Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Setelah pergi makan bersama Gibran dan Syakila, mereka pun langsung pulang. Gibran mengantarkan Nara pulang ke kontrakan lebih dulu sebelum ia pulang. Dengan beraninya Gibran mengantarkan Nara benar-benar sampai di depan kontrakan.


"Di rumah sendiri nggakpapa?" tanya Gibran.


"Nggak papa kok. Aku udah biasa sendiri, Rendi juga sebentar lagi pulang kok." Nara tersenyum sembari turun dari motor.


"Ya udah, aku balik ya?" Gibran pun ijin pamit kepada Nara dan langsung pergi dari hadapan Nara dengan senyuman. Nara masuk ke dalam rumah dan melihat Rendi ternyata belum pulang dari kampus. Ia sudah menduga hal itu, terkadang Rendi bilang akan pulang jam 4, namun nyatanya jam 5 baru sampai rumah. Atau bahkan jam 7 sampai rumah. Hal itu membuat Nara sedikit kesal sekaligus sedih.


Nara meletakkan Syakila di kasur bayinya dan Nara menghela nafas panjang, ia merasa sangat lelah karena seharian pergi bersama Syakila. Ternyata cukup berat jika harus pergi dengan Syakila. Namun, untungnya Gibran selalu membantu, apapun keadaan Nara dan Syakila.


Setelah benar-benar sampai di rumah, Nara membuka ponselnya dan melihat Rendi yang tidak membalas pesannya lagi. Nara berusaha untuk mengerti situasi dan kesibukan pria itu.


"Rendi tidak sehangat Gibran," gumam Nara.


****


Esok hari pun tiba, di mana Nara akan pulang ke rumahnya di Temanggung setelah berbulan-bulan tidak pulang ke rumahnya sendiri. Hal itu membuat Nara cukup bersemangat. Di jam 7 pagi, mereka bahkan sudah siap berangkat ke Temanggung. Begiitu pun dengan Rendi yang biasanya susah bangun, hari ini ia nampak mudah sekali dibangunkan.


"Ada yang ketinggalan nggak sebelum kita berangkat?" tanya Rendi sembari memasang helmnya.


"Susu, pampers, baju, bedak ... udah kok! Siap berangkat! Yeay!" Nara nampak bahagia sekali. Rendi pun tersenyum kala melihat istrinya itu bahagia betul dengan kepulangannya ke kampung.


Nara dan Rendi pun pulang ke Temanggung dengan hati yang riang. Nara sudah sejak pagi beres-beres rumah dan membuatnya cukup lelah, namun ada rasa bahagia juga.


Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke sana, apalagi dengan menggunakan motor. Sudah lama sekali Nara tidak pulang ke rumahnya dan perjalanan pulang itu benar-benar menjadi perjalanan yang menyenangkan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah mertua. Saat mendengar suara motor dari halaman rumah, orang tua Nara langsung menyambut mereka berdua dengan perasaan bahagia dan juga langsung mengajak Nara dan Rendi masuk ke dalam rumah.


"Alhamdulilah, akhirnya kalian sampai juga. Sini masuk dulu, istirahat dulu. Nak Rendi juga." Ibunya Nara langsung menyambut mereka dengan ramah.


Orang tua Nara tahu jika Rendi tidak bisa menginap, dan akan pulang di sore harinya. Orang tua Nara begitu perhatian kepada Rendi dan juga Nara. Bahkan menganggap Rendi benar-benar anak mereka sendiri tanpa memandang dia adalah menantu atau apapun itu. Saat makan siang, orang tua Nara menggendong Syakila agar Nara bisa makan dengan tenang. Ibunya Nara senang sekali saat menggendong cucu pertamanya itu.


"Nak Rendi, yakin mau pulang nanti? Nggak capek kah?" Ibunya Nara nampak khawatir.


"Iya, Bu. Tenang saja. Lagian Semarang sampai Temanggung deket kok, apalagi naik motor." Rendi masih nampak malu-malu kala berbicara dengan kedua orang tua Nara.


"Ya udah kalau gitu, nanti nggak usah ngebut-ngebut ya pulangnya."


"Iya, Bu."


Rendi tersenyum kala ia diperhatikan oleh kedua orang tuanya Nara.


Di dalam rumah, Nara sedang menikmati jam-jam bersama keluarganya. Saat itulah ibunya Nara menanyakan hubungan Nara.


"Kamu gimana sama Rendi? Baik-baik aja, kan?" tanya ibunya Nara.


"Iya, Bu. Aku sama Rendi baik-baik aja kok. Hidup kita jauh lebih baik malah sejak ibu bantu keuangan kami." Nara tersenyum sembari melihat ke arah ibunya itu.


Sebenarnya hubungan mereka sama sekali tidak baik-baik saja, karena selalu merasa sendiri dan Rendi sibuk dengan pekerjaannya itu. Padahal Nara butuh sekali ditemani dan dibantu, namun, suaminya itu hanya datang saat membutuhkan tubuh Nara saja. Nara berusaha untuk tetap berpikir positif meskipun sulit.


"Suami kamu nggak mau cari kerjaan kah?" tanya ibunya Nara membuka topik pembicaraan baru.

__ADS_1


"Mau kok, Bu. Cuma belum dapat kerjaan aja, emang kenapa?" tanya Nara yang mulai sadar bahwa ia dibawa ke pembicaraan yang begitu serius.


"Ibu takut nggak setiap minggu punya uang buat transfer kamu, Nara. Ibu khawatir kamu nggak bisa makan sama sekali," ucap ibunya Nara dengan penuh rasa cemas.


"Jangan khawatir, Bu. Orang tua Rendi selalu baik sama aku kok, bahkan selalu kasih aku uang, atau lauk buat makan. Jadi, ibu nggak perlu khawatir lagi." Nara berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya.


"Tapi Rendi harus tetap bekerja, Nak. Karena dia adalah kepala keluarga dan harus cari nafkah. Dia harus bisa menghidupi keluarganya sendiri. Ayah sama ibu belum tentu bisa bantuin kamu terus, Nak." Ayahnya Nara mulai bicara, dan Nara sempat khawatir.


"Iya, aku bakal bicarain ke Rendi kok. Ayah sama ibu tenang aja, nggak usah khawatir. Lagian Rendi udah berusaha cari kerja kok." Nara berdusta demi membuat mereka tidak khawatir lagi.


"Ya sudah. Pokoknya itu aja ya yang mau ibu bicarain ke kamu. Selanjutnya kamu harus bisa bicara dengan suami kamu. Karena itu demi kebahagiaan kamu sendiri." Ibunya Nara tersenyum dan mengusap kepala Nara dengan lembut.


Nara sedikit khawatir dengan pembicaraan dengan mereka berdua. Karena terlihat sangat serius sekali.


Sedangkan Rendi yang sudah sampai di Semarang terlihat tidak pulang ke rumah dan justru pergi ke sebuah cafe tempat biasa dia nongkrong. Sampai di sana, ia langsung menyemprotkan parfum dan menyisir rambutnya dan bersiap untuk menemui seseorang.


Rendi masuk ke dalam cafe dan terlihat seorang wanita berada di sana sedang duduk dengan anggunnya.


"Hai, Cantik," sapa Rendi kepada wanita itu.


"Hei! Aku pikir kamu nggak bakal dateng loh, aku chat kamu dari tadi tapi nggak dibales." Wanita itu nampak bahagia kala melihat Rendi datang.


"Dateng lah. Aku tadi lagi di jalan, makanya nggak balas pesan kamu. Kamu lama ya nunggu di sini?" Rendi sedikit merasa tidak enak dengan wanita itu.


"Santai aja sih. Aku juga nggak lama banget kok di sini. Pernyataan suka kamu aja aku tunggu, kalau cuma nunggu kamu mah gampang banget." Wanita itu menggoda Rendi.

__ADS_1


"Apaan sih kamu, Adel. Sengaja goda aku ya?" ucap pria itu dengan senyumannya.


Adel pun ikut tersenyum dan mereka berdua makan malam di cafe, setelah Rendi mengantarkan Nara pulang kampung.


__ADS_2