Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Takdir Tuhan dan Kebetulan


__ADS_3

Rasa cinta yang pernah Nara rasakan itu sekarang muncul lagi, terakhir ia merasakan rasa


sayang dan cinta itu kepada Rendi, namun, sepertinya semuanya memudar begitu saja dengan


sebuah perlakuan Rendi yang begitu jahat kepada Nara.


“Sudah lebih baik?” tanya Gibran yang tengah menggenggam tangan Nara.


“Iya, terima kasih ya. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku langsung bersikap bodoh,” ujar Nara.


Gibran tersenyum saat melihat wanita itu sudah baik-baik saja dan terlihat sangat bahagia


setelah diajak pergi ke pantai. Gibran bahkan mengajak Nara makan malam dulu sebelum


mereka pulang, Gibran memanfaatkan jabatannya yang merupakan ketua KKN di kelompoknya


untuk saat-saat yang dia inginkan seperti ini.


Hingga terlihat Rendi membalas pesan Nara dan berisikan sebuah pesan.


[Aku baik-baik aja kok, itu cuma fitnah yang disebar oleh temanku yang cintanya kutolak] ujar Rendi dalam pesan singkat tersebut.


Nara menghela nafas panjang dan merasa lega sekarang, akhirnya dia tahu bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, Gibran yang mendengar itu justru merasa kesal, mengapa tidak


sekalian saja pria itu terjebak dalam sesuatu yang membuat nama baiknya tercoreng? Batin


Gibran.


Setelah selesai makan, mereka berdua pun keluar dari tempat makan tersebut, namun, tiba-tiba


ia melihat Rendi sedang bersama dengan seorang wanita di parkiran saat Gibran sedang


membayar makanannya.


Nara menghampiri Rendi dengan amarah yang meluap-luap, mengapa takdir begitu kejam kepada Nara, baru ia merasa tenang karena suaminya terlihat akan kembali kepadanya, ternyata itu hanyalah harapan semata saja. Nara melihat Rendi masih jalan dengan Adel,


bukankah seharusnya Nara diam saja dan meninggalkan langsung meninggalkan Rendi?


Mengapa ia harus marah lebih dulu?


Sampai di parkiran, Nara langsung menampar Rendi yang tengah membantu Adel melepaskan helmnya.


PLAK!

__ADS_1


Adel yang melihat hal itu langsung menatap tajam ke arah Nara.


“Lo siapa?! Berani banget nampar pacar gue!” teriak Adel.


“Oh, pacar ya?” ujar Nara sembari melihat ke arah Rendi sembari menganggukkan kepalanya. Ia mengerti sekarang, bahwa Nara memang bukanlah siapa-siapa dan hubungan mereka sama


sekali tidak bisa diperbaiki, Nara hanya terlalu banyak berharap saja, tanpa melihat sebuah


fakta dan kenyataan bahwa sudah tidak ada cinta di antara Rendi kepada Nara.


“Puas kamu sekarang? Jangan berharap lagi kalau aku bakal bantu kamu, atau nemuin kamu dengan Syakila! Nyatanya kamu sendiri masih mencintai wanita ini!” Nara menunjuk Adel dengan emosi yang meluap-luap.


“Heh! Maksud lo apaan! Lo juga mau bikin skandal kaya cewek nggak tahu diri tadi ya!” hardik


Adel.


Nara memicingkan matanya ke arah wanita itu dan membuat Adel terdiam seketika karena melihat tatapan Nara yang cukup menakutkan. Nara kembali melihat ke arah Rendi yang sudah berdiri dan mengepalkan tangannya, amarahnya meluap dan langsung ingin menampar Nara.


Ia menganggap jika Nara sudah mengacaukan semuanya.


Rendi menampar Nara dengan sangat keras, namun, berhasil ditahan oleh Gibran.


GREP!


Rendi langsung melihat ke arah Gibran, akhirnya mereka bertemu setelah sekian lama tidak bertemu. Gibran menatap Rendi dengan tatapan yang sangat sinis, seakan ingin memukul


“Jangan cuma berani sama cewek, kalian berdua sama-sama nggak punya otak emang!” ujar Gibran.


“Kak Gibran kok di sini? Kak Gibran kenal cewek kampungan ini?” tanya Adel.


Gibran langsung menatap Adel dan melepaskan tangan Rendi.


“Cewek yang kamu bilang kampungan ini, setidaknya lebih bermoral daripada kamu yang sama


sekali nggak bisa jaga kesucian kamu sendiri!” ledek Gibran.


Adel langsung terdiam beribu bahasa dan merasa kesal dengan apa yang dilontarkan oleh pria


itu. Namun, karena Adel memiliki hasrat ingin menjadikan Gibran sebagai kekasihnya juga, ia hanya bisa diam saja.


“Oh, jadi kalian berdua juga ketemuan? Bedanya apa sama gue?” tanya Rendi yang meledek


Gibran balik.

__ADS_1


“Bedanya, aku menjaga betul wanita yang kubawa ini, dan aku sama sekali nggak merusak wanita ini hanya untuk nafsu belaka saja!” Rendi semakin merasa diledek oleh Gibran, dia juga merasa dimata-matai oleh Gibran, karena pria itu bahkan bisa tahu privasi Rendi.


“Kau memata-mataiku ya?” tanya Rendi dengan mengecilkan nada bicaranya.


Gibran hanya tersenyum saja menanggapi ucapan pria itu, selain memata-matai, dia juga sering mendapati sebuah ketidaksengajaan yang membuat Gibran jadi sering bertemu dengan


Rendi.


“Aku bahkan nggak pernah berniat untuk memata-mataimu. Takdir yang selalu memberitahu


kebusukanmu kepadaku. Bukankah Tuhan begitu baik kepada Nara?” ujar Gibran.


“Kak, maksudnya apa sih? Aku nggak ngerti deh, sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian berdua? Aku sering banget lihat kalian berdua kaya gini loh!” tanya Adel yang selama ini sering melihat mereka berdua bertengkar.


Namun, Gibran hanya diam saja dan membiarkan wanita itu berkilah sesuka hati.


“Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu sebelumnya? Bahkan sampai di bawa ke


kantor polisi pun kau tak jera sama sekali?” ujar Rendi.


“Aku tidak takut dengan apapun. Aku bahkan tidak takut denganmu sama sekali, atau ancamanmu yang hanya omong kosong itu. Aku tidak peduli. Mulai sekarang, jangan pernah dekati Nara lagi. Kujamin kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya lagi, atau mau kubongkar semua rahasiamu?” ancam Gibran yang memang memegang banyak kartu as untuk menghancurkan Rendi.


“Ck!” Renci berdecak kesal karena mendengar apa yang dikatakan oleh Gibran barusan.


“Ayo Nara, kita pulang saja. Tidak ada untungnya juga kamu memikirkan pria seperti ini. Biar kuberitahu seberapa busuk pria ini saat dia mendua di belakangmu,” ujar Gibran sembari merangkul Nara dan membawa wanita itu pergi dari sana.


Rendi melihat mereka berdua pergi dengan perasaan marah, tangannya mengepal dan giginya


bergemeretak. Ia marah karena sumber uangnya kini diambil oleh Gibran.


Hati Nara yang tadinya baru sembuh sedikit, kini dihancurkan lagi dengan mudahnya. Bahkan ia belum sempat sembuh dari lukanya, sudah dihancurkan lagi oleh pria yang merupakan suaminya itu.


“Kamu jangan terlalu memikirkan Rendi, sekarang fokus KKN dan fokus dengan Syakila saja.


Kita pulang dulu ya? Sudah jam 8, aku takut mereka semua mencari kita,” ucap Gibran sembari memasangkan helm kepada Nara. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca dan terlihat ingin menangis, namun ia berusaha menahan sekuat tenaga.


Nara naik ke motor Gibran dan langsung memeluk pria itu dengan erat, saat Gibran


mengendarai motornya, Nara langsung menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan pria itu. Dia


sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya itu.


Gibran yang sedang fokus berkendara pun hanya bisa menenangkan Nara dengan memegang lututnya saja sembari berucap, “Sabar, Nara. Semua akan baik-baik saja. Aku janji akan menjaga kamu mulai sekarang.”

__ADS_1


Hari itu ternyata bukan menjadi hari yang baik untuk Nara, melainkan jadi hari yang paling melelahkan untuk Nara. Semenjak itu, Nara sama sekali tidak pernah membalas pesan Rendi


sama sekali dan berusaha untuk tidak peduli kepada pria itu. Ia berusaha lebih fokus lagi dengan kehidupannya bersama dengan Syakila.


__ADS_2