Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Pergi dengan Gibran


__ADS_3

"Mending kita nggak bicara di sini deh, bukannya terlalu keras kalau bicara di sini?" Nara terlihat was-was karena ada banyak orang di kampus dan mereka bicara soal privasi yang cukup rahasia.


Gibran yang terbawa suasana pun langsung berusaha untuk menghela nafas panjang dan menenangkan pikirannya. Mendengar soal rumah tangga Nara yang terdengar sangat menderita, membuat Gibran gelap mata dan ingin sekali membawa Nara pergi dari pernikahan toxic tersebut.


"Maaf ya, aku kebawa suasana. Ini masker kamu," ucap Gibran sembari memberikan masker itu kepada Nara lagi. Nara pun mengambil maskernya dan memaafkan sikap Gibran. "Ya udah, kalau mau ke sana, ke sana dulu aja. Nanti kalau udah, aku mau bicara boleh?" Pada akhirnya, Gibran memberikan waktu untuk Nara dan tidak terlalu mengekang wanita itu.


"Iya, nanti aku kabarin kalau udah selesai kok." Nara pun pergi menemui teman-temannya dan mencari tahu beberapa informasi soal KKN yang akan diadakan.


Gibran menyisir rambutnya dengan tangan dan menghela nafas panjang. Sepertinya dia terlalu berlebihan kepada Nara barusan. Ia terlalu kesal karena melihat ada luka lebam di pipi Nara. Mana mungkin karena kena meja, sudah pasti itu karena pukulan.


Hingga siang pun tiba, Nara benar-benar kembali menemui Gibran di parkiran.


"Mau ke mana kita?" tanya Nara yang penasaran.


"Aku perlu bicara sama kamu, tapi jangan di tempat ramai. Kalau di rumahku gimana? Kamu mau?" ajak Gibran.


"Rumahmu? Emang rumah kamu di sini?" Nara sedikit kebingungan.


"Ada yang di sekitar sini sih. Tapi Syakila dibawa ya? Aku kangen Syakila," pinta Gibran.


"Dih, curiga sama kamu jadinya," ucap Nara. Yang sebenarnya dia juga bahagia jika Gibran berucap seperti itu.


Nara pun menjemput Syakila lebih dulu dan langsung pergi ke rumah Gibran. Memang cukup jauh dari kampus dengan waktu tempuh 15 menit, namun, karena motor Gibran juga bagus, pasti dia biss berkendara dengan cepat juga. Saat membonceng Nara, Gibran nampak sangat berhati-hari sekali, menjaga kedua orang yang ada di belakang selalu aman.


Hingga sampailah di sebuah perumahan dan Gibran berhenti di sebuah rumah yang letaknya paling pojok di perumahan itu. Nara sangat kagum melihat rumah minimalis, namun mewah itu.


"Ini rumah kamu?" tanya Nara.


"Iya, masuk aja, di dalam nggak ada orang kok. Aku tinggal sendirian." Gibran masuk ke dalam rumah dan membukakan pintu untuk Nara.


Terlihat rumah itu sangat berbeda jauh dengan rumah milik Nara. Meskipun minimalis, namun terlihat sangat rapi dan design interiornya juga bagus. Ia bahkan tak bisa melepaskan pandangannya dari rumah itu. Hingga lambaian tangan Gibran ke wajah Nara membuat wanita itu sadar.

__ADS_1


"Heh, kenapa sih? Ayo masuk sini," ajak Gibran.


Nara pun langsung masuk ke rumah itu dan duduk di depan tv yang di situ juga terdapat kasur untuk satu orang.


"A–aku boleh taruh Syakila di sini?" tanya Nara.


"Boleh lah, taruh aja. Pundak kamu pasti pegal kan?" ucap Gibran dari arah dapur dan terlihat pria itu sedang membuat minuman.


Nara langsung meletakkan Syakila yang tertidur dan menyusul Gibran ke dapur.


"Aku bikinin susu buat kamu ya? Mau nyemil apa kamu? Suka nugget? Atau sosis?" Pria itu langsung menawarkan berbagai macam makanan saat tahu Nara menyusulnya ke dapur.


"Eh, nggak usah repot-repot. Aku cuma mau dengerin kamu bicara aja kok. Aku jadi nggak enak," ucap Nara.


"Santai aja, anggap aja rumah sendiri. Aku juga tinggal sendiri kok." Gibran tersenyum ramah kepada Nara.


Karena tidak ingin merepotkan, Nara pun membantu Gibran memasak camilan untuk mereka berdua, Gibran yang tadinya tak ingin dibantu pun akhirnya pasrah saja, mereka kini berada di dapur berdua.


Hingga makanan pun sudah jadi, dan mereka pun menyantapnya bersama. Syakila masih tertidur dengan sangat nyenyak, membuat Nara bisa bicara dengan Gibran sekarang.


"Jadi, kamu mau bicara apa?" tanya Nara.


Rendi menghela nafas panjang dan duduk di sebelah Nara.


"Aku masih bahas yang tadi, kenapa kamu nggak mau pisah sama Rendi?"


Nara berpikir sejenak, ia hanya tidak ingin Syakila merasakan tidak memiliki ayah di usia masih muda.


"Kasihan Syakila nggak sih? Dia harus merasakan hal begini di usia muda kalau aku cerai sama Rendi, terus, pernikahanku sama Rendi baru seusia jagung. Aku yakin Rendi bakal berubah kok." Nara masih berekspektasi terlalu tinggi.


"Cowok itu, kalau udah main tangan, dia nggak bakal bisa berubah. Kamu yakin mau gini terus?"

__ADS_1


Mendengar Gibran berkata seperti itu, tangan Nara bergetar hebat, dia langsung membayangkan bagaimana cara suaminya menyiksa dirinya dan terus menerus menekan Nara. Gibran melihat bagian pundak Nara, karena pakaian Nara yang terlalu besar dan Nara semakin kurus.


Gibran menghela nafas panjang dan tidak tega dengan wanita di sebelahnya yang masih merasa trauma itu. Gibran memegang tangan Nara dan menenangkan wanita itu.


"Kamu tinggal di sini dulu aja ya? Kamu sampai trauma gini." Ada air mata yang terbendung di mata Gibran dan masih berusaha ia tahan.


"Nggak bisa, aku takut dia semakin marah," ujar Nara dengan nada bicara yang gemetaran.


"Aku yang bakal ngadepin dia. Aku yang bakal ancam dia. Kamu harus berani juga buat lapor atau minimal lepasin dia, Nara. Dia nggak baik buat kamu," ucap Gibran dengan rasa iba.


Nara berusaha menenangkan pikirannya, dia ingin sekali mengiyakan ucapan Gibran, namun, dia sendiri takut akan konsekuensinya. Apa dia pantas mendapatkan kebaikan seperti ini?


"A–aku takut," ucap Nara.


"Nggakpapa, dari pada kamu menderita, ya?" Gibran bersikukuh meminta Nara untuk tinggal di rumahnya itu.


"Gi–gimana kalau dia ngadu ke polisi? Atau lakuin apa aja buat nyariin aku?" Nara masih berpikir dan tak ingin merepotkan Gibran. "Aku menghargai sikap kamu ini, tapi, boleh kasih aku waktu? Sebentar lagi kita bakal KKN kan? Aku sama Rendi nggak bakal ketemu selama 1 bulan lebih. Lalu, jika dia masih bersikap sama, aku akan meminta tolong padamu. Bagaimana?"


Gibran mendengar hal itu pun kembali berpikir dan menganggukkan kepalanya. Ide Nara cukup bagus juga, lagipula, tindakan Gibran juga sepertinya terlalu gegabah.


"Baiklah, tapi janji sama aku kalau kamu bakal pindah kalau Rendi jahatin kamu lagi ya?" pinta Gibran.


"Iya, Gibran. Terima kasih banyak ya. Kenapa kamu sebaik ini sama aku?" Nara menoleh ke arah Gibran dan ingin tahu jawabannya.


Gibran melihat ke arah tv, lalu tersenyum hangat. Ia lalu menoleh ke arah Nara dan mata mereka saling bertemu, hingga membuat jantung Nara berdegup dengan sangat kencang.


"Eh? Kenapa aku deg-degan? Sejak kapan dia seganteng itu!" Nara nampak salah tingkah dan berusaha memalingkan wajahnya.


Namun, Gibran menarik dagu Nara perlahan dan mengarahkan wajah wanita itu ke arahnya, Gibran langsung mendekatkan wajahnya ke arah Nara, hingga bibir mereka hanya berjarak beberapa inci saja.


"Eh? Eh? Serius mau lakuin ini? Heeeh?!"

__ADS_1


Meskipun pikiran dan hatinya bergejolak, entah mengapa, Nara tidak bisa mengelak. Sedangkan wajah Gibran semakin dekat. Nara yang merasa gugup sekaligus nyaman, menutup matanya dan membiarkan Gibran melakukan apa yang ingin dia lakukan.


__ADS_2