
Mendengar cerita dari Nara, Tia jadi makin emosi. Apalagi dia tahu jika Rendi sering sekali jalan bareng Adel di belakang Nara.
"Terus, habis ini kamu jemput anak kamu?" tanya Tia.
"Iya, habis ini aku jemput Syakila terus pulang ke rumah. Kamu mau ikut?" Nara menawarkan hal yang selama ini ia inginkan. Sudah lama sekali ia memendam perasaan sedih dan cemasnya itu.
"Kapan-kapan aku ke rumah kamu deh. Aku belum bisa sekarang, tugasnya banyak banget tau!" Tia menggaruk belakang kepalanya, lalu kembali duduk tegak dan melihat ke arah Nara. "Sekarang, kamu jangan pendam semuanya sendiri. Ada aku yang bakal dengerin cerita dan keluh kesah kamu. Kamu mau ke sini bawa Syakila juga nggakpapa kok!" ucap Tia yang berusaha untuk menenangkan Nara.
"Terima kasih, Tia. Aku takut banget mau cerita sama kamu. Soalnya aku takut kesebar dan bikin beasiswa Rendi dicabut." Nara menjelaskan situasinya.
"Kita udah dari semester satu loh! Masa iya perkara gini doang aku marah?" Tia mengusap tangan Nara dengan lembut.
Setelah bercerita banyak hal, mereka pun kembali ke kampus untuk menjalankan kuliah lagi. Perasaan Nara sudah jauh lebih baik, meskipun ia merasa mengalami gejala flu, setidaknya hatinya sudah jauh lebih baik.
Hingga Nara dan Tia pun berpisah, karena Tia masih akan menjalani kegiatan tambahan di kampusnya itu.
"Hati-hati baliknya. Ada duit kan?" Tia menanyakan hal yang selama ini tak pernah didengar oleh Nara.
"Ada kok, makasih ya. Aku balik dulu, bye..."
Nara pun pergi menjauhi Tia dan menjemput Syakila. Tia yang melihat kondisi Nara yang semakin kurus pun kini mulai mengerti, ternyata dia berjuang dengan sangat keras untuk membesarkan Syakila.
Tia menghela nafas panjang dan pergi ke gedung dekat rektorat. Namun, saat dia sampai di sana, betapa terkejutnya Tia saat melihat Rendi sedang berduaan bersama dengan Adel. Dia menggenggam tangan Adel dengan erat dan masuk ke dalam gedung rektorat.
"Loh? Rendi? Dia beneran sama si cewek gatel itu? Bisa-bisanya nggak bales chatnya Nara, malah mesra-mesraan sama cewek lain!" gumam Tia yang melihat dari balik dinding.
Melihat hal itu, jelas membuat Tia marah dan langsung berniat melabrak Rendi. Namun, tiba-tiba ditahan oleh seseorang.
"Mau ngapain heh!" halau seorang pria.
"Gibran? Kamu ngapain di sini?!" kejut Tia.
"Kamu yang ngapain? Mau nyamperin Rendi?" Gibran menarik wanita itu untuk bersembunyi di balik pilar.
__ADS_1
"Iyalah! Dia tu udah resmi jadi suami Nara! Kenapa semesra itu sama Adel? Nggak tahu apa Nara kesusahan sendiri!" geram Tia yang berusaha menjelaskan kepada Gibran.
"Iya aku ngerti. Aku paham banget perasaan kamu. Tapi bukan gini caranya! Ingat kan kalau Rendi ketahuan udah nikah, apa yang bakal terjadi sama dia dan Nara?" Gibran berusaha mencegah Tia.
"Tapi dia tuh ketua BEM loh! Panutan semua orang!" ucap Tia dengan perlahan.
"Iya aku ngerti."
"Masa iya ada ketua BEM ngehamilin cewek! Nggak tanggung jawab sama istri dan anaknya! Bahkan lebih milih main sama temen-temennya, cewek lain. Dia nggak mikirin perasaab istrinya?" Tia mulai semakin emosi, namun matanya berkaca.
Gibran menghela nafas panjang dan mengusap rambutnya perlahan ke belakang.
"Aku tahu kamu marah sama Rendi. Tapi jangan gini caranya. Adel itu bukan wanita sembarangan, dia berpengaruh di kampus ini dan juga banyak temen dia di kampus loh. Kalau sampai gosipnya nyebar, kasihan Nara nantinya. Dia pasti nggak bakal kuat ngadepinnya." Gibran memegang tangan Tia dan masih meminta Tia untuk bersabar.
"Terus aku harus gimana?! Masa iya aku harus diem aja pas lihat cowok itu jalan sama cewek lain?" Tia meminta pendapat kepada Gibran.
"Kita bicara sama Rendinya aja. Jangan waktu ada Adel atau anak-anak lain. Kita juga cari waktu yang tepat ya? Jangan sekarang. Bisa bahaya," urai Gibran.
"Astaga ... aku nggak nyangka si, ketua BEM kita sebegitu brengseknya. Mana aku kenal dia dengan baik pula." Tia nampak menyesali hal itu.
Mereka pun terdiam sejenak dan Tia menghela nafas panjang. Alhasil, dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Nara karena baru saja tahu. Namun, ia menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu ... kamu kok tahu kalau Nara udah nikah?" Tiba-tiba Tia menyadari hal yang sedari tadi mereka bahas.
"Tahu lah! Nara juga sering cerita sama aku. Waktu lahiran juga dia sempat minta tolong aku karena Rendi pergi." Gibran menjelaskan semuanya.
"Serius? Lama banget dong! Jadi, lo udah lama tau?!" Tia mengambil kesimpulan atas ucapan Gibran itu.
"Iya."
"Kenapa kamu nggak bilang aku sih?! Gila kamu ngebiarin Nara sembunyiin sendiri!" Tia nampak kesal dengan Gibran.
"Itu karena Nara yang memintaku untuk tidak memberitahukan kepadamu. Dia nggak mau kehilangan kamu, tahu!" Gibran melipat kedua tangannya dan melihat ke arah lain.
__ADS_1
"Kalian berdua sedeket itu ya?" Tia tiba-tiba menjadi murung. Gibran mengangkat satu alisnya dan tidak mengerti dengan ucapan Tia barusan.
"Emang kenapa?"
Tiba-tiba, Tia jadi malu-malu dan seakan ingin mengungkap sesuatu. Gibran melihat ke arah wajah Tia yang tersipu malu.
"Kenapa?"
"Aku beneran suka sama kamu, Gibran."
Deg!
Tiba-tiba Tia mengutarakan perasaannya dan membuat Gibran sedikit terkejut dan tidak menyangka. Selama ini, hubungannya dengan Tia hanya sebatas teman Nara saja. Tidak ada perasaan lebih, sedangkan Gibran jelas tidak bisa menerima Tia karena dia menyukai Nara.
"Jangan gitu deh. Aku ini masih nggak bisa move on dari satu cewek loh. Mending kamu cari yang lain dari pada sakit hati." Gibran mengusap kepala Tia dengan perlahan.
Mendengar tolakan halus itu, Tia sedikit sedih. Namun, dia tidak menyerah dan akan berusaha mendapatkan pria itu.
"Dah ya! Aku harus pergi! Kamu jangan gegabah kalau lihat mereka lagi. Pikirkan hidup Nara dan Syakila juga."
Gibran pun berlari pergi meninggalkan Tia karena dia tidak ingin pembicaraan mereka jadi lebih jauh lagi dan harus membahas soal perasaan.
"Aku bisa dapetin Gibran nggak ya? Kayaknya dia nggak tertarik sama sekali sih sama aku. Padahal aku tertarik sama Gibran, karena dia baik banget." Tia bergumam sembari melihat punggung pria itu dan semakin menjauh dari hadapan Tia.
Tia pun pergi ke sebelah gedung rektorat. Ada baiknya dia tidak bertemu dengan Rendi dulu karena dia pasti tidak bisa menahan amarahnya itu. Di sebelah gedung rektorat, ada perpustakaan kampus yang memang sangat besar dan sering dikunjungi.
Wanita itu berjalan menyusuri buku-buku yang tertata rapi di rak buku. Membuat Tia begitu antusias memilih buku yang akan ia pilih.
Namun, saat ia tengah berjalan di lorong rak tanpa melihat ke depan, ia ternyata menabrak seseorang dan membuatnya terjatuh karena tabrakan.
BRUK!
"Aduh!" ujar Tia.
__ADS_1
Tia pun langsung melihat ke arah di mana orang itu menabraknya. Namun, betapa terkejutnya Tia saat yang ia tabrak barusan adalah suami Nara.
"Loh?! Tia? Lo ngapain di sini!!"