
Semenjak keegoisan Rendi itu, Nara jadi tidak bisa kuliah selama empat hari karena tidak mempunyai uang sama sekali. Ia sudah menghitung daftar ketidakhadirannya dan dirasa aman untuk tidak mengikuti perkuliahan tersebut, Nara harus bolos. Sedangkan Rendi masih menjalani kegiatannya seperti biasa. Dia selalu kerja di malam harinya untuk mendapatkan uang, namun itu hanya digunakan untuk dirinya sendiri. Sesekali ia berikan kepada Nara jika jumlahnya lebih dari 50.000 rupiah.
"Kamu nggak berangkat lagi, Sayang?" tanya Rendi yang sudah bersiap berangkat kuliah.
"Nggak dulu, aku nggak punya uang buat nitipin Syakila. Ibu aku juga bakal transfer tapi belum tahu kapan, soalnya ada kebutuhan lain di rumah yang harus ibu penuhi," ucap Nara yang berusaha tersenyum.
"Maaf ya, aku belum bisa kasih kamu buat nitipin Syakila, kebutuhanku di kampus lagi banyak banget soalnya," ucap Rendi sembari mengambil piring dan bersiap untuk menyantap nasi goreng yang sudah dimasak oleh Nara.
"Nggak papa. Aku ngerti kok. Lagian jadwalku juga aman-aman aja kok kalau nggak masuk kuliah." Nara tersenyum sembari duduk di sebelah Syakila yang sudah mulai belajar tengkurep.
"Kalau gitu, tolong kerjain tugasku ya? Kamu kan di rumah, daripada kamu nggak ngapa-ngapain, aku takut kamu bosan di rumah. Nanti siang aku belikan nasi padang buat kamu deh," ucap Rendi dengan penuh harap.
"Iya nanti aku kerjain. Eventnya berapa hari lagi sih? Udah sampai mana?" tanya Nara yang penasaran dengan kerja suaminya.
"Udah lumayan sih, semua fakultas udah dapat perwakilan buat rapat, dan mereka juga katanya udah nyiapin mau pentas apa aja. Aku tinggal ngurusin guest star dan panggungnya aja. Ternyata sebulan rasanya secepet ini." Rendi menikmati makanan yang dimasak oleh Nara.
"Ya udah, semangat ya!"
"Kamu nggak ikut pentas?" tanya Rendi.
"Nggak ah, aku mah bagian penikmat aja. Aku nggak bisa kalau harus berpartisipasi kaya gitu. Aku nggak pede, kamu tahu sendiri lah," ujar Nara sembari melipat pakaian milik Syakila.
Pembicaraan mereka pun terhenti sampai di situ, yang sebenarnya Rendi lebih khawatir jika berpapasan dengan Nara saat sedang bersama dengan Adel. Dia takut nama baiknya akan jelek.
"Oh iya, kalau ketemu aku, anggap aja kamu nggak kenal ya? Kemarin sempat heboh tuh, waktu pertama kali kamu kasih bunga ke aku waktu aku jadi ketua BEM. Semua jajaran BEM pada bahas itu tau." Rendi nampak tidak memikirkan Nara sama sekali.
"Iya, aku bakal pura-pura nggak tahu. Aku lupa kalau kita harus merahasiakan hubungan kita." Nara berusaha tersenyum dan sadar diri akan posisinya yang hanya istri rahasia. Meskipun mereka sudah sah secara agama dan negara.
"Makasih ya. Kamu perhatian banget sama aku, aku janji bakal berusaha buat balas semua kebaikan kamu. Aku bakal nafkahin kamu kalau aku udah kerja nanti," ucap Rendi dengan penuh semangat.
"Semangat ya, Sayang." Nara menyemangati suaminya dan tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Rendi pun membalas ucapan Nara dengan senyuman. Setelah sudah selesai siap-siap, Rendi pun pergi ke kampus dan meninggalkan Nara di kontrakan. Sebenarnya dia juga jadi melewatkan presentasi dan lain sebagainya, namun mau bagaimana lagi karena dia juga tidak bisa masuk kuliah jika Syakila tidak dititipkan.
Nara memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan mengurus Syakila, dan mengerjakan pekerjaan rumah, serta tugas kuliah Rendi. Dia jadi lebih mengerti mengapa Rendi pusing, karena memang tugasnya yang cukup susah.
Saat waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi dan di depan tv penuh dengan kertas yang berisikan kerjaan Nara, ada seseorang yang datang dan mengetuk pintu rumah Nara. Dengan cepat, Nara langsung berdiri dan membuka pintu tersebut. Ia melihat seseorang yang tentu saja dia kenal.
"Loh? Gibran? Kok kamu di sini?" tanya Nara dengan penasaran.
Dia sangat malu sekali saat Gibran menemui Nara, karena Nara masih menggunakan daster dan nampak wajahnya kucel.
"Kamu kenapa nggak masuk?" tanya Gibran yang langsung ingin tahu alasan mengapa Nara tidak pernah terlihat di kampus.
"Eh, eh. Duduk dulu sini. Aku juga udah lama nggak cerita sama kamu. Nanti aku jelasin deh." Nara membukakan pintu dan membiarkan Gibran masuk ke rumah, lalu membereskan beberapa kertas yang sampai ke lantai. "Maaf ya, rumahku berantakan banget."
"Santai aja. Nggak usah buat minuman juga. Aku bawa ini buat kamu," ucap Gibran sembari menunjukkan cup minuman yang berisikan teh hangat dan juga sarapan untuk Nara.
"Kamu kok jadi repot sih? Kalau main ke sini mah main aja, nggak usah bawa apa-apa," ucap Nara dengan sedikit malu.
"Jangan nolak rejeki deh. Sekarang kasih tahu kenapa kamu nggak masuk. Kamu sakit?" tanya Gibran yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Nara sembari memberikan bingkisan makanannya kepada Nara.
"Tapi kamu nggak kenapa-kenapa kan? Rendi tetap berangkat sedangkan kamu nggak?" Gibran menaikkan satu alisnya dan nampak kesal.
"Nggakpapa kok, aku baik-baik aja. Iya Rendi tetap berangkat, dia kan ketua BEM dan harus ngurusin event besok ini kan? Jadi dia harus berangkat, dia juga dapet uang dari bapaknya kok. Hasil kerjanya sendiri," ucap Nara.
Gibran menghela nafas panjang dan melontarkan pandangannya ke luar rumah karena dia duduk di depan pintu.
"Sini rekening kamu." Gibran langsung membuka ponselnya sembari meminta rekening Nara.
"Hah? Buat apa? Kamu nggak usah aneh-aneh deh. Aku besok juga bakal dapet transferan kok," tolak Nara dengan halus, karena dia tidak mau merepotkan orang lain.
"Bukan buat kamu, buat Syakila." Gibran menatap Nara dengan tatapan hangat dan berusaha meyakinkan Nara.
__ADS_1
"Nggak, nggak. Buat kamu aja, kamu juga pasti butuh duit lah. Jangan boros cuma buat hal yang nggak penting," ucap Nara masih menolak.
"Aku udah duga sih kamu nggak bakal mau." Gibran merogoh sakunya dan mengeluarkan amplop dan menaruhnya di bawah kasur Syakila.
"Gibran! Serius nggak usah!" Nara masih berusaha menolak.
"Itu buat Syakila. Kulihat pampersnya tinggal sedikit, kamu juga harus kuliah, kalau orang tuamu besok nggak transfer gimana? Kamu bisa pakai uang itu buat simpanan." Gibran seakan sudah bersiap untuk pergi lagi.
"Gibran, jangan gini. Aku nggak bisa balikinnya," ucap Nara yang merasa tidak enak hati.
"Aku nggak minta dibalikin. Kubilang ini buat Syakila. Terus, kamu juga kalau mau pakai boleh kok. Tapi, aku nggak mau kalau si Rendi sampai pakai uang ini!" ucap Gibran dengan penuh penekanan saat membahas soal Rendi.
Mata Nara langsung berkaca dan merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan temannya sendiri. Padahal dia sudah sering jahat sama Gibran tapi Gibran masih baik sama Nara.
"Makasih ya, Gibran. Maaf banget aku jadi ngerepotin kamu," ucap Nara dengan tidak enak hati.
"Jangan ngerasa gitu. Santai aja kok. Kamu harus lebih sayang sama diri kamu sendiri ya? Pokoknya itu uang buat kamu sama Syakila, pakai aja. Aku nggak bisa lama-lama karena aku juga salah satu panitia buat event besok," ucap Gibran dengan senyuman hangatnya itu dan berdiri bersiap meninggalkan kontrakan Nara.
Nara pun langsung menggendong Syakila dan mengantarkan Gibran keluar dari rumah.
"Hati-hati ya," ucap Nara di depan rumah sembari menggendong Syakila.
Gibran menatap Syakila dan mendekati Nara dengan perlahan, ia lalu memegang kepala Syakila dan mencium kening Syakila dengan lembut sembari menatap bayi itu dengan senyuman tulus dan penuh kasih sayang.
"Semangat ya, Nak."
Nara yang melihat hal itu langsung terharu dan merasa bahwa Gibran lebih menyayangi Syakila dari pada Rendi. Pria itu pun langsung naik motor dan melambaikan tangannya ke arah Nara, lalu pergi dari kontrakan Nara.
Nara pun penasaran dengan uang yang diberikan oleh Gibran. Dia mengambil amplop yang cukup tebal itu dan melihat isinya. Betapa terkejutnya Nara kala melihat jumlah uang yang ada di dalamnya. Berisikan uang seratus ribu sebanyak lima lembar.
"Astaga Gibran. Ini banyak banget, kamu kan bisa pakai buat diri kamu sendiri," gumam Nara.
__ADS_1
Syakila yang masih ada di dalam gendongan Nara langsung tersenyum dan membuat Nara juga ikut tersenyum.
"Rejeki buat kamu, Nak," ujar Nara kepada Syakila dengan senyuman.