
Pulang dari rumah kedua orang tua Rendi, terlihat raut wajah Rendi yang badmood dan tidak suka mendengar keputusan yang dibuat oleh ayahnya itu. Nara meletakkan Syakila di kasur dan membuka pembicaraan dengan Rendi.
"Kenapa? Kamu badmood?" tanya Nara sembari menatap wajah pria yang sedang duduk di dekatnya itu.
"Menurutmu?" Mendengar Nara berkata seperti itu membuat Rendi semakin kesal dan ingin rasanya dia menyalahkan Nara. Rendi melihat Syakila yang sedang tertidur lelap dan menarik Nara ke kamar, ia ingin bicara dengan Nara berdua agar Syakila tidak terbangun.
"Sini!"
Rendi menarik tangan Nara dan mengajaknya ke dalam kamar. Nara pun ikut saja dan langsung duduk di kasur.
"Kenapa sih?" tanya Nara.
"Menurutmu aku denger begitu dari bapak, badmood nggak?" tanya Rendi yang membahas soal tadi.
"Iya, aku ngerti kamu pasti badmood. Karena kerjaan kamu jadi banyak, kan?" Nara berusaha menebak apa yang dirasakan suaminya itu.
"Itu tau! Sumpah ya, bapak kenapa jadi nggak bisa ngertiin aku yang sibuk ini sih! Pasti dihasut oleh ibu tiri itu!" Rendi nampak semakin kesal sembari mengusap rambutnya.
"Huss! Jangan gitu lah! Yang dikatakan bapak itu juga nggak salah, Rendi. Emang kita ini harus belajar bertanggung jawab. Kamu pikir aku nggak capek ngurusin Syakila? Harus jemput dia, antar dia, nyamperin dia, aku bahkan nggak punya waktu banyak buat nongkrong sama temen aku loh." Nara pun mengeluarkan perasaannya, yang harusnya tidak dia keluarkan di saat seperti ini.
"Emang kamu doang yang capek?! Aku juga capek loh! Harus rapat BEM, harus ngurusin acara ini, acara itu, dan masih disuruh kerja loh! Kamu pikir gampang ngelakuinnya?" Rendi nampak tersulut emosi atas perkataan Nara.
"Ya itu udah konsekuensi, Sayang! Ya kita sama-sama capek, tapi aku juga berusaha sebisa mungkin untuk nggak ngeluh! Ini semua udah terjadi, apa yang perlu kita keluhkan? Lalu, apa bakal ada yang berubah waktu kita ngeluhin perasaan kita? Nggak ada, Sayang." Nara berusaha memberitahu suaminya itu bahwa tidak ada yang berubah sama sekali jika mereka hanya bisa mengeluh.
Nara ingin membalas ucapan pria itu, namun sepertinya tidak akan didengar sama sekali dan justru membuat semuanya semakin rumit.
__ADS_1
"Kamu enak lebih banyak di rumah! Sedangkan aku? Masih harus mikirin kamu, mikirin Syakila, mikirin kerjaan kampus, suruh kerja juga! Kamu cuma mikirin Syakila doang!" Rendi mulai semakin marah dan sepertinya mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
"Ya udah, maaf ya. Aku nggak bermaksud bandingin kegiatan kamu sama kegiatan aku. Iya aku ngerti kok, kamu pasti capek dan nggak bisa kalau harus kerja banyak-banyak. Pelan-pelan aja. Kalau kamu bisa berangkat ya berangkat, kalau nggak bisa ya udah." Nara berdiri dari kasur dan memeluk suaminya itu dari belakang. Berucap lembut dan berusaha mengerti situasi Rendi.
"Aku capek banget kalau harus lakuin semuanya. Bapak juga nggak biasanya begitu kok!" Rendi masih saja menyalahkan ibu tirinya.
"Iya, Rendi. Aku ngerti kok. Mungkin mereka juga takut kalau mereka nggak bisa kerja karena satu dan lain hal. Ada saatnya orang tuaku pensiun, orang tua kamu juga mungkin nanti bisa aja capek, atau sakit, dan bikin mereka nggak ada pemasukan. Kalau udah gitu, kita sebagai anak pertama bukannya harus membantu mereka? Bukannya cuma kita satu-satunya harapan mereka?" Nara berusaha bicara baik-baik dengan suaminya itu.
Hingga Rendi pun terdiam beberapa saat dan berusaha mencerna perkataan Nara yang memang benar adanya, dan membuat Rendi merasa bersalah.
"Maaf ya, aku ternyata egois dan nggak mikirin mereka sama sekali. Harusnya aku bisa lebih baik dari ini." Rendi mulai sadar dan memegang kedua tangan Nara.
Nara pun tersenyum dan bersandar di punggung lebar pria itu.
"Nara, sepertinya karena sudah lama aku tidak melakukannya denganmu, aku jadi mudah setres dan emosi." Rendi memberikan suatu kode kepada istrinya itu.
Rendi pun berbalik badan dan memeluk tubuh istrinya itu, ia menarik dagu Nara dan mengarahkan wajahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan dengan lembut. Mata Nara terpejam merasakan hal yang sudah lama tidak ia rasakan. Memang sudah lama mereka tidak berhubungan suami istri semenjak Nara kembali dari rumahnya.
Rendi membawa Nara ke kasur dan menyentuh titik lemah Nara yang jelas membuat Nara merasakan geli dan tubuhnya juga semakin terasa panas.
Mereka pun melakukan hubungan suami istri yang membuat hubungan mereka semakin intens dan Rendi merasa pikirannya sudah tenang saat nafsunya itu berhasil ia lampiaskan kepada istrinya.
Namun, saat berada di atas Nara dan menggerakkan tubuhnya hingga membuat ranjang berdecit, Rendi justru seperti melihat Adel yang ada di hadapannya.
Rendi terkejut dan berhenti sebentar, membuat Nara yang sedang menikmati gerakan Rendi pun bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?" tanya Nara.
Rendi pun berusaha mengatur nafasnya dan kembali melihat Nara berada di hadapannya. Ternyata ia membayangkan Adel yang ada di hadapannya.
"Oh ... nggak papa kok. Kamu cantik banget," puji Rendi kepada istrinya.
Hal itu membuat Nara langsung malu dan tersenyum.
Rendi pun menggerakkan tubuhnya lagi hingga membuat kasur mereka berdua berbunyi, hembusan nafas Rendi dan Nara yang saling menggebu-gebu membuat sensasi di kamar tersebut semakin memanas.
Keringat Rendi pun mulai keluar dan suara erangan Nara terdengar memenuhi kamar tersebut, membuat Rendi semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya. Namun, entah mengapa ia selalu memikirkan soal Adel terus menerus.
"Sayang, kamu beda banget hari ini. Aku bahkan udah mau keluar," ucap Nara dengan suara yang lembut dan merasakan tubuhnya sudah panas. Selain itu, ia merasakan akan ada sesuatu yang keluar.
"Kamu juga ngerasain ya? Emang hari ini punya kamu enak banget kok. Keluar bareng ya?"
Gerakan Rendi semakin cepat dan membuat tubuh Nara tidak bisa menahan lagi. Mereka pun mengeluarkannya bersama dan membuat mereka kewalahan. Terutama Rendi yang sedari tadi berada di atas Nara.
Setelah sudah selesai, Rendi langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya. Sedangkan Nara masih terbaring di kasur dengan tubuh yang lemas, seakan energinya sudah keluar semua.
Nara pun membersihkan tubuhnya setelah Rendi selesai memberishkan, lalu masuk ke kamar lagi untuk berganti pakaian. Rendi yang sedang berada di kasur pun langsung berdiri dan mencium kening Nara dengan lembut.
"Kamu lagi pengen ya? Nggak kaya biasanya loh." goda pria itu.
"Ih! Apaan sih! Sejak menyusui Syakila, emang aku jadi gampang banget kepancing, tau." Nara sedikit malu.
__ADS_1
"Nggakpapa. Nggak masalah kok, aku malah suka." Rendi tersenyum dan memeluk istrinya itu.
Baru kali ini hubungan mereka begitu manis dan Nara pun semakin jatuh cinta kepada suaminya itu, tanpa tahu kebusukan suaminya di belakang Nara.