
“Kamu yakin bakal terima jawaban aku?” tanya Gibran untuk memastikan agar wanita itu tidak sakit hati apabila mendengar jawaban dari pria itu.
“Iya, aku bakal terima apapun jawaban kamu,” ucap Evi yang padahal jantungnya juga berdegup kencang saat ingin mendengar jawaban dari Gibran.
Gibran yang sedang duduk di depan Evi pun diam sejenak dan memikirkan harus bagaimana
dia mengungkapkannya, memang selama ini dia selalu ditemani oleh Evi kemanapun ia pergi,
dan ia juga dengan senang hati menemani teman KKNnya pergi, dia juga takut terjadi apa-apa kepada Evi, apalagi dia wanita.
Gibran mengusap kepala Evi dengan lembut, membuat Evi sedikit terkejut.
“Maaf ya, Evi. Aku juga suka sama kamu tapi sekedar teman KKN doang. Maaf ya aku nggak bilang dari awal kalau aku punya wanita yang kusuka, hanya belum bisa kudapatkan,” jawab Gibran.
Jawaban itu membuat Nara terkejut, entah dia harus bingung, senang, atau bagaimana, perasaannya kini campur aduk tidak karuan. Namun saat ini, yang jelas dia sangat bahagia. Nara bahkan sampai menutup mulutnya karena masih tidak menyangka hal ini terjadi, Nara kira Gibran akan menerima wanita itu, karena mereka juga sering bersama, Nara langsung
memikirkan perasaan Evi saat itu juga. Ternyata pembicaraan mereka belum selesai.
“Oh, iya nggakpapa kok. Aku juga tahu bakal kaya gini. Lagian aku juga terlalu berharap aja
sama kamu, aku juga seneng banget karena udah mengutarakan apa yang aku rasakan kok, seenggaknya aku jadi tahu perasaanku ini nggak terbalaskan dan aku jadi nggak berharap lagi,” ucap Evi yang matanya memerah karena air matanya terbendung.
“Maaf ya. Kamu cantik kok, aku yakin banyak cowok yang jauh lebih baik dari aku dan mau sama kamu.” Untuk menenangkan perasaan Evi, Gibran terus mengusap-usap rambut wanita
itu dengan lembut sembari tersenyum dengan hangat. Sebenarnya dia merasa bersalah karena sudah menyakiti Evi, tidak seharusnya dia memberikan harapan dengan mengajak jalan wanita
itu.
“Makasih, Gibran. Kamu baik banget, bahkan kamu tetep baik meskipun aku blak-blakkan kaya gini,” ucap Evi.
“Kamu yang baik banget, jangan canggung kalau mau minta bantuan ke aku ya, kita masih bisa
jadi temen kok. Jangan menjauh karena aku nolak kamu ya? Kamu mau ngajakin aku
kemanapun kamu mau juga aku masih mau kok.” Gibran masih berusaha menghibur wanita itu.
“Kalau boleh tahu, kamu lagi kejar siapa? Anak KKN juga?” tanya Evi yang kepo dengan wanita yang Gibran inginkan.
“Hmmm, dia satu kampus sama kita, aku nggak bakal sebut nama sih, dia juga satu jurusan sama aku. Dia itu baik banget, bahkan lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada orang lain,
aku sebenarnya udah nembak dia berkali-kali, tapi karena suatu alasan, dia juga nolak aku berkali-kali. Baru kemarin aku berjanji bakal melindungi dia apapun yang terjadi. Jadi, maaf ya aku harus nolak kamu begini,” urai Gibran.
Nara tahu betul jika Gibran sedang menjelaskan perihal sosok Nara. Gibran pasti tidak ingin
menyebut nama Nara karena pasti akan terjadi perpecahan di antara mereka berdua jika
__ADS_1
sampai Evi tahu.
Merasa Nara sudah terlalu jauh mendengarkan percakapan mereka, ia pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua dan menunggu Evi di ruang tv yang ada di belakang rumah.
Setidaknya, dia harus ada di sisi Evi di saat seperti itu. Pasti rasanya sakit jika ditolak seperti
itu.
Evi masih melanjutkan bicara dengan Gibran, sedangkan Nara menunggu di belakang dan merasa lega akan kekhawatirannya sedari tadi.
“Ternyata Gibran memang benar-benar menyukaiku ya?” batin Nara yang tak bisa berhenti
tersenyum dan merasa bahagia sedari tadi.
Hingga jam 11 malam, Evi baru masuk kamar dan melihat Nara sedang duduk di depan tv yang
ada di dekat kamar mereka. Dengan perasaan sedih, Evi langsung berlari ke arah Nara,
memeluk wanita itu, dan ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Nara. Nara yang sudah
mendengar semuanya hanya bisa mengusap punggung Evi dengan lembut.
“Nggakpapa, kamu bisa dapetin cowok yang lebih baik dari Gibran kok,” ujar Nara.
“Kok kamu tahu?!” tanya Evi.
“Lah, kan kamu nangis. Kalau diterima udah pasti kamu nggak bakal nangis dong? Nyatanya
kamu nangis tuh,” ucap Nara yang sudah menyiapkan jawaban sedari tadi.
Evi langsung kembali memeluk Nara dengan erat dan menangis lagi. Nara hanya bisa menenangkan wanita itu dengan mengusap kepalanya. Di satu sisi lain, Nara juga merasa bersalah kepada Evi karena Gibran menolak Evi yang sebenarnya karena Gibran sudah
menyukai Nara lebih dulu.
Malam itu, Evi banyak bercerita dengan Nara, menceritakan tentang apa yang sudah ia lalui selama ini, dan menceritakan soal kehidupan pribadinya juga. Mereka berdua juga jadi semakin dekat saat itu. Padahal mereka hanya dekat selama 45 hari saja.
****
Keesokan harinya, mereka sudah tidak ada kegiatan apa-apa lagi karena ini hari terakhir mereka berada di desa itu, dan mereka menggunakan waktu itu untuk mengunjungi beberapa
perangkat desa dan juga beberapa warga. Gibran dan Evi juga terlihat masih biasa saja, seperti
tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Nara pun menikmati hari-hari terakhirnya
sendirian, karena esok dia harus kembali menjadi seorang ibu lagi. Akhirnya dia bisa menemui
__ADS_1
Syakila setelah 45 hari ia lewati dengan rasa penuh dengan rindu.
Sejauh ini, Nara bisa menyembunyikan banyak hal dari teman-teman KKNnya, mulai dari
adanya Saykila. Kehidupannya sebagai sang ibu, dan sekaligus tidak ada yang tahu jika Nara
adalah istri dari sang ketua BEM. Bahkan Rendi juga bisa dengan mudahnya merahasiakan
status mereka. Karena ini adalah hari terakhir untuk mereka, mereka pun memutuskan untuk
pergi ke pantai bersama-sama. Seperti biasa, Gibran selalu meminta Nara untuk ikut
dengannya, dan Evi menggantikan Nara untuk membawa motor Nara.
Hari terakhir yang sangat menyenangkan untuk mereka semua, apalagi selama ini mereka
sudah bekerja dengan sangat keras, bahkan berusaha menjaga nama baik desa mereka, yang
padahal tempatnya cukup horor juga.
“Evi, kamu nggak pernah curiga kah? Kenapa Gibran selalu meminta Nara untuk ikut bersamanya?” tanya Lies yang mulai membahas topik yang tidak pernah ia bahas sebelumnya.
“Eh? Iya juga ya. Tapi kan kemarin Gibran bilang, Nara sebenernya nggak bisa bawa motor jauh-jauh.
“Hmmm, iya juga ya. Aku malah nggak mikir sampe sana deh,” ujar Evi yang lalu mengingat kembali perkataan Gibran tempo hari perihal wanita yang sedang ia sukai.
Di situ Evi mulai sedikit kesal dengan Nara, namun masih dia tahan.
Lalu, sampailah mereka semua ke pantai dengan menggunakan motor. Semua orang langsung
berfoto bersama di sana, ada yang foto satu kamar, satu circle, dan lain-lain. Mereka semua
menikmati waktu bermain mereka, termasuk Nara yang merasa memiliki teman baru dan dia
bisa bebas melakukan apa saja untuk saat ini selagi belum bertemu Syakila.
Ia tidak akan membuang-buang waktu berharga seperti ini.
Hingga mereka pun berpisah dan mencari tempat yang mereka ingin tuju. Beberapa orang pergi
ke pantai, ada yang ke bukit, ada juga yang cari makan. Nara memilih untuk pergi ke pantai,
namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Gibran dan langsung dibawa pergi oleh pria itu.
“Eh? Mau ke mana?” tanya Nara sembari tangannya ditarik oleh pria itu.
__ADS_1