
"Emang kenapa, Bu?" tanya Rendi yang memang tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Kalau habis melahirkan, harusnya pijit dong! Kalau nggak, kasihan nanti sama tubuh kamu. Astaga." Ibu mertua Nara terlihat khawatir dan sedikit kesal dengan suami, dan juga putranya itu.
"Pijit di mana, Bu? Aku nggak tahu di mana ada tempat begituan." Rendi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.
"Besok ibu carikan! Biar bapakmu yang antar ke rumahmu besok. Bisa-bisanya kok nggak langsung dipijit, gimana sih," gerutu ibu mertua Nara sembari menyerahkan cucunya ke pada Nara dan langsung pergi ke depan lagi.
Acara pun hampir selesai, terlihat mereka sedang disuguhi makanan, dan saat Nara sedang makan, kedua mertuanya datang menghampiri Nara.
"Pak, Nara itu harus pijit lho, mosok satu bulan dia nggak dipijit, kaya apa sakitnya. Kalian berdua para pria kok sama sekali nggak peka sih? Terutama kamu, Rendi. Beruntung istri kamu nggak pernah marah sama kamu dan selalu sabar menghadapi kamu, padahal dia sendiri menahan rasa sakit yang luar biasa. Pokoknya, ibu nggak mau tahu, besok Nara harus dipijat! Anak orang udah dititipin ke kita, bukannya dirawat baik-baik malah disia-siakan," ujar ibu mertua Nara yang nampak menggebu-gebu dan marah kepada suami, juga anaknya.
Nara pun juga baru tahu, jika setelah lahiran dia harus pijit. Ia mengira sakit punggung yang ia rasakan setiap hari, merupakan sebuah konsekuensi dari kelahiran putrinya itu.
"Iya, ibu jangan marah-marah dong. Masih banyak orang ini nanti kedengeran," ucap bapak mertuanya Nara.
"Ya udah, pokoknya besok Nara harus pijit ya. Kasihan kamunya yang nanti sakit terus," ujar ibu mertuanya itu.
Dalam hatinya Nara, ada sedikit rasa bahagia dan ia juga merasa sangat diperhatikan oleh ibu mertuanya, hanya beliau lah yang peduli kepada Nara.
Setelah acara selesai, Nara menitipkan Syakila kepada ibu mertuanya, sedangkan Nara mencuci belasan piring yang tadi dipakai untuk acara syukuran. Baru kali ini ia lepas pengawasan dari anaknya, dan ternyata rasanya cukup melegakan.
Saat tante Irma ke belakang dan memberikan piring kotor kepada Nara, ia mendekati Irma dan mulai bicara dengan Nara.
"Jangan kelamaan dikasihkan ke ibu mertua, kamu harus bisa merawat anak kamu sendiri, jangan nyusahin deh jadi orang." Wanita itu nampak sedikit kesal dengan Nara.
__ADS_1
"Ibuku mau merawat Syakila, kenapa bulik yang sewot sih?" Nara yang merasa sudah muak dengan perkataan wanita itu pun langsung spontan menjawab ucapan yang memojokkan itu.
"Kamu mulai berani?" Tantenya langsung sedikit terkejut.
"Bulik yang mulai duluan, tidak bisakah sehari saja bulik berhenti ngurusin urusan orang lain? Urus dulu kehidupan bulik sendiri!" hardik Nara yang sudah telanjur kesal dengan tantenya sendiri.
"Mentang-mentang ada yang belain kamu, kamu jadi sombong ya? Kamu bisa nikah juga karena restu siapa? Mikir?!" Tante Irma masih terus mengeluarkan kata-katanya yang pedas itu.
"Terserah bulik saja. Nggak penting buat saya."
Nara langsung mengeraskan suara air, dan melanjutkan mencuci piring.
"Lihat aja, nggak bakal ada orang yang suka sama kamu kalau kamu terus menerus begitu!" ucapan Tante Irma semakin keras. Namun, Nara hanya diam saja.
"Beraninya kamu menghancurkan keluarga kami yang selalu baik di mata semua orang! Beraninya kamu menghancurkan harapan dan juga mimpi keponakan bulik! Beraninya kamu masuk ke dalam hidup kami dengan membawa anak sialan itu!!" Ucapan yang terakhir di dengar oleh semua orang dan membuat Rendi berteriak.
"Bulik! Cukup sudah!" hardik Rendi.
Nara sedikit terkejut dan langsung mematikan kran airnya. Banyak keluarga inti Rendi yang berada di sana. Nara langsung menundukkan kepalanya dan merasa sangat bersalah. Ia yang menyebabkan semua ini terjadi.
"Irma! Sikapmu itu sudah keterlaluan kepada menantuku. Di sini Nara sudah berusaha menjadi menantu yang baik. Kenapa kamu selalu tidak suka dengan Nara? Dia itu anak baik-baik!" ucap bapak mertua Nara yang membela Nara.
"Nggak sadar kah kalian? Sebelum wanita ini datang ke hidup kita, semuanya baik-baik saja loh! Setelah dia datang, semuanya jadi kacau! Hidup Rendi juga berantakan gara-gara dia! Keluarga kita juga harus menanggung malu atas sikap mereka berdua!" ucap Irma yang mengutarakan semuanya.
"Bukan berarti mereka membawa sial, mereka mengajarkan kita bahwa kita harus lebih hati-hati terhadap anak kita semua. Kau menganggap Rendi adalah anakmu, aku tidak masalah, tapi aku tidak mau sampai kau merendahkan orang pilihan Rendi! Istri Rendi, anakku juga!" hardik ayah mertuanya.
__ADS_1
Rendi langsung mendekati Nara dan memegang tangan wanita itu.
"Bulik jangan suka merendahkan orang lain, lihat diri bulik dulu. Bulik kalau bicara aja nggak pernah yang namanya nyenengin hati semua orang. Pasti selalu membuat hati orang lain sakit. Pikirkan lagi sikap bulik itu!" imbuh Rendi. "Kita pulang ya? Jangan didengerin yang kaya gitu. Kamu harus tetap stay waras." Rendi menggenggam tangan Nara dan mengajak Nara pulang.
Nara pun menganggukkan kepalanya dan mengambil Syakila dari gendongan ibu mertuanya.
"Maaf ya, Nara. Jangan didengerin kata-kata bulikmu. Kamu udah ngelakuin yang terbaik kok," lanjut ibu mertuanya sembari mengusap punggung Nara.
"Besok kamu pijit ya? Bapak punya kenalan, besok bapak bawain orangnya ke rumah kamu," pungkas sang ayah mertua.
"Terima kasih, Pak."
Mata Nara berkaca dan menganggukkan kepalanya. Kini, Syakila sudah berada dalam pelukan Nara dan segera pergi dari hadapan semua orang yang ada di sana.
"Ck! Dasar wanita kurang ajar! Demen banget cari muka!" gumam tantenya yang sama sekali tidak mempan jika dimarahi.
Nara langsung pergi dari hadapan keluarga besar Rendi, bahkan ia mencium punggung tangan keluarganya Rendi lebih dulu sebelum benar-benar pergi.
Baru kali ini dia dibela oleh banyak orang. Ia pun pulang bersama Rendi dan kembali ke kontrakannya. Rendi yang sedikit khawatir kepada Nara pun terus menerus melihat ke arah Nara saat berada di rumah.
"Kamu nggak papa?" tanya Rendi.
"Nggak papa kok. Kali ini, aku baik-baik saja. Keluarga kamu nggak sejahat yang aku pikirkan. Aku cuma frustasi karena omongan bulik kamu itu," jawab Nara sembari meletakkan Syakila di kasur.
"Syukurlah. Kamu hebat, Nara. Terima kasih banyak ya?" Rendi mengusap kepala Nara dengan lembut. Nara pun tersenyum saat mendapati perilaku seperti itu, sampai dia lupa jika dia berniat marah kepada Rendi karena foto-foto yang ia temukan di galeri milik Rendi.
__ADS_1