
Kehidupan perkuliahan Nara pun terus berjalan sembari menjadi sosok ibu untuk Syakila. Dia bersyukur karena beberapa minggu ia menjalani kehidupan, semuanya berjalan mulus. Nara tidak peduli lagi dengan kedekatan Adel kepada suaminya, hampir setiap hari Rendi nampak bahagia dan selalu terbuka dengan Nara, menceritakan semua tentang perkuliahan dan juga kegiatannya sebagai ketua BEM, Nara pun senang mendengarkan cerita suaminya itu.
Hubungan mereka membaik tanpa campur tangan keluarga Rendi. Nara juga berusaha mencari kerjaan yang bisa ia lakukan di rumah, ia memang diberi uang bulanan oleh kedua orang tuanya, namun, Nara tidak bisa terus bergantung dengan hal itu, dia tidak enak dengan kedua orang tuanya itu.
"Sayang, kamu bisa jemput aku sama Syakila nanti?" tanya Nara sembari berdandan di cermin.
"Jam berapa? Aku kayaknya jam 4 ada rapat deh." Rendi tengah menikmati sarapannya sembari menjaga Syakila.
"Yah, aku juga pulang jam 4. Ya udah nanti aku naik gojek aja," ucap Nara kepada suaminya.
"Jangan ngambek ya?" pinta pria itu.
"Nggak lah, aku nggak bakal ngambek sama kamu. Aku berusaha ngertiin kamu kok," ucap Nara dengan senyuman.
Rendi pun membalas senyuman wanita itu dan mengusap rambut Nara dengan lembut. Mood Rendi juga sering menjadi baik, mungkin karena hampir seminggu 3x diberi jatah berhubungan.
Karena Rendi berangkat pagi, Nara pun juga ikut berangkat lebih awal, meskipun di kampus dia mampir di kantin, atau ke perpustakaan, atau ke kontrakkan lamanya untuk bertemu Tia.
Jam 9 pagi, Nara meninggalkan Syakila bersama mbah Tik dan langsung pergi ke kampus. Seperti biasa, Nara diturunkan di gang kecil yang langsung tembus ke kampusnya.
__ADS_1
"Hati-hati ya, kabari kalau kamu udah pulang," ucap Rendi.
"Iya, semangat kuliahnya ya, Sayang!" Nara memberikan semangat kepada pria itu.
Nara pun masuk ke dalam kawasan gedung kampus yang akan ia datangi. Karena masih lama sampai perkuliahannya dimulai, Nara memutuskan untuk ke kantin lebih dulu, karena dia tidak sempat sarapan. Dia hanya membeli teh hangat saja karena merasa sayang, makanan di rumahnya belum habis.
Sembari menunggu di kantin, Nara pun memainkan ponselnya, kala Syakila sedang tidur, dan waktunya sedang senggang, Nara selalu memainkan game untuk menghilangkan kebosanannya.
Hingga ia kembali bertemu dengan Gibran. Nara sampai memutar bola matanya, karena dia sering sekali bertemu dengan Gibran akhir-akhir ini.
"Kenapa kamu selalu muncul saat aku sedang bersantai seperti ini sih?" tanya Nara sedikit kesal sembari menatap ke arah ponselnya terus menerus. Nara melirik ke arah tangan kiri Gibran, ternyata gelang itu selalu dipakai oleh pria itu.
Nara yang sedang asyik bermain game pun langsung mematikan gamenya itu dan mulai meluangkan waktunya untuk bicara dengan Gibran.
"Dia baik kok. Selama aku kuliah, dia ada yang jagain," jawab Nara.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu masih sering bertengkar sama Rendi?" Gibran kembali membuka topik yang baru.
"Nggak, belakangan ini udah jarang banget bertengkar. Aku lebih ke terserah dia aja sih. Soalnya mau gimanapun juga aku nggak bakal mungkin bisa merubah sikap dan sifatnya yang seperti itu." Nara mengaduk tehnya dan menyeruput minuman itu sedikit.
__ADS_1
"Sungguh? Atau sebenarnya kamu tidak ingin tahu?" Gibran seperti menyudutkan wanita itu, seakan ingin bicara jika Rendi bukan yang terbaik untuk Nara.
"A–aku tidak ingin tahu apa-apa soal kegiatannya. Aku berusaha percaya dengan omongannya itu, meskipun dia berbohong. Aku hanya merasa jika lebih baik tidak mendengar kabar buruk apa-apa daripada harus melihat sesuatu yang tidak kuinginkan."
Gibran menatap Nara terus menerus, fisik wanita itu benar-benar berubah. Tadinya cukup body goals, namun, sekarang justru seperti orang yang jarang makan dan tidak terawat.
"Kamu sudah banyak berkorban, Nara. Kenapa kamu sampai segitunya sama pria yang bahkan entah menyayangi kamu atau tidak?" Gibran menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.
"Berisik kamu ah!" Dara seakan tidak ingin membicarakan hal itu.
Gibran pun pada akhirnya memesan minuman juga untuk menemani Nara di sana. Sebenarnya, terkadang masih ada rasa tidak enak di hatinya, karena Nara pernah menyakiti hati Gibran.
Nara juga berusaha untuk tidak terlalu peduli dengan Gibran, namun, rasanya Nara ingin sekali meluapkan semua perasaannya di hadapan Gibran yang bisa menjadi pendengar yang baik untuk Nara. Namun, sepertinya tidak bisa.
"Santai aja, jangan ngerasa nggak enak. Aku baik-baik saja kok." Gibran mengusap kepala Nara dengan lembut dan penuh senyuman manis di bibirnya. Entah mengapa dari sentuhan Gibran membuat jantung Nara berdegup dengan sangat kencang.
DEG!
"Dia bisa baca pikiranku? Atau gimana?"
__ADS_1