
Nara langsung menatap ke arah Gibran dan matanya melebar.
“Nggak usah kaget gitu, dari gelagat kamu aja aku dah tahu jawabannya kok. Cuma, kamu pasti merahasiakan semua ini demi Rendi. Lalu, kamu nggak inget? Kontrakkan aku deket sama kontrakan kamu, jadi wajar dong kalau aku sering lihat Rendi bolak-balik dari kontrakan kamu?” tutur Gibran kepada Nara. Membuat wanita itu hanya bisa diam dan tercengang.
“Jangan bilang siapa-siapa, Kak!” pinta Nara sembari menangkupkan kedua tangannya dan memohon kepada Gibran agar tidak membeberkan rahasia itu. Meskipun itu masih rahasia kecil, karena rahasia besarnya ada di dalam perut Nara.
“Kamu memintaku mengabulkan permintaanmu yang cukup susah bagiku itu? Sedangkan aku nggak dapet apa-apa nih?” ucap pria itu seperti meminta sebuah imbalan karena telah membantu Nara menyembunyikan semuanya.
“Kak Gibran minta apa?” tanya Nara sembari menatap wajah pria yang begitu sombong itu. Gibran menyisir rambutnya ke belakang dan tersenyum kecil, lalu menatap ke arah Nara.
“Kamu yakin bisa mengabulkannya?” tanya Gibran.
“Akan kuusahakan, Kak!” Nara semakin berusaha untuk meminta agar rahasianya itu tidak terbongkar.
Gibran terdiam sejenak sembari memikirkan apa yang dia inginkan dari wanita itu. Sedangkan Nara terus menatap pria itu dan mulai ngeri, karena raut wajahnya seperti menginginkan keserakahan yang tak terhingga. Nara mulai berpikir yang aneh-aneh.
“Oke aku tahu!” Gibran seketika berucap dan membuat Nara terkejut bukan main.
“Tolong jangan hal yang sekiranya tidak bisa kulakukan, Kak.” Nara masih berharap jika dia akan diberi syarat yang mudah.
“Gampang kok, aku cuma mau kamu temani aku ke mall besok malam, gimana?” tanya Gibran.
“Hah? Besok banget? Ngapain?” Nara sudah bingung sendiri dengan pakaian apa yang harus dia kenakan besok, dan bagaimana jika sampai ketahuan oleh Rendi?
__ADS_1
“Ada acara yang harus kudatangi besok, bisa, kan?” Pria itu nampak memaksa Nara agar bisa pergi dengannya.
“Bukannya itu acara yang penting? Kenapa ajak orang nggak penting seperti aku, Kak?” Nara berusaha mencari celah agar ada syarat lain yang bisa dia lakukan.
“Suka-suka aku dong!” Gibran beranjak dari kursinya dan tersenyum bahagia, karena bisa meminta sesuatu dari wanita itu.
“Ya udah deh, besok lihat situasi juga ya, Kak. Aku juga harus lihat keadaan Rendi juga, aku harus sembunyikan hal ini dari dia juga, kan?” Nara memahami situasi ini dan tak ingin Rendi tahu.
“Yap! Kau pintar juga!” Gibran mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum lebar. “Kalau gitu, aku tunggu di kampus jam 7 ya, atau aku samperin kamu aja deh!” Pria itu pun pergi meninggalkan Nara dan menjauh dari wanita itu.
Nara pun hanya menatap kepergian pria itu yang menjauh darinya.
“Situasi macam apa ini? Padahal aku sebentar lagi menikah, tapi kenapa masih ladenin cowok lain sih!” gumam Nara sembari berpikir kembali apa yang barusan dia janjikan kepada Gibran. Padahal mereka baru saja kenal dan juga tidak terlalu dekat, kenapa dia bisa-bisanya bicara dengan Gibran dengan mudah? Seakan semua akan aman jika bicara dengannya.
“Jujur dengan perasaanku, ya? Memangnya semua itu bisa menyelesaikan masalah?” gumam Nara yang tadi mengingat ucapan Gibran untuk lebih menyayangi diri Nara sendiri.
“Eh? Rendi?” kejut Nara. Rendi melihat kekasihnya datang, langsung berlari menemui Nara dan memegang kedua tangannya.
“Kamu dari mana? Aku telpon kamu, whatsapp kamu, tapi kamu nggak bales sama sekali. Kamu marah sama aku?” tanya pria itu sembari memegang kedua lengan Nara.
“Eh? Iya?” Rendi melihat ke belakang Nara, memastikan bahwa keadaan sudah aman, ia mengajak Nara masuk ke dalam kontrakan.
Sampai di depan kontrakkan, Nara melihat tidak ada orang di dalam rumah, pantas saja Rendi menunggu di luar. Nara pun membuka pintu dan mengajak Rendi masuk ke dalam kamar. Yang mestinya hal itu sudah tak diperbolehkan lagi. Nara melepas tasnya dan duduk di kasur sembari menatap Rendi.
__ADS_1
“Kamu dari mana? Kepala kamu panas, pasti kena matahari kelamaan ya?” ucap pria itu sembari memegang kepala Nara.
“Kamu nggak nganggep aku pacar atau apapun itu ya?” Nara mengungkit kejadian yang tadi pagi terjadi. Rendi menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk memberikan klarifikasi.
“Bukan gitu, Sayang. Posisinya lagi banyak orang di sana, ada dosen, kating, dan semua orang yang menunjukku menjadi ketua BEM mahasiswa. Aku takut mereka bakal berpikiran buruk soal kamu, maupun aku. Ini hari pertama aku dilantik, Sayang. Aku nggak mau citraku jelek,” jawab pria itu. Seperti biasa, cara bicaranya lembut, namun menyayat hati.
“Terus? Aku gimana? Kamu nggak mikirin perasaanku? Diacuhkan seperti orang asing.” Nara mulai mengutarakan apa yang dia rasakan.
“Iya, maafin aku. Aku salah, makanya aku dateng ke sini buat minta maaf. Aku masih ada acara lagi setelah ini, masih banyak banget yang aku urus. Aku nyempetin ke sini buat minta maaf sama kamu karena aku tahu aku salah.” Rendi mengusap pipi Nara.
Lagi dan lagi, Nara yang harus mengalah dalam hal ini. Rendi juga seakan meminta Nara untuk mengerti dirinya, namun, Rendi sendiri tidak bisa melakukan itu.
“Ya udah, urusin dulu aja kerjaan kamu. Aku ngerti kok,” ketus Nara.
“Jangan marah ya, Sayang. Kasihan bayi kita, dia pasti nggak mau denger mamanya marah-marah terus. Nanti aku bawain makan malam buat kamu ya?” Pria itu mengusap perut Nara dengan lembut dan penuh perhatian. Hal seperti itu saja sudah membuat Nara luluh, besarnya rasa cinta kepada Rendi membuatnya tak bisa marah terlalu lama.
“Aku nggak marah kok.”
“Makasih ya, Sayang.” Senyuman pria itu meluluhkan hati Nara. “Ya udah, aku pergi dulu ya. Kamu mau apa ntar malem, WA aja ya.” Pria itu mencium kening Nara dan pergi meninggalkan Nara. Melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Nara.
Rendi memang benar-benar bisa membuat Nara kembali luluh dan tidak marah lagi. Saat pria itu sudah pergi, Nara merebahkan tubuhnya di kasur perlahan dan tersenyum, tersipu malu.
Namun, saat dia sedang bahagia karena diperlakukan seperti itu oleh Rendi, ia teringat akan janjinya besok dengan Gibran.
__ADS_1
“Astaga! Besok aku pakai baju apa biar nggak kelihatan hamil!”
Nara langsung beranjak dari kasurnya dan membuka lemari pakaiannya dan mencari pakaian apa yang akan dia pakai besok. Dia akan tetap pergi meskipun sebentar lagi dia akan menikah dengan Rendi. Sesekali tidak masalah jika dia pergi ke mall, bukan?