Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Terkenang di Hati


__ADS_3

Malam semakin larut dan Nara justru tidak bisa tidur karena gugup. Ini memang bukan pertama kalinya Nara satu atap berdua dengan Gibran, namun, kali ini ia justru merasa sangat gugup saat Gibran berada di sebelahnya. Apakah karena kebetulan saja, atau memang karena ada rasa cinta di antara mereka berdua yang membuat Nara semakin gugup saat berada di dekat Gibran.


Hari itu, entah mengapa juga Nara meminta Gibran untuk tetap tinggal di sana. Padahal biasanya dia juga bisa tidur sendiri.


Saat jam menunjukkan pukul 11 malam, Nara yang sudah berada di kamarnya kembali keluar untuk melihat apakah Gibran sudah tidur atau belum.


Ternyata pria itu masih duduk di ruang tamu sembari melihat laptopnya.


"Nara? Kenapa belum tidur?" tanya Gibran.


"A–aku nggak bisa tidur nih. Kamu juga kenapa belum tidur? Masih ngerjain apa?" Nara pun penasaran dengan apa yang dikerjakan oleh pria itu.


"Oh, aku masih ngerjain skripsi. Tinggal sedikit lagi sih," ujar Gibran.


Nara yang penasaran pun langsung ikut duduk di sebelah Gibran dan membantu Gibran untuk memberikan beberapa referensi jurnal yang bisa ia gunakan.


Saat Nara sedang menjelaskan, Gibran pun melihat ke arah Nara terus menerus. Ia melihat wajah Nara yang nampak cantik di mata Gibran, dalam hatinya, ia ingin sekali memiliki wanita yang ada di hadapannya itu.


"Nara...," panggil Gibran dengan lembut hingga membuat Nara melihat ke arah pria itu.


Dengan cepat, Gibran mendekatkan wajahnya ke arah wajah wanita itu hingga bibir mereka bersentuhan.

__ADS_1


Awalnya Gibran dan Nara tak bergeming sama sekali, Nara pun membelalakkan matanya saat Gibran benar-benar ******* bibir Nara dengan lembut. Mata pria itu terpejam hingga membuat Nara juga terpejam, merasakan sentuhan lembut yang selama ini tidak pernah ia rasakan.


Jika diingat-ingat, sudah lama sekali Nara tidak melakukan hal seperti ini dengan Rendi.


Keduanya saling menikmati apa yang sedang mereka rasakan saat ini, nafas Gibran juga memburu dan merasa sangat bahagia


Hingga Gibran perlahan menjauhkan wajahnya dari wajah Nara, membuat Nara membuka matanya dan seakan tidak ingin berhenti.


"Aku sayang banget sama kamu, Nara." Gibran mengusap pipi Nara dengan sangat lembut hingga Nara pun bisa merasakan ketulusan dari pria itu.


Perlahan, Gibran mendorong tubuh Nara dan menyanggah kepala Nara agar tidak terbentur terlalu keras di sofa.


Wajah Gibran kembali mendekat dan bibir mereka kembali saling bersentuhan, kali ini mereka berdua menikmati hasrat tersebut. Nara merasakan cinta hebat yang diberikan oleh Gibran, beda saat Rendi melakukan itu kepada Nara, rasanya hanya sebatas nafsu saja, namun, Gibran tidak seperti itu.


"Gibran? Kamu kenapa?" tanya Nara di sela-sela mereka saat sedang terhenti.


"Aku pingin miliki kamu seutuhnya. Rasa cintaku ke kamu sama sekali nggak pudar dari dulu sampai sekarang. Lalu, sekarang aku merasa bahwa aku memiliki hak di mana aku harus melindungi kamu." Gibran mengusap rambut Nara dengan lembut.


Wanita mana yang tidak salah tingkah saat ada pria yang berkata seperti itu kepada dirinya, apalagi hubungan mereka sudah berlangsung cukup lama, namun tidak bisa lebih dekat lagi karena Nara milik Rendi. Sekarang, sudah saatnya Gibran melindungi wanita itu.


Gibran pun kembali ******* bibir wanita itu hingga terasa nafas pria itu semakin memburu dan terasa hangat.

__ADS_1


Nara merasa mereka sudah terlalu jauh, ia takut Gibran menjadi pria rusak karena Nara.


Hingga Gibran pun menjauh dari wajah Nara dan terlihat Gibran sedikit salah tingkah. Nara pun berhasil luluh dan mengusap pipi Gibran dengan lembut.


"Maaf, Nara, aku sangat menginginkanmu.," batin Gibran dengan penuh rasa yang menggebu-gebu.


Nara hanya tersenyum saat Gibran berucap seperti itu, apalagi dia sebenarnya juga memiliki rasa kepada Gibran.


"Tidur ya? Udah malem, aku nggak mau kamu kecapekan," ajak Nara yang berusaha menghentikan pria itu sebelum beranjak lebih jauh lagi.


Gibran yang menyadari apa yang ia lakukan pun langsung duduk dan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Maaf ya, Nara. Aku jadi nggak enak."


"Nggakpapa, nggak ada yang salah kok. Kamu ngerjain besok aja lagi, malam ini istirahat aja dulu."


Gibran pun mengikuti apa yang diucapkan oleh Nara, Nara menarik tangan Gibran dan mengikuti wanita itu ke kamar. Mereka berdua pun tidur di satu ruangan yang sama, hanya saja Gibran tidur di kasur bawah, dan Nara di kasur atas bersama dengan Syakila.


Saat Nara benar-benar terpejam, Gibran pun masih memikirkan hal yang membuatnya malu tadi.


"Aduh, sabar Gibran. Kamu belum sah sama Nara, jangan lebih dari itu!" batin Gibran sembari malu dengan sikapnya barusan.

__ADS_1


__ADS_2