
Setelah menemui Tia, Nara pergi menjemput Syakila, diantar oleh Tia dan juga Gibran. Sebelum itu, mereka berhenti di gazebo lebih dulu untuk menenangkan Nara yang sudah telanjur tahu segalanya.
"Nara, kamu baik-baik aja?" tanya Tia yang khawatir dengan sahabatanya itu.
"Sekarang, aku harus gimana?" tanya Nara sembari duduk dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Hati dan perasaannya hancur, dia juga bingung harus bagaimana, haruskah dia pulang ke rumahnya untuk menyendiri sejenak? Atau dia harus bicara kepada kedua orang tuanya? Atau bagaimana?
"Sorry, aku nggak tahu kalau acaranya bakal kaya gini," tutur Rendi yang ada di sebelah kanan Nara.
"Terus, sebenernya kita udah tahu kalau si Rendi itu selingkuh," ucap Tia yang baru membuka sekarang. Nara langsung melihat ke arah Tia dan tidak menyangka.
"Apa? Kenapa kamu baru cerita sekarang? Kenapa kamu nggak cerita dari kemarin-kemarin?" Nara merasa sudah lelah dengan ketidaktahuan yang selama ini terjadi di sekitarnya.
"Gue nggak mau hal itu jadi beban pikiran lo. Gue sayang banget sama lo dan nggak mau sampai lo hancur. Gue juga bingung gimana bilangnya, nggak tega." Tia membendung air matanya.
Nara yang mendengar hal itu langsung menyisir rambutnya ke belakang dan menghela nafas panjang. Setiap helaan nafasnya pasti ada saja air mata yang akan keluar.
"Kamu juga tau, Gibran?" Nara melihat ke arah kanannya.
Gibran pun menganggukkan kepalanya dan seperti merasa bersalah. Dia juga tidak tahu jika Nara akan mengetahui dengan cara seperti ini.
"Terus sekarang aku harus gimana? Apa yang bakal aku omongin nanti kalau dia pulang ke rumah? Kenapa mereka jahat banget sih, Rendi juga. Aku berusaha percaya sama dia tapi ternyata ujungnya kaya gini." Nara mengusap air mata yang mengalir di pipinya setiap dia bicara. Air mata itu keluar bersama dengan rasa sakit yang selama ini dia rasakan, ia juga berusaha untuk memutar waktu kembali dan mengingat seluruh alasan Rendi yang ternyata hanya digunakan untuk selingkuh saja.
"Maaf, Nara." Tia juga menangis karena merasakan rasa sakit wanita itu dan sekaligus merasa bersalah.
__ADS_1
Sedangkan Gibran masih merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh suami Nara itu.
"Cowok sialan," umpat Gibran.
"Jujur aku nggak tahu banget sekarang harus gimana. Kalau aku pulang, udah pasti kita bertengkar." Nara berusaha untuk menyeka air matanya.
"Kamu mau bicara sama dia atau nggak?" tanya Gibran.
Mendengar pertanyaan itu, Nara semakin bingung. Ada banyak hal yang ia pertimbangkan, apalagi sudah ada Syakila di antara mereka berdua. Jika kembali, Nara takut Rendi akan mengulang kesalahan yang sama. Namun, jika dia tidak mencoba untuk bicara dan perbaiki semuanya, Syakila yang akan menjadi korban perceraian mereka.
"Menurut kalian, aku harus gimana?" Nara pun meminta pendapat karena tidak bisa berpikir jernih.
"Kalau kamu masih sayang sama Rendi dan mau tahu alasan dia melakukan itu, kamu harus bicara baik-baik sama Rendi. Tapi resikonya ya, mungkin bakal ada rasa awkward untuk beberapa saat kalau kamu udah denger alasannya." Gibran mulai bicara dan memberikan beberapa pendapat yang sekiranya bisa diterima oleh Nara.
"Lo gila? Nanti Nara bakal balik sama si cowok brengsek itu dong?!" protes Tia.
Mereka pun terdiam beberapa saat setelah mendengarkan ucapan Gibran yang memang benar adanya. Pernikahan Nara dan Rendi baru seumur jagung, bukankah cukup miris jika mereka harus bercerai?
Nara berpikir sejenak, dia masih mencintai suaminya itu dan ingin tahu alasan mengapa dia harus selingkuh. Apakah karena kesalahan Nara? Atau karena hal lain yang tidak Nara ketahui? Lalu, sudah sampai mana hubungan mereka?
"Gue udah bilang dari dulu sama lo kalau Rendi itu bukan cowo baik-baik. Lo juga sekarang posisinya adalah istri rahasia dia, yang nggak bakalan bisa dipublish juga hubungan kalian entah sampai kapan. Apalagi lo pasti mikirin beasiswa dan jabatan Rendi banget kan?" ujar Tia yang sudah mengerti jalan pikiran Nara.
"Iya, aku ada di posisi serba salah," ujar Nara.
__ADS_1
Mereka pun terdiam lagi, memikirkan apa yang harus Nara lakukan saat ini. Mereka juga tidak tega kalau sampai Nara harus pulang dan berdebat dengan pria tidak punya hati itu.
"Gini aja, lo tinggal di kontrakan gue aja dulu sama Syakila. Sampai kira-kira lo udah siap buat bicara sama Rendi," ucap Tia memberikan solusi.
"Jangan, kalau Syakila nangis, aku ngerasa bersalah. Aku nggak mau ganggu kenyamanan kontrakan kamu. Nanti orang-orang di sana juga pasti bakal kepo," ucap Nara.
Sebenarnya, Gibran memikirkan sesuatu dan sepertinya cukup untuk memberikan solusi kepada Nara. Namun, dia masih tidak ingin menunjukkan kuasanya, dia takut jika teman-temannya akan menjauhi setelah tahu status Gibran sebenarnya.
"Aku pulang aja deh," ujar Nara dengan pasrah. Tentunya mendengar hal itu membuat Gibran dan Tia sama-sama melihat ke arah Nara.
"Kamu yakin?" tanya Gibran.
"Iya, sepertinya itu yang terbaik saat ini. Aku juga harus tahu kenapa dia melakukan itu, kalau dia udah nggak bisa diajak kerja sama, dalam artian lebih milih selingkuhannya, aku bakal ceraikan dia." Nara memberikan pernyataan yang cukup berat untuk dirinya sendiri.
"Lo serius mau kasih cowok itu kesempatan sekali lagi? Ada gila-gilanya ya!" kejut Tia.
"Iya mau gimana lagi? Kalau masih pacaran mungkin oke lah, aku bisa langsung putus. Tapi ini udah jenjang pernikahan, dan beda sama pacaran. Siapa tahu masih ada yang bisa kuperbaiki," ujar Nara dengan percaya diri.
Pernyataan Nara membuat temannya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Keputusan tetap ada di Nara, meskipun mereka tidak setuju dengan keputusan konyol seperti itu.
"Ya udah kalau itu mau kamu, bisa nggak kasih tahu hasilnya ke kita? Aku pengen tahu banget kenapa dia sampai kaya gitu. Aku sering banget mergokin Gibran sama Adel, tapi nggak pernah tahu alasannya. Kalau itu yang terbaik menurut kamu, aku harap kamu bisa kuat waktu Rendi pulang nanti." Gibran mengusap kepala Nara dengan lembut dan Tia melihat hal itu. Ada rasa cemburu saat Gibran melakukan itu, namun, dia hanya diam saja dan membiarkan itu terjadi.
"Iya, aku bakal kasih tahu kalian nanti hasilnya kaya apa. Maaf ya, aku ngerepotin kalian dan nambah beban pikiran kalian." Nara merasa bersalah kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Lo nggak ngerepotin, pokoknya gue bakal nemenin lo apapun yang terjadi." Tia merangkul sahabatnya itu dan tersenyum kepada Nara.
"Yang kuat ya." Gibran juga memberikan semangat kepada Nara sembari tersenyum ke arah wanita itu. Nara pun ikut tersenyum, meskipun sebenarnya rasa sakit hatinya itu masih ada, dan sepertinya akan melekat terus menerus di hatinya.