
Satu panggilan tak terjawab...
Terlihat notifikasi yang membuat Nara sempat membelalakkan matanya dan menjadi kebingungan saat melihat notifikasi itu. Di pagi hari yang cerah setelah seharian mengalami kekerasan dalam rumah tangga, Nara sudah dua hari menginap di rumah Gibran. Gibran tidak mengijinkan Nara untuk pergi kemanapun karena kondisi mental Nara yang terlihat belum baik-baik saja.
Nara sedang menyusui Syakila dan terlihat ia semakin resah. Jam 5 pagi, Gibran sudah masak di dapur dan membuat Nara sebenarnya tidak enak hati. Bahkan, Gibran jadi sering sekali belanja sayur semenjak Nara menginap di sana.
"Nara udah bangun?" panggil Gibran dari dapur.
"Iya Gibran?" Nara membenarkan pakaiannya karena terlihat Syakila sudah kenyang. Nara membenarkan posisi Syakila agar ia bersendawa.
"Habis ini makan ya! Syakila biar aku yang jagain!" ujar Gibran lagi.
Nara yang merasa tidak enak hati pun langsung menghampiri Gibran dan melihat Gibran yang sedang memasak sayur. Baunya sangat harum, bahkan perut Nara langsung lapar melihat masakan pria itu.
"Maaf lho, aku jadi ngerepotin kamu," ujar Nara sembari menggendong Syakila.
"Nggakpapa, aku seneng kok ada yang datang ke rumahku, jadi ramai. Apalagi Syakila ternyata cerewet banget, dia lucu banget!" Gibran terlihat sangat mengagumi putri kecil Nara, yang padahal Syakila juga bukan siapa-siapa Gibran.
Nara sempat tersenyum kecil saat Gibran berkata seperti itu, dia belum pernah sama sekali mendapatkan pujian seperti itu. Selama ini, Rendi begitu cuek dengan kondisi Nara dan juga Syakila.
"Emang banyak yang datang ke sini?" tanya Nara yang tiba-tiba penasaran.
"Hmm, nggak juga. Bahkan kamu yang pertama." Gibran masih memasak dengan semangat dan merasa bahagia.
"Ih kamu mah. Aku jadi makin nggak enak," ujar Nara.
__ADS_1
"Oh iya, besok kamu balik ke Temanggung kan? Aku aja yang anter ya?" pinta Gibran.
"Eh jangan dong. Aku sendiri naik travel aja nggakpapa kok. Kalau kamu yang antar, nanti apa kata orang tuaku waktu lihat kamu?" Nara nampak panik.
"Iya juga sih. Nggak papa lah! Bilang aja itu travel!" Gibran tersenyum jahil kepada Nara.
"Nggak mau ah, aku nggak mau ambil resiko!" Nara langsung balik badan dan kembali ke kamar.
Gibran pun hanya tersenyum saja melihat wanita itu yang keadaannya sudah semakin membaik. Awalnya dia sulit sekali digoda, namun, lama kelamaan dia mulai bisa tersenyum dan kembali ceria seperti biasanya. Gibran hanya ingin menyembuhkan Nara sebelum wanita itu kembali ke kotanya.
"Nara, makan yuk!" ajak Gibran yang sudah menyediakan makanan di meja tepat saat jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi.
Nara yang sedang mengecek barang-barang Syakila pun mengiyakan ajakan pria itu. Beberapa menit kemudian, Gibran langsung masuk ke kamar dan menggendong Syakila.
"Kamu makan dulu, Syakila biar sama aku." Gibran menggendong Syakila yang ada di kasur kamar.
"Nggak nangis?" Gibran sedikit cemas.
"Nggak, Syakila suka kalau ada ramai-ramai. Dia pasti berasa punya temen," ucap Nara yang sebenarnya hanya menduga-duga saja. Dia hanya ingin makan bersama Gibran, karena selama ini Nara selalu makan sendirian saat menumpang di rumah Gibran.
Karena tidak bisa mengelak lagi, Gibran pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Nara. Mereka mengambil makanan dan makan bersama di depan tv bersama dengan Syakila yang baru bisa tiduran sembari melihat mereka berdua makan saja.
Di situ, Nara merasa cukup bahagia karena ternyata nikmat juga makan bersama dengan seseorang saat ada Syakila. Semenjak bersama Gibran, hidup Nara menjadi berubah drastis dan menjadi lebih indah.
"Gibran, aku belum pernah dengar tentang kamu deh." Nara memulai pembicaraan yang selama ini dia sendiri tidak pernah tahu lebih dalam soal sosok Gibran ini.
__ADS_1
Gibran terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras. Seakan dia bingung harus bercerita kepada Nara atau tidak.
"Kalau nggak mau cerita juga nggak masalah kok. Aku nggak maksa. Jangan ceritain hal yang buat kamu sedih, aku nggak mau kamu sedih." Nara pun merasa salah mengajukan pertanyaan kepada Gibran.
"Nggak masalah. Aku nggak pernah cerita sama siapapun. Bahkan orang yang dekat sama aku pun nggak pernah aku ceritain loh. Kamu satu-satunya yang aku ceritain soal diriku." Gibran tersenyum dan menarik nafas panjang dulu sebelum dia menceritakan soal dirinya.
Gibran mulai menceritakan semuanya, di mana sebenarnya ayahnya adalah orang yang sangat kaya raya di Jawa. Beliau mengelola banyak perusahaan dan juga banyak berinvestasi lahan, salah satunya perumahan yang digunakan Gibran untuk tinggal sekarang. Ia tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu, karena memang ibunya telah tiada.
Namun, hubungan Gibran dengan ayahnya tidaklah sebaik apa yang orang-orang pikirkan. Mereka berbeda pikiran dan pendapat, membuat mereka sering berdebat dan Gibran jarang menemui ayahnya lagi.
"Aku sudah cerita soal rumor yang berada di kampus kan?" Gibran memastikan lagi Nara ingat atau tidak dengan cerita Gibran.
"Ya, aku ingat. Yang kamu merupakan anak berandalan dan ikut komplotan mafia kan? Makanya kuliah kamu macet." Nara jelas ingat dengan cerita itu.
"Benar sekali. Ayahku ini sangat ditakuti oleh banyak orang. Orang-orang besar dan berkuasa pasti mengenal ayahku, aku tidak akan mungkin bisa dipenjara dengan mudah, bahkan aku bisa menuntut siapapun sesuka hatiku, terutama Rendi." Gibran mulai menyinggung soal Rendi.
Nara sedikit terkejut, karena mendengar perkataan Gibran yang cukup membuat Nara sedikit takut.
"Kamu masih sayang sama Rendi ya?" tanya Gibran.
"Mungkin masih ada sedikit rasa seperti itu di dalam benakku, namun, sebenarnya aku hanya bingung saja bagaimana melepas suatu ikatan. Apakah akan berpengaruh ke hidupku dan Syakila nanti? Syakila nanti akan dengan siapa? Dan banyak hal lain lagi yang harus kupertimbangkan. Entah mengapa, berat saja melepas sesuatu yang sudah lama sekali aku jalani." Hati Nara rasanya sangat bergejolak sekali. Dia menjadi semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Ya udah. Pelan-pelan aja, jangan sampai pikiran seperti itu terus menghantui kamu ya?" ucap Gibran yang sama sekali tidak masalah jika mendengarkan cerita Nara soal Rendi.
Pembicaraan mereka tiba-tiba terpotong, karena tepat pukul 7 pagi, terdengar seseorang mengetuk pintu rumah Gibran. Gibran pun membukakan pintu dan terdengar suara seseorang yang membuat Nara langsung mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak Gibran. Maaf mengganggu waktu anda, kami dari pihak kepolisian ingin memastikan laporan dari Pak Rendi yang mengatakan bahwa anda membawa istrinya pergi tanpa ada ijin dari Pak Rendi."
DEG!