Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Memergoki Kebusukan Rendi


__ADS_3

Mendekati waktu KKN, Rendi jadi sering sekali di rumah hanya untuk numpang tidur. Setelah itu dia pergi lagi entah ke mana. Sedangkan Nara di rumah berusaha untuk berpikir jernih, dan berusaha untuk melepaskan perasaannya terhadap Rendi yang sepertinya sudah tidak mencintai dirinya lagi.


Nara berusaha sekuat tenaga untuk acuh dan abai dengan apa yang dilakukan oleh pria itu, meskipun dia masih istri Rendi. Nara berusaha untuk tidak peduli lagi. Bahkan saat Nara KKN pun, Syakila akan tinggal bersama dengan orang tua Nara. Karena hanya orang tua Nara yang bisa membantu, meskipun lebih sibuk dari mertuanya.


Saat Nara tengah memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas, tidak sengaja dia menjatuhkan waistbag milik Rendi dan semua isinya berhamburan.


"Duh! Kalo ketahuan bisa dimarahin nih!" gumam Nara sembari langsung menata kembali isi tas Rendi.


Namun, Nara sedikit terkejut kala melihat ada pengaman di antara barang-barang Rendi. Nara mengambil pengaman itu dan mengingat kembali, sepertinya dia dan Rendi tidak pernah menggunakan pengaman sama sekali. Toh, Nara juga menggunakan IUD agar tidak hamil lagi. Lalu, mengapa ada pengaman di dalam tas Nara.


Sejenak, ia berpikir dan berusaha mengingat saat Rendi tidak memperbolehkan dirinya untuk memegang tas Rendi. Apakah karena ada pengaman di dalamnya? Nara langsung melihat ke arah ponsel Rendi yang berada di sebelah kepalanya. Selama Rendi tidur, ia memang selalu menyembunyikan ponselnya. Entah di dalam sakunya, di bawah bantal, atau di balik selimut. Kali ini, ponsel pria itu ada di sebelah bantal. Sepertinya tersenggol oleh tangan Rendi sendiri.


Perlahan, Nara mengambil ponsel pria itu dan membuka ponselnya. Sialnya, ia harus menggunakan sidik jari Rendi dulu.


"Ih! Di password segala!" Nara berdecak kesal.


Ia melirik ke arah Rendi dan diam-diam menempelkan jempol kanan Rendi untuk membuka ponselnya. Awalnya susah, bahkan Rendi hampir terbangun. Namun, pada akhirnya, Nara berhasil membukanya.


Mata Nara terbelalak saat melihat ponsel Rendi terbuka. Ia langsung melihat pesan whatsapp. Bahkan saat membuka whatsappnya, nama paling atas tertera jelas nama Adel. Dengan jantung yang berdegup kencang, Nara langsung membuka pesan mereka berdua.


[Sayang, kapan ke sini? Aku kangen loh.]


[Sayang, aku pengen. Malam kemarin sama kamu nikmat banget. Love you pokoknya.]


[Rendi, udah di mana? Aku tunggu di kost ya.]

__ADS_1


Percakapan semacam itu membuat mata Nara langsung terbelalak lebar. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa suaminya benar-benar selingkuh, bahkan sampai melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain.


"Astaga, Rendi." Adel menghela nafas panjang dan dadanya terasa sakit. Jantungnya terasa panas dan ingin rasanya ia menampar Rendi dengan sangat keras.


Ada banyak pula beberapa chat yang mengarah ke hal-hal yang tak seharusnya mereka lewati. Nara sudah tidak kuat lagi. Kini dia tau, bahwa Rendi sudah tidak menginginkan Nara lagi.


Nara terus menerus membuka chat Adel dan Rendi, melihat kebusukan apa saja yang sudah mereka lakukan di belakang Nara. Lalu, mengambil beberapa bukti dan mengirimkannya ke ponsel Nara. Karena sangat kecewa, Nara bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan hubungan Adel dan Rendi sudah sangat lama sekali.


Tiba-tiba, ponsel Rendi langsung direbut oleh Rendi dan membuat Nara terkejut. Karena terlalu fokus, Nara sampai tidak sadar jika Rendi sudah bangun.


"Ngapain kamu!" Rendi melihat chatnya dengan Adel yang sudah dibuka oleh Nara.


Nara yang tadinya takut, berusaha memberanikan diri untuk bicara.


"Apa? Kamu cemburu? Ck! Dasar nggak guna. Bikinin kopi gih! Baru bangun juga, nggak usah bacod yang aneh-aneh deh!" Rendi bangun dengan perasaan kesal.


"Jelasin dulu apa maksud kamu! Kenapa kamu sama Adel sampai ngelakuin hubungan kaya gitu, Rendi! Aku ini istri sah kamu loh! Dosa, Rendi! Astaga!" Nada bicara Nara mulai mengeras, dia nampak kehabisan kesabaran.


"Apa sih! Kamu sukanya ikut campur urusanku! Kamu jangan bangga dengan gelar ISTRI kamu itu deh! Muasin aku aja kamu nggak bisa! Masak nggak becus! Baju sampe numpuk karena lama nggak dicuci! Rumah berantakan! Kamu sebut diri kamu itu istri, hah?!" hardik Rendi dengan nada tinggi.


"Aku ngelakuin semuanya sesuai apa yang kamu inginkan loh! Aku juga berusaha memperbaiki semuanya pelan-pelan! Kamu yang kerjanya nggak beres aja aku nggak pernah ngeluh kok!" Nara sampai mengeluarkan perkataan yang tak seharusnya dia keluarkan. Rendi langsung melihat ke arah Nara dengan tatapan sinis dan dingin.


"Apa kamu bilang?!"


Nara yang ketakutan langsung berusaha untuk pergi ke luar kamar dan menghampiri Syakila. Namun, belum sampai keluar kamar, Rendi menarik tangan Nara dengan sangat keras, lalu membenturkan kepala Nara ke tembok dengan sangat keras.

__ADS_1


BUAKH!


"Makan tuh! Durhaka banget sama suami!" ujar Rendi.


Nara langsung lemas dan tubuhnya terjatuh, ia meringkuk dan berusaha mengeluarkan ponselnya. Ia mengirimkan pesan kepada Gibran dan juga sepotong VN berisikan ucapan Rendi.


"Dasar cewek nggak tahu diri! Beraninya kamu bicara gitu sama suami kamu! Makanya aku lebih milih sama Adel tuh ya karena attitude kamu aja nol!" Pria itu menendang tubuh Nara. Sedangkan Nara masih meringkuk melindungi dirinya, terutama wajahnya.


VN itu pun terkirim dan Rendi langsung menarik tangan Nara, membuat Nara lepas dari ponselnya. Kini, pria itu mencekik leher Nara, namun tidak terlalu keras, karena hanya bersikap gertakan saja.


"Denger ya, istri nggak guna! Adel itu jauh lebih baik daripada kamu. Dia bisa ngertiin aku dan bisa muasin aku berkali-kali! Nggak kaya kamu yang udah longgar!" ledek Rendi.


"Rendi, tolong ceraikan aku aja. Silakan kamu bahagia sama Adel, tapi tolong ceraikan aku!" pinta Nara dengan tangan yang gemetaran dan juga sudah ketakutan.


"Cerai? Jangan harap ya! Kamu itu masih jadi sumber uang buat aku! Jadi, jangan harap kamu bisa cerai dari aku!" Rendi masih mengancam Nara.


"Aku udah nggak sayang sama kamu! Kamu ternyata bener-bener jahat, Rendi! Aku mati-matian berjuang buat hubungan kita, ternyata kamu malah main cewek di belakangku!" Nara masih mengutarakan apa yang dia ingin katakan.


"Salah siapa jadi cewek nggak bisa muasin cowoknya! Salahin diri kamu sendiri Nara! Semua ini terjadi gara-gara kamu!" Rendi mulai mengeratkan kedua tangannya dan menekan leher Nara.


Nara langsung panik dan berusaha untuk mengambil nafasnya dengan teratur, dia memutuskan untuk diam saja selagi Rendi terus mengeluh soal Nara. Rendi juga memperlihatkan video dirinya dengan Adel yang sedang melakukan hubungan badan, agar membuat Nara sakit hati. Makin lama, leher Nara semakin sakit dan dia sulit bernafas.


"Ugh! Lepasin, Rendi!" Nara berusaha melepaskan cengkeraman itu, namun terlalu erat. Tenaga Nara juga tidak sekuat itu. Terdengar juga tangisan Syakila yang menggema di depan tv. Seakan tahu jika ibunya sedang dalam bahaya.


"Ahh, maafkan mama, Syakila. Mama belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu," batin Nara yang mulai merasa susah untuk bernafas.

__ADS_1


__ADS_2