
Satu minggu berlalu, di mana Nara jadi sering banyak di kontrakan karena perutnya sering terasa kram. Mereka juga sudah memiliki kontrakkan yang dekat dengan kampus, karena mereka masih memiliki waktu sekitar satu atau dua tahun lagi sampai wisuda.
Satu hari sebelum pernikahan, Nara diajak pulang ke Temanggung, karena mereka akan menikah di Temanggung, orang tua Nara masih belum percaya sepenuhnya dengan orang tua Rendi. Lebih baik dia menikahkan anaknya di kotanya sendiri, mengingat ada banyak kenalan ibu Nara yang bekerja PNS dan banyak relasi, jadi selama persyaratan lengkap, semua lekas selesai.
Malam harinya, ibunya Nara masuk ke kamar Nara untuk bicara, karena setelah sampai di rumah, Nara jarang keluar dari kamarnya.
“Nara, kamu kenapa?” tanya ibu.
“Tidak apa-apa, Bu. Maaf ya karena aku belum bisa jadi yang terbaik buat ibu,” ucap Nara dengan senyuman.
“Nggakpapa, Sayang. Ini semua sudah kehendak kamu, bukan? Kamu harus bisa menerima semua kenyataan ini dan menjalani semuanya dengan ikhlas ya?” Ibunya Nara mengusap kepala Nara dengan lembut.
“Iya, Bu.”
“Kamu yakin mau meneruskan pernikahan ini? Kalau kamu nggak mau nikah ya udah nggakpapa. Masih bisa dibatalin kok.” Nara tidak habis pikir jika ibunya akan bicara seperti itu.
“Ah … nggakpapa kok, Bu. Rendi juga sayang sama Nara, aku yakin dia pasti bakal bisa bikin hidupku bahagia,” ucap Nara dengan penuh rasa percaya diri. Padahal, tidak ada orang yang tahu soal takdir.
“Ibu tahu, di awal pasti akan sangat susah menjalani hidup yang seperti ini, namun, kamu harus kuat, karena ibu yakin semuanya bakal baik-baik aja. Kamu anak yang baik, anak yang sabar.”
Ibunya Nara masih tidak menyangka jika putrinya akan mengalami nasib seperti ini, meskipun ini adalah kesalahan putrinya, namun, sebagai ibu, ia merasa gagal dalam mendidik anaknya. Nara hanya tersenyum merespon perkataan ibunya itu. Ia tidak ingin terlihat sedih dan membuat ibunya menjadi ikut sedih. Jalani saja.
Setelah pembicaraan di malam sebelum pernikahan, keesokan harinya, Nara menunggu di rumah dengan dress putih yang sudah disediakan oleh kedua orang tua Nara. Mereka membelikan pakaian yang terbaik untuk anaknya, sebenarnya ada sedikit rasa iba terhadap anaknya, karena pada akhirnya mereka tidak bisa menjalankan resepsi seperti yang diharapkan oleh banyak orang. Ia menanti kedatangan keluarga Rendi, setelah itu baru mereka berdua akan pergi ke KUA.
__ADS_1
[Deg-degan?] Nara mengirimkan pesan kepada Rendi.
[Sedikit, aku sudah latihan mengucap ijab qabul semalam. Sepertinya kali ini akan sedikit susah karena aku gugup,] balas Rendi dalam pesan singkatnya itu.
[Semangat, Sayang!] Setidaknya, dengan memberikan semangat, perasaan Rendi akan jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Hingga mempelai pria pun sampai di rumah Nara, lalu mereka berdua pergi ke KUA bersama untuk melaksanakan ijab qabul di KUA. Di hari jum’at yang penuh berkah ini, pernikahan mereka diadakan dengan harapan pernikahan mereka akan baik-baik saja.
Meskipun Nara sama sekali tidak berucap apa-apa saat ijab qabul, namun, jantungnya ikut berdegup kencang kala Rendi mengucap nama Nara dalam ijab qabulnya.
Setelah usai pun, mereka langsung pulang ke rumah Nara dan para keluarga besar merayakan pernikahan kecil Nara dan Rendi berdua. Ada beberapa saudara jauh yang datang juga karena tahu kabarnya. Meskipun dengan pakaian dan tempat yang sederhana, bukan masalah lagi bagi Nara. Yang terpenting adalah mereka sudah sah. Acara pun selesai di sore hari, keluarga mempelai pria pun pulang ke Semarang, sedangkan Rendi tinggal di rumah Nara satu hari itu, besok mereka akan kembali ke Semarang dan sekalian pindah ke kontrakkan kecil yang memang sudah disewa oleh keluarga Rendi.
Seharian itu menjadi malam yang sangat melelahkan untuk mereka berdua. Karena sudah sah, mereka pun tidur di satu kamar dan kasur yang sama.
“Sedikit, aku sering banget kram perut. Mungkin capek juga.” Nara sedikit bersedih karena seharian ini ia merasa sangat lelah.
“Akhirnya kita udah sah menikah juga. Kita bakal hidup berdua, saat besok balik ke Semarang. Kamu nggak nyesel nikahin aku, kan?” Rendi mengeluarkan raut wajah yang menggemaskan.
“Nggak, Sayang. Semoga hubungan pernikahan kita akan baik-baik saja ya.” Nara pun membalas senyuman pria itu agar dia menjadi lebih tenang.
“Minggu depan juga udah mulai libur, kan? Selama 3 bulan, kamu fokus sama kehamilan kamu di rumah ya? Nanti kalau udah masuk kuliah, anak kita mau sama siapa, bisa kita pikirin ntar.”
Rendi mulai membahas perihal masa depan mereka berdua.
__ADS_1
“Iya, Sayang.” Nara nampak bahagia karena Rendi terlihat sedikit lebih dewasa. Pertama kalinya dalam hidup mereka, merasakan ketenangan saat tidur berdua di ranjang, tanpa perlu merasa takut ataupun was-was lagi.
****
Tibalah hari saat mereka kembali ke Semarang dan langsung melihat kontrakan mereka yang baru. Sebelum itu, Nara pergi untuk mengambil barang-barang di kontrakan yang lama dulu, mumpung semuanya sedang pulang kampung. Setelah selesai mengepak barang, mereka pun langsung menatanya di kontrakan yang baru. Meskipun awalnya kedua orang tua Nara nampak kurang setuju.
“Serius kalian mau tinggal di sini?” tanya ayahnya Nara.
“Iya, Pak. Kontrakan juga sudah di DP sama bapak saya. Ini boleh ditempatin, terus uang sisanya bisa ditransfer kok,” urai Rendi. Rumah yang mereka tempati sebenarnya berada di dalam perumahan yang cukup tenang, namun, rumahnya terlihat sangat kecil dan sempit. Ada dua kamar, satu ruang keluarga tanpa ada ruang tamu, kamar mandi, dan dapur pun berada di luar. Orang tua Nara sedikit tidak suka dengan rumah itu, namun, karena dekat dengan kampus dan sudah dibayar, jadi mau bagaimana lagi.
Mereka pun menata barang-barang di dalam rumah itu. Nara dan Rendi hanya menggunakan satu kamar yang dekat dengan halaman rumah saja, kamar satunya digunakan untuk gudang dan beberapa bahan makanan.
Setelah selesai beres-beres, kedua orang tua Nara yang hanya mengantarkan pun pulang ke Temanggung karena besok senin mereka harus bekerja.
“Kalian berdua sekarang sudah resmi jadi suami istri, untuk saat ini kalian tinggal di sini dulu nggak papa, hidup prihatin dulu karena memang ya keadaan kalian yang seperti ini juga. Jadi, kalian berdua harus saling membantu dalam urusan rumah tangga ya?” pinta ayahnya Nara sebelum pergi meninggalkan rumah kecil itu.
“Pesan ibu, kalian kalau ada masalah apa-apa, didiskusikan lebih dulu ya, karena kalian sudah berumah tangga dan nggak bisa memutuskan sepihak. Jadi, komunikasi tetap dijaga, ya.” Ibunya Nara juga berpesan untuk mereka berdua.
“Iya, Bu, Ayah.” Nara menjawab ucapan mereka berdua.
“Ya sudah, ibu sama ayah pulang dulu. Kalian baik-baik di sini ya. Besok ibu bakal usahain ke sini tiap bulan ya? Kamu jangan pulang dulu sampai anak kamu udah besar.” Kedua orang tua Nara berdiri dan Nara pun mencium kedua pipi mereka.
Ada rasa sedih kala Nara akan ditinggalkan di rumah itu, ia hanya takut jika dia tidak bisa mengatasi masalah di dalam rumah tangganya itu. Bahkan mata ayahnya Nara juga berkaca-kaca saat ia akan meninggalkan putrinya bersama dengan pria pilihannya.
__ADS_1
Mereka pun pergi dari rumah Nara, dan kini hanya ada Rendi dan Nara di rumah itu. Mereka kini hidup berdua, dan perjalanan rumah tangga mereka pun dimulai dari sini.