Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Tetap Pada Pendirian


__ADS_3

Seharian itu GIbran melalui hari-hari yang cukup melelahkan, di malam hari, Rendi dijaga oleh kedua bodyguard Gibran dan meminta mereka untuk memastikan bahwa Rendi akan baik-baik saja.


“Saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Gibran bersiap-siap pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun, Rendi menahan tangan Gibran untuk tidak pergi.


“Gibran, terima kasih banyak sudah membantuku,” ujar Rendi.


“Tidak masalah, lekas sembuh dan segera keluar dari sini. Aku melakukan ini semua karena


tidak ingin melihat Nara terus-terusan bersedih karena memikirkan pria yang sudah


menyia-nyiakannya,” jawab Gibran dengan sedikit ketus.


“Kalau begitu, bagaimana kabar Nara? Anakku juga sehat kan?” Ada rasa rindu di dalam hati Rendi yang membuatnya ingin meneteskan air mata.


“Mereka sangat baik-baik saja. Nara juga sudah jauh lebih baik untuk saat ini. Kau fokus menyelesaikan semuanya saja dengan Adel. Keluarganya sangatlah keras kepala dan kau harus bisa menghadapi mereka. Kusarankan jangan libatkan Nara lagi,” pinta Gibran.


“Terima kasih atas sarannya. Apa aku bisa bertemu dengan Nara suatu saat nanti?” tanya Rendi dengan penuh harapan.


Gibran terdiam sejenak dan berpikir apa yang harus ia jawab. Sejujurnya, Gibran tidak ingin Rendi bertemu dengan Nara lagi, karena bisa membuat Nara semakin susah untuk berpindah hati dan usaha Gibran juga akan makin sia-sia untuk mendapatkan Nara.


“Akan kubicarakan dengan Nara, siapa tahu dia berubah pikiran dan mau menemuimu,” tukas Gibran sembari menata pakaian Rendi.


“Tolong jaga Nara, aku sudah gagal membahagiakannya. Semoga dia bisa bahagia tanpaku.”


Rendi nampak mengeluarkan raut wajah yang penuh dengan kesedihan.


“Sudah pasti. Kau bisa mengurus dirimu sendiri kan? Aku akan pergi sekarang dan kembali lagi besok, lalu, di luar akan ada yang menjagamu. Jadi, kau tenang saja, istirahatlah malam ini


agar bisa selesaikan semua masalahmu.” Gibran menata beberapa barang yang akan Rendi makan dan gunakan selama Gibran pergi. Ia tidak bisa meninggalkan Nara sendirian dan dia


juga khawatir akan Nara. Nara juga sudah menitipkan sesuatu kepada Gibran.


“Terima kasih banyak. Aku akan istirahat setelah ini.” Rendi pun tersenyum dan berterima kasih kepada Gibran karena sudah mau merawat Rendi.


Gibran pun keluar dan menyambut kedua pria yang ada di depan pintu. “Malam, tolong jaga Rendi sebaik mungkin ya. Jangan sampai ada yang masuk. Akan lebih baik lagi jika salah satu dari kalian masuk dan memastikan apa yang dibutuhkan oleh Rendi.Aku akan kembali lagi besok,” ujar Gibran.


“Baik, Bos.”


Gibran pun pergi meninggalkan ruang rawat inap Rendi dan pulang ke kontrakan Nara untuk membelikan makanan yang ia inginkan. Saat Gibran sampai di kontrakan, wajahnya yang tadinya terasa sangat lelah sekali, langsung bisa tersenyum bahagia.


Pria itu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah Nara. Sampai di dalam kontrakan, Gibran disambut dengan pemandangan di mana Nara sedang melihat Syakila merangkak.

__ADS_1


Melihat Gibran yang sudah pulang, Syakila langsung tersenyum dan mendekati pria itu dengan


langkah yang cukup cepat.


“Sini, Sayang. Pinternya udah bisa merangkak, cepet banget lagi."


Gibran menyapa Syakila dengan menggendong anak itu, rasa lelahnya seketika menghilang, Gibran merasa bahwa Syakila adalah darah dagingnya sendiri.


“Udah pulang? Udah makan belum?” tanya Nara.


“Aku bawa pesenan kamu nih!” ujar Gibran sembari mengangkat plastik yang berisikan makanan. Selain membeli jagung manis, Gibran juga memberikan makan malam untuk mereka.


“Terima kasih, Gibran.” Nara pun dengan senang mengambil makanannya dan juga menata makanan yang sudah Gibran beli di meja.


Malam itu, mereka pun makan bersama-sama. Seperti biasa, Nara menceritakan semua yang ia lakukan hari ini kepada Gibran. Gibran pun merasa senang saat Nara menceritakan hal yang


sudah ia alami di hari ini. Ia sudah seperti kekasih, bahkan istrinya sendiri.


Sedangkan Nara juga merasa nyaman dengan Gibran dan merasa bisa menceritakan


semuanya kepada Gibran, semakin lama, rasa sayang Nara pada Gibran juga semakin besar.


Namun, terkadang ia sadar diri jika dia bukan siapa-siapa dan juga tidak sekaya Gibran. Bolehkah ia dekat dengan Gibran seperti ini Bukankah ini lebih seperti sebuah pelampiasan?


“Aku bantu ya?” pinta Gibran sembari mengambil sapu.


“Nggak usah, kamu di situ aja ya? Istirahat aja.” Kali ini, Nara bersikeras untuk membuat Gibran beristirahat. Ia tidak ingin merepotkan dan membebani Gibran lebih jauh lagi.


Kali ini, Gibran menuruti apa yang diinginkan Nara dan memilih untuk beristirahat di depan tv.


Dia harus menceritakan apa yang sudah terjadi tadi di rumah sakit.


Setelah Nara beres-beres, ia membuatkan teh hangat untuk Gibran.


“Minum dulu, Gibran. Pasti capek seharian di rumah sakit,” ujar Nara sembari meletakkan minuman di depan Gibran dan Nara pun berpindah duduk di sebelah Gibran. Mereka duduk di


depan tv bersama-sama.


Gibran pun mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit tadi, sedangkan Nara mendengarkan dengan baik, hingga Nara pun sedikit bingung.


“Kenapa? Kamu jadi ragu untuk meninggalkan Rendi?” tanya Gibran.

__ADS_1


Nara terdiam sejenak dan seperti takut untuk berbicara tentang apa yang sedang ia rasakan, ia hanya takut Gibran sakit hati.


Melihat wanita di sebelahnya begitu cemas, Gibran pun menggenggam tangan Nara dengan erat hingga membuat mata mereka langsung bertemu karena Nara terkejut.


“Jangan takut untuk bicara, kita lagi sharing di sini. Kamu harus ungkapin apa yang kamu rasain sekarang,” ucap Gibran dengan senyuman. Melihat pria itu begitu baik kepada Nara, Nara pun akhirnya berani mengutarakan pendapatnya.


“Aku sedikit mencemaskan Rendi dan ada rasa ingin menemaninya. Mungkin karena itu


instingku sebagai seorang istri, aku juga sudah menjadi istrinya Rendi cukup lama. Mungkin hanya sebatas iba saja dan bukan rasa cinta, apalagi ingin kembali bersama.” Nara pun


menjelaskan apa yang ia rasakan.


“Jadi, jika Rendi ingin menemuimu, apa rasamu juga akan kembali berubah seperti dulu dan menerima Rendi lagi?” Pertanyaan itu langsung terbesit di kepala Gibran.


“Tidak, aku tetap akan menceraikan Rendi. Jikalau memang harus bertemu dengan keluarga Rendi untuk bicara, aku akan tetap menolak untuk kembali,” jawab Nara sembari


menggenggam tangan Gibran dengan erat, Nara merasa semakin kuat saat menggenggam


tangan Gibran.


Mendengar jawaban Nara, Gibran pun tersenyum.


“Kalau gitu, aku balik dulu ya?”


Gibran pun beranjak dari tempat ia duduk, namun, Nara tidak melepaskan genggaman


tangannya, bahkan semakin erat. “Kenapa?” tanya GIbran.


Wajah Nara memerah, ia ingin bicara tapi sedikit malu. Hingga Gibran pun kembali duduk dan berusaha melihat wajah Nara.


“Ma–mau nginep di sini nggak?” tanya Nara. Mendengar pertanyaan itu jelas membuat Gibran langsung membelalakkan matanya dan tersenyum kecil.


“Aku cuma takut aja di rumah sendirian, meskipun ada Syakila, tapi aku selalu tidur di atas jam


12 malam, dan aku kesepian.” Nara menambahkan kata-katanya sembari merasa malu.


Karena gemas dengan wanita itu, dengan cepat Gibran langsung mengecup kening Nara


dengan lembut, membuat Nara langsung salah tingkah, dan Gibran tertawa saat melihat wanita


itu salting.

__ADS_1


“Aku bakal nemenin kamu sampai kapanpun, Nara,” ujar Gibran yang menerima tawaran wanita itu.


__ADS_2