
Beberapa minggu pun kembali berlalu, di mana Nara sudah tidak bisa memberikan asi kepada putrinya lagi, karena entah mengapa tiba-tiba asinya berhenti dan sama sekali tidak keluar. Namun, ibunya Nara berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang penting Syakila tidak rewel karena sudah tidak mengonsumsi asi sejak usia 6 bulan. Meski begitu, Nara cukup khawatir dan takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk putrinya.
Semakin lama ia melakukan KKN, kegiatannya semakin banyak dan semakin sibuk. 45 hari juga waktu yang cukup sebentar untuk dirinya, dari pada harus KKN selama 3 bulan.
Hari itu, para wanita sedang mengikuti kegiatan rutin ibu-ibu, sedangkan yang pria sedang membantu penduduk desa membangun saluran air agar bisa mendapatkan air secara merata. Nara tengah bersama dengan Evi dan Lies, sedang berada di dapur balai desa untuk menyiapkan minuman.
"Oh iya, besok kalau nggak salah tuh giliran kamu sama Gibran yang jaga balai desa ya?" tanya Evi dengan tiba-tiba.
"Sepertinya begitu, emang kenapa? Mau tuker shift?" Nara menawarkan hal yang tentu saja semua wanita ingin mendapatkannya.
"Nggak ah! Aku belum siap deketin Gibran, lebih takut ditolak sih. Ternyata dia baik banget ya, cakep pula! Nggak ngerti deh gimana rumor aneh soal dirinya bisa menyebar semudah itu," ucap Evi.
"Eh iya bener juga, ketenarannya juga nggak main-main loh! Satu universitas bisa tahu semua!" Lies juga heboh mendengar cerita Evi, sedangkan Nara yang tahu semuanya hanya bisa diam saja dan menyimak pembicaraan kedua temannya sembari mengaduk teh hangat untuk disuguhkan kepada semua ibu-ibu di balai desa.
"Kalian udah kaya emak-emak aja. Kalau gosip lancar banget loh," celetuk Nara.
"Habisnya mereka keren banget! Apalagi ketua BEM kita! Manis banget tahu. Aku nggak nyangka sih kalau dia bakal pacaran sama sekretarisnya sendiri. Tapi ceweknya manis banget nggak sih!" Pembahasan berubah menjadi pembicaraan mengenai Rendi dan Adel.
"Nggak ah! Cewenya norak banget! Pasti numpang pansos doang, tapi meski gitu, aku tetep suka sama Rendi sih." Lies nampak terkesima sendiri membayangkan wajah pria yang merupakan suami Nara.
Di situ Nara hanya bisa menghela nafas panjang saja dan berusaha tidak tahu apa yang terjadi.
Mereka bertiga pun menyelesaikan tugas mereka di dapur dan setelah semua orang pulang, mereka langsung beres-beres balai desa. Saat sedang membersihkan seluruh gedung karena hari sudah mulai sore, tiba-tiba ponsel Evi berbunyi, memang sengaja tidak ia senyapkan karena takut ada sesuatu yang penting.
Sembari beristirahat, ia duduk di kursi lebih dulu untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya. Ternyata itu adalah pesan dari grup kelasnya, ia langsung terbelalak melihat kabar yang tengah menyebar di kalangan mahasiswa yang tengah KKN.
"Guys! Coba lihat ini!" teriak Evi yang teriakannya menggema di seluruh gedung.
__ADS_1
Nara dan Lies yang sedang fokus membersihkan ruangannya langsung mendekati Evi dan melihat ke arah ponselnya.
"Apaan sih?" tanya Nara yang penasaran.
Matanya juga langsung terbelalak saat mendengar kabar yang sangat tidak mengenakkan.
"Kalian tahu nggak? Ternyata ada skandal waktu KKN loh! Mereka ketahuan lagi gituan di kamar mandi!" ucap salah satu teman Evi.
Perbincangan itu langsung menjadi topik pembicaraan semua orang di situ, hingga salah satu mahasiswa menyebut bahwa yang melakukan tindak asusila tersebut adalah sang ketua BEM dan juga wanita yang menyukainya sejak awal.
DEG!
Jantung Nara langsung tak bisa dikontrol dan tubuhnya terasa panas dingin, apakah benar Rendi terlibat skandal? Ataukah itu hanya berniat menjelekkan nama baik Rendi saja? Namun, jika terus begitu maka jabatan Rendi sebagai ketua BEM juga akan hancur.
Nara membuka juga grup kelasnya dan semua orang membahas soal Rendi dan wanita yang entah siapa namanya itu. Menurut kabar, Rendi melecehkan wanita itu, namun, ada juga yang bilang jika Rendilah yang dilecehkan. Kabar itu menjadi simpang siur dan membuat Nara sangat cemas.
Saat sedang seperti itu, tiba-tiba terdengar seseorang berlari dari tempat parkir dan masuk ke balai desa dengan nafas yang terengah-engah. Ia mencari seseorang, dan saat matanya bertemu dengan Nara ia langsung mendekati wanita itu.
"Loh? Gibran?! Bukannya kamu lagi ngecat?" tanya Evi yang terkejut Gibran sudah berada di balai desa dengan pakaian yang terkena noda cat dan tanah.
"Iya, aku memasrahkannya sama wakil ketua. Ngomong-ngomong, boleh pinjam Nara sebentar? Aku ada perlu sama dia," ujar Gibran yang berusaha ramah kepada kedua teman Nara dan berusaha tidak panik juga.
"Iya bawa aja, kita udah kelar kok."
"Thankyou ya, minta tolong juga bawakan motor Nara ya? Dia biar bonceng aku," pinta Gibran yang langsung pergi keluar dan diikuti oleh Nara juga. Nara berpamitan kepada kedua temannya itu dan ikut Gibran pergi.
Mereka berdua langsung pergi dari balai desa dan menuju ke rumah tempat mereka singgah, Gibran mengajak bicara Nara di teras, kebetulan semua orang sedang pergi.
__ADS_1
"Udah baca rumornya? Udah coba hubungi Rendi?" tanya Gibran yang mulai panik.
"Ini aku baru mau hubungi. Kenapa sih Rendi nggak kapok-kapok ih! Katanya takut nama baiknya hancur, dianya malah ngerusak nama baiknya sendiri!" ketus Nara sembari mengirimkan pesan kepada Rendi.
"Aku takut kamu shock dan panik pas denger kabar gitu, makanya aku langsung dateng," ucap Gibran sembari berusaha menatap wajah Nara yang nampak bersedih sekaligus kesal.
Wanita itu hanya diam saja dan fokus pada ponselnya, lalu mengirimkan pesan kepada Rendi, ia masih berusaha menghubungi Rendi meskipun agak susah dan bahkan tidak dibalas sama sekali.
"Ayo kita ke sana!" ajak Nara.
"Mau ngapain?" tanya Gibran yang menurutnya hal itu cukup buang-buang waktu.
"Rendi nggak bisa dihubungi loh! Dia janji mau perbaiki diri, aku yakin itu bukan Rendi yang lakuin. Kita ke desa Rendi ya? Aku tahu nama daerahnya kok!" ucap Nara yang semakin panik.
"Tenang dulu, Nara. Kita nggak bisa langsung ke sana," ucap Gibran.
"Kenapa? Kita bisa ungkap aslinya dengan ketemu langsung kan!" Nara semakin keras kepala.
"Bukan gitu masalahnya, Nara."
"Terus apa? Kita harus ke sana!"
Gibran juga semakin bingung karena Nara panik. Karena kesal dengan wanita itu, Gibran langsung menarik tangan Nara hingga wanita itu berada dalam pelukan Gibran sekarang. Padahal mereka sedang di depan rumah, dan untungnya tidak ada orang.
Nara yang kini ada di pelukan Gibran langsung terdiam begitu saja dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tenangin diri kamu dulu. Kamu harus ingat, kamu itu nggak bisa muncul di publik secara tiba-tiba, apalagi menyangkut Rendi. Jangan gegabah, Nara. Kita tunggu sebentar ya?" ucap Gibran dengan lembut sembari mengusap rambut dan punggung Nara.
__ADS_1
Jantung wanita itu berdegup kencang, namun, ia hanya bisa diam saja. Selain itu, hatinya juga semakin tenang sekarang dan mulai menenangkan dirinya. Pelukan Gibran benar-benar hangat, bahkan rasanya Nara tidak ingin melepaskan pelukannya itu.