketulusan, Nara juga bisa melakukannya. Entah apa niat buruk yang Rendi rencanakan kepada Nara sampai dia harus melakukan sebuah sandiwara.
Nara hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rendi, ia berusaha untuk tidak terlalu memuka hatinya lagi kepada Rendi. Karena ia tahu, tidak akan ada yang berubah dari Rendi jika sikapnya saja sudah seperti itu.
"Aku masih nunggu besok saat kamu benar-benar sudah bisa memperbaiki diri kamu," ujar Nara dengan senyuman hangat.
Rendi pun terdiam sejenak dan menghela nafas panjang.
"Iya, aku bakal buktiin kok," jawab Rendi dengan percaya dirinya.
Pembicaraan mereka berakhir di situ, selebihnya mereka membahas hal lain yang bukan berkaitan perihal hubungan mereka.
"KKN kamu gimana?" tanya Nara.
"Biasa aja kok, mereka sudah pasti mengenalku, mereka bahkan heran kenapa aku bisa ikut KKN jalur reguler." Rendi tersenyum sembari melahap camilannya.
Nara teringat kala ia merasa bahagia saat melihat Rendi makan dengan lahap, hatinya menjadi sedikit luluh dan terlihat membaik. Rasa cinta itu ternyata tidak mudah dihilangkan, terlebih mereka sudah bersama cukup lama.
"Iya, aku tahu kok. Kamu juga jaga diri ya, jangan sampai sakit. Kamu balik jam berapa?" tanya Rendi.
"Aku jam 4 sore udah harus balik. Jalan ke desaku gelap banget, aku nggak diperbolehkan pulang sampai malam," ujar Nara.
"Ya udah nggakpapa. Jalan sebentar yuk? Udah lama kita nggak jalan berdua kan? Jalan-jalan aja," ajak Rendi.
Nara pun langsung mengiyakan ucapan pria itu, ia berharap ada sedikit harapan untuk mereka berdua agar bisa kembali bersama. Apalagi selama ini mereka juga selalu tertekan semenjak menikah dan merawat anak. Nara bahkan sempat menyalahkan kelahiran putrinya. Namun, ia tidak bisa menyalahkan putrinya begitu saja, Syakila juga belum tentu ingin lahir dari hubungan gelap mereka berdua.
Rendi dan Nara pun berjalan-jalan sebentar dan ternyata mereka banyak bercengkerama setelah beberapa hari tidak bertemu. Nara bahkan sempat merasa nyaman dengan pria itu. Hingga sore hari tiba, dan mereka memutuskan untuk pulang.
"Sayang, mau aku anterin sampai ke dekat desa kah?" tanya Rendi. Panggilan itu membuat Nara sedikit terkejut.
__ADS_1
"Nggak usah, aku berani sendiri kok. Masih sore juga. Kamu hati-hati pulangnya ya," ujar Nara.
"Oh iya, kamu bisa bantu aku?" tanya Rendi dengan tiba-tiba saat Nara hampir pulang."
"Kenapa?" Nara penasaran dengan ucapan Rendi.
"Kamu ada uang 200 ribu nggak? Aku butuh banget buat beli kebutuhan. Bapakku belum kirim uang, besok aku transfer kalau bapakku kirim uang," pinta pria itu.
Nara sempat mengernyitkan keningnya dan berpikir, apakah uangnya masih cukup untuk kebutuhannya sendiri? Selama KKN justru Nara bisa menabung uang pemberian ibunya, karena dia juga tidak terlalu banyak menggunakan uang tersebut untuk jajan.
"Iya udah nanti aku transfer. Itu uang terakhirku juga." Nara pun mengiyakan ucapan pria itu.
Rendi dengan bahagia langsung memeluk Nara dengan erat.
"Makasih, Sayang. Aku sayang banget sama kamu. Aku janji bakal perbaiki semuanya," ujar Rendi saat memeluk Nara.
Nara hanya diam saja mendengar ucapan pria itu, yang entah benar atau hanya membual dan memberi harapan palsu saja.
Karena sudah sore, mereka pun akhirnya berpisah. Sebelumnya, Nara mengirimkan uang ke rekening Rendi lebih dulu, lalu baru pulang. Di sepanjang jalan, Nara terlihat senyum-senyum sendiri, ia merasa Rendi bisa jadi pria yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia percaya bahwa Rendi sudah berubah sepenuhnya. Namun, ia juga tidak terlalu ingin berharap.
Hingga sampai di rumah Pak Roni, Gibran sudah berada di depan teras rumah, seakan memang sedang menunggu kepulangan Nara. Nara memarkirkar motornya lebih dulu lalu menemui Gibran.
"Udah selesai?" tanya Gibran.
Sedangkan dengan perasaan sedikit takut, Nara hanya menganggukkan kepalanya saja. Gibran melihat Nara dari ujung kaki ke ujung kepala. Ia ingin melihat, apakah Rendi baru saja melakukan kekerasan kepada wanita itu. Sepertinya, Gibran terlalu berpikir negatif.
"Ya udah sana mandi, istirahat. Sebelum baju kamu basah dan dada kamu sakit lagi," ujar Gibran.
Nara pun menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar, lalu langsung mandi agar tubuhnya segar. Hingga saat dia di kamar mandi tengah mengeluarkan asinya, tiba-tiba ia merasa dadanya sudah tidak bengkak dan sakit lagi. Namun, asinya sudah tidak keluar lagi. Hal itu membuat Nara panik.
__ADS_1
"Loh? Kok udah nggak keluar lagi?!" kejut Nara.