Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Ibu yang Tak Dipedulikan


__ADS_3

Setelah hari kelahiran Syakila, Nara masih dipantau sampai benar-benar pulih. Syakila keluar dari perut Nara jam 2 pagi, dan saat ini Nara masih berada dalam pemulihan.


Ia terbangun jam 7 pagi dan terlihat langit sudah mulai cerah, bahkan matahari sudah terbit. Ia merasa sangat lemas, bahkan untuk duduk pun rasanya mau ambruk. Ia kekurangan banyak darah. Rendi masih mengurus beberapa administrasi yang harus dibayarkan, dan suster pun masuk dengan membawa sarapan pagi.


"Bu, ini buku KIA nya, lalu ini surat keterangan lahir punya anak untuk pembuatan akta kelahiran. Karena kondisi ibu dan bayi baik-baik saja, maka boleh keluar nanti jam 2 siang ya, Bu. Selama itu masih kami pantau terus," ucap suster kepada Nara.


Nara pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kala mendengar penjelasan suster, setelah tanda tangan Nara langsung mengambil makanannya. Entah mengapa perutnya terasa lapar sekali. Rasanya ia tidak bisa lagi menahan rasa laparnya itu.


Nara langsung melahap makanan yang disediakan di sana dengan cepat, seakan sudah lama tidak makan. Beberapa menit kemudian, ibunya datang untuk menjenguk Nara, disusul oleh suster yang baru memandikan bayi dan masuk untuk memberikan beberapa cara mengganti pakaian bayi


"Lagi makan? Mau ibu suapin?" tanya ibunya Nara.


"Nggak usah, aku laper banget, jadi makannya cepet."


"Dari tadi waktu dateng nggak makan apapun?" tanya ibunya.


"Nggak, hehe."


Ibunya Nara hanya menggelengkan kepalanya saja, Nara lalu diminta untuk melihat suster yang sedang mengganti pakaian Syakila.


Setelah selesai, ibunya Nara langsung menggendong cucunya dengan gemas, sedangkan Nara dibiarkan makan dulu. Ia tak makan apapun dari semalam, jadi sudah pasti Nara kekurangan darah dan nutrisi.


Setelah selesai makan, Nara menyusui anaknya itu, dan ini kali pertamanya ia melakukan hal seperti itu. Awalnya terasa sakit, namun, makin lama ia makin terbiasa, Nara tersenyum melihat anaknya yang lahap meminum asinya.


"Ayah mana?" Nara melihat ke belakang ibunya dan tak menemukan sosok ayahnya.


"Ayahmu masih di rumah kamu, dia lagi bersih-bersih buat kedatangan anak kamu nanti," ucap ibunya Nara dengan lembut.


"Ah, kenapa ayah tidak bisa istirahat saja sih," ucap Nara dengan penuh rasa bersalah.

__ADS_1


"Ayahmu memang seperti itu, bukan?" Ibunya Nara justru tersenyum.


Hingga jam menunjukkan pukul 2 siang, Nara dinyatakan sudah baik-baik saja dan bayinya juga sehat boleh langsung pulang. Suster akan datang selama satu minggu penuh sampai pusar bayi terlepas.


Saat Nara akan pulang, ayahnya menjemput Nara dengan menggunakan mobil. Sampai di kontrakannya, ternyata kontrakan Nara sudah bersih dan beberapa tata letak barangnya sudah diubah agar menjadi lebih lebar dan nyaman untuk ditinggali. Hal itu membuat Rendi merasa malu.


Di kontrakan, Nara dan Rendi diminta untuk istirahat lebih dulu, sedangkan ibu dan ayahnya Nara menjaga Syakila. Setelah mereka bangun, orang tua Nara pun memutuskan untuk pulang, karena ada hal lain yang harus dikerjakan.


"Nara, Rendi. Ibu sama ayah pulang dulu ya. Kalian udah ada Syakila sekarang, jadi, kalian harus lebih berusaha lagi ya. Rendi juga harus bantu Nara mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan Nara, harus bisa lebih rapi lagi ya? Menjadi seorang ibu itu capeknya luar biasa, rawat dulu Syakila selama liburan ini, setelah itu nantinya harus bagaimana, bisa kita pikirkan nanti." Ibunya Nara memberikan wejangan kepada kedua anaknya itu.


"Baik, Bu."


Nara pun langsung diberi uang oleh kedua orang tuanya dengan nominal yang cukup banyak. Tidak sampai satu juta tapi setidaknya bisa untuk hidup mereka berdua.


Ada perasaan sedih yang dirasakan oleh Nara, karena setelah ini dia harus berjuang sendiri. Setelah kedua orang tua Nara pulang, datanglah keluarga Rendi yang memang sangat ingin melihat anak Rendi.


Ayah, ibu tiri, bulik, neneknya Rendi, datang mengunjungi Nara dan ingin bertemu bayinya. Rumah menjadi sangat ramai dan cukup hangat.


"Padahal waktu hamil nggak pernah dipantau, untung lahir selamat," sambung buliknya Rendi yang memang perkataannya menyakitkan, mungkin karena dia belum punya keturunan setelah bertahun-tahun menikah.


"Untung anaknya baik-baik saja. Minumnya banyak?" tanya neneknya.


"Iya, banyak. Alhamdulilah asinya juga keluar banyak," jawab Nara.


"Syukurlah. Selamat ya, Nak." Neneknya Rendi mengusap kepala Nara dengan lembut sembari menggendong bayinya.


"Jangan males masak lagi, kamu sama bayi kamu butuh asupan yang sehat loh," tutur buliknya Rendi.


"Nggakpapa, Mbak Nara kalau kerepotan boleh makan di rumah ibu ya? Kamu harus banyak istirahat, selain itu kesehatan juga perlu, jadi semangat ya, Nak." Ibu tirinya Rendi nampak begitu baik terhadap Nara.

__ADS_1


"Iya, Nak. Jangan sungkan buat bilang sama bapak ya? Bapak bakal bantuin kamu," ucap ayahnya Rendi dengan perasaan bahagia.


"Terima kasih ayah, ibu." Nara juga bersyukur sekali karena bayinya begitu diperhatikan dan penuh dengan kasih sayang.


"Mending jangan muncul ke rumah kalian dulu deh, bahaya buat Rendi kan? Besok aja kalau Rendi udah lulus. Inget, beasiswa Rendi bisa dicabut kalau ketahuan punya anak loh," imbuh tantenya Rendi.


"Kamu nggak perlu ikut campur urusan keluarga saya, Pak Wahyu sudah memberikan kepercayaan penuh kepada keluarga saya untuk menjaga Nara. Jadi, nggak perlu mikirkan keluarga saya." Cara ayahnya Rendi menjawab membuat Nara bahagia dan merasa dibela secara tidak langsung.


"Ya maksudnya, kapan mereka belajar mandiri kalau terus menerus dibantu begitu? Masa udah nikah nggak bisa urus keluarganya sendiri?" sindir wanita tua itu.


Neneknya Rendi sudah paham jika mulut putrinya itu mulai kelewatan.


"Kalau gitu, kita pulang dulu ya? Jaga diri kalian baik-baik, rawat bayinya dengan baik, jangan sampai kekurangan cairan ya," pamit neneknya.


Mereka semua pun pulang dari kontrakan Nara, Nara juga tidak banyak bicara karena moodnya sudah rusak sejak awal tantenya Rendi membuka mulut.


Ayahnya Rendi memberikan uang 100 ribu untuk hidup mereka. Setelah semua orang pulang, mereka kini berdua saja di rumah itu.


"Maafin keluarga aku ya," ucap Rendi.


"Nggak masalah, lama-lama juga aku terbiasa," balas Nara dengan senyuman.


"Bapak bahkan nggak bantu biaya persalinan sama sekali. Aku nggak nyangka bapak seperti itu," tutur Rendi yang merasa kecewa.


"Ya udah sih, nggakpapa kok. Mereka pasti sayang sama anak ini, dan itu udah cukup buat aku kok." Nara menatap wajah putrinya yang tengah berada di gendongan Rendi.


"Sabar ya, Sayang. Kita pasti bisa melakukannya berdua."


Nara membalas ucapan pria itu dengan senyuman. Sejujurnya, Nara tidak butuh dibantu dengan uang, yang dia butuhkan adalah sebuah perhatian. Karena yang sedari tadi ditanyakan adalah kondisi sang bayi. Tanpa tahu bagaimana kondisi Nara yang menahan sakit karena perihnya jahitan di bagian vital Nara, perjuangan seorang ibu saat melahirkan, dan juga rasa sakit di punggung bak kehilangan tulang belakang.

__ADS_1


Tidak ada yang peduli dengan Nara sama sekali, kecuali keluarganya sendiri.


__ADS_2