Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Moment Haru


__ADS_3

Rendi menatap Nara dan akan mengusap pipinya dengan lembut, namun karena trauma


besarnya, Nara reflek menghindar dan membuat Rendi sedikit terkejut. Hingga ia sadar bahwa


ini semua adalah kesalahannya.


“Maaf ya,” ujar Rendi yang pada akhirnya berhasil menyentuh pipi istrinya.


“Kenapa?” tanya Nara yang sebenarnya jantungnya sudah berdebar sangat kencang dan merasa sedikit takut.


“Aku memberikan pengalaman pernikahan yang buruk buat kamu ya?” tanya Rendi.


Sedangkan Nara hanya diam saja dan air matanya langsung terbendug kala dirasa pria itu bisa mengerti perasaan Nara. Wanita itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis dan masih berusaha untuk menenangkan dirinya.


“Nggak usah dipikirin, kamu sembuh dulu aja. Kalau kamu nggak sembuh-sembuh nanti kamu sendiri yang keteteran, tugas kamu banyak kan?” ujar Nara yang berusaha menahan air


matanya sembari menarik selimut Rendi.


Bahunya terluka karena pukulan yang diberikan oleh Evi. Nara pun jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


“Jadi … apa yang terjadi dengan kamu dan Evi Apa yang dia bicarakan?” tanya Nara yang


sangat penasaran.


Di situ, Rendi juga berusaha sebisa mungkin untuk menahan amarahnya, meskipun hatinya juga ternyata rasanya sangat sakit.


“Kamu memang sedeket itu sama Gibran ya?”


DEG!


Nara menduga bahwa Evi membicarakan hal yang cukup sensitif.


“Evi bilang apa sama kamu?” Nara mulai penasaran dengan apa yang terjadi.


Rendi pun menceritakan semua hal yang dia tahu, perihal perasaan Evi kepada Gibran yang


ternyata tidak diterima oleh Gibran karena pria itu menyukai Nara. Lalu, Evi juga tahu perihal


Rendi yang merupakan suami Nara karena mendengar percakapan Nara dan Gibran di pantai.


Nara makin terkejut mendengar hal itu, karena yang artinya semua ini adalah kesalahan Nara, dan seharusnya yang didatangi oleh Evi adalah Nara, bukannya Rendi. Ia hanya korban di sini.

__ADS_1


“Ahh …maafin aku ya,” ujar Nara yang sangat menyesali hal itu.


Tidak seharusnya dia bicara perihal dirinya dan Rendi saat berada di lingkungan yang tidak aman sama sekali.


“Nggak papa, hati-hati aja, habis ini mungkin dia bakal cari kamu.” Rendi memberi peringatan kepada Nara dan mengusap kepala Nara dengan lembut. Rendi tersenyum kepada istrinya dan merasa sangat sayang kepadanya. Namun, usapan itu bukanlah hal yang istimewa lagi untuk Nara. Apakah karena rasa sayang Nara yang mulai memudar?


Nara pun mengecek berita di kampus danbinstagran kampus mereka. Ternyata berita perihal


pernikahan Rendi sudah dihapus dan kini terganti oleh wajah Evi yang dianggap penjahat oleh


semua orang karena berani menyakiti ketua BEM sampai masuk ke rumah sakit. Beritanya menjadi heboh, dan berita yang disebar oleh Evi kini mulai mereda, bahkan sudah tidak


kelihatan lagi.


“Sepertinya kali ini kita aman,” ujar Nara sembari melihat berita kampus.


“Ahh … syukurlah. Harusnya hari ini aku bertemu dengan rektor karena kabar pernikahan kita, namun ternyata berita perihal aku yang ada di rumah sakit sudah menyebar lebih awal.” Rendi menatap ke langit-langit kamar rumah sakit dan merasa sangat lega.


“Maaf ya, aku bakal lebih hati-hati lagi.” Nara pun menggenggam tangan Rendi sebagai


permintaan maafnya.


“Soal aku dan Gibran. Aku dan dia memang sedekat itu, karena Gibran sebenarnya menyukaiku dan rela melakukan apa saja untuk mendapatkanku.” Nara membuka pembicaraan perihal Nara dan Gibran. “Tapi … aku masih milih kamu, Rendi. Aku masih sayang sama kamu makanya aku masih ada di sini buat ngerawat kamu. Aku masih pingin pernikahan kita bertahan


lama. Bagiku, pernikahan itu adalah sebuah hal yang sangat sakral. Tapi aku bahkan tidak


merasakan apa-apa lagi saat kamu berhasil membuat hatiku hancur berkeping-keping.” Nara berbicara sembari menitihkan air matanya.


Rendi yang melihat hal itu pun langsung merasa iba dan sedikit tergerak hatinya. Rendi


langsung mengusap lembut pipi Nara dan menghapus air mata istrinya itu.


“Maaf ya, mungkin aku masih belum cukup dewasa untuk menjalani semua ini. Aku masih banyak kurangnya, apalagi sering banget kebawa emosi dan banyak bikin masalah di dalam rumah tangga kita. Aku juga terlalu serakah sampai tidak pernah bisa merasa puas, hingga


tanpa kusadari, aku sudah menyakiti perasaan kamu. Maaf ya.” Perasaan Rendi kali ini


benar-benar tulus, bahkan air mata juga terbendung di matanya. Mereka berdua kini berada


dalam situasi haru yang membuat hati dan perasaan mereka langsung luluh satu sama lain.


Tidak ada argumen yang membuat mereka sakit hati, ataupun suara tinggi dan rasa takut akan pukulan. Begitu tenang, dan juga mengharukan.

__ADS_1


“Kalau ditanya aku sayang sama kamu atau nggak, di bibirku aku bisa jawab kalau aku nggak sayang sama kamu Rendi. Tapi hati aku nggak bisa bohong, karena kita pacaran dah lama banget, bahkan sampai kamu bisa jadi ketua BEM karena kita perjuangan kita berdua. Aku


selalu ingat waktu kamu ngerjain tugas sampai tidur, ngapalin pidato sampai malam, pulang


kampus juga malam dan dengan kita ketemu semua jadi baik-baik saja. Kenangan seperti itu


yang membuatku nggak bisa lepasin kamu, Rendi.” Nara sudah jauh lebih tenang, namun


terkadang air mata masih membanjiri pipinya. Ia juga berusaha menceritakan kenangan indah itu dengan senyuman.


“Iya sayang. Aku inget banget kok. Kamu selalu berjuang dan ngorbanin apapun buat aku.


Maafin aku karena udah egois sama kamu ya? Aku juga sebenernya sayang sama kamu kok,


cuma akunya aja yang masih kurang bersyukur dan selalu menyalahkan keadaan.” Rendi


semakin merasa bersalah.


Suasana pun sudah kembali tenang, Rendi dan Nara juga merasa sangat lelah karena hal tersebut. Nara pun memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan meminta Rendi


untuk tidur.


“Ya udah, kamu istirahat ya? Ibu sama bapak kamu bikin kamu nggak bisa dijenguk sama siapapun, karena aku bakal jagain kamu selama kamu ada di rumah sakit. Orang-orang bisa


makin penasaran sama aku kalau bapak kamu ngebiarin kamu dijenguk oleh beberapa


teman-teman kamu. Selain itu, biar kamu istirahat juga,” jelas Nara.


“Iya, terima kasih ya.” Rendi pun tersenyum dan bersiap untuk tidur.


Nara juga membalas senyuman Rendi dan bersiap ke sofa untuk kembali menyelesaikan tugasnya lalu tertidur.


Beban berat yang ada di hatinya sudah langsung terasa ringan saat semua berhasil di utarakan


di hadapan Rendi secara langsung.


Ia hanya bisa berharap bahwa pernikahan mereka selamanya akan baik-baik saja, dan sudah


tidak ada air mata kesedihan lagi diantara mereka berdua. Karena Nara sangat lelah dengan


semua ini dan menginginkan kehidupan normal dan juga pernikahan yang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2