
Sepanjang perjalanan, terlihat Nara nampak was-was. Di jalan juga tanpa diduga ia bisa mengobrol banyak dengan Rendi, meskipun bukan sesuatu yang penting juga, namun hal itu bisa membuat Nara tenang sedikit. Namun, saat sampai di kontrakan, jantung Nara berdegup sangat kencang dan merasa takut.
Saat sampai di depan pintu rumah, terlihat rumah mereka nampak bersih dan sudah dirapikan
oleh Rendi. Ternyata pria itu bisa bersih-bersih juga.
Nara pun membersihkan kasur yang ada di depan tv dulu dan setelah itu meletakkan Syakila di kasur itu. Syakila nampak sedang tertidur pulas karena capek perjalanan jauh. Rendi terlihat
juga membersihkan kamarnya dan membantu Nara menurunkan barangnya. Nara hanya
membawa sedikit pakaian saja, setidaknya bisa untuk ganti-ganti selama lima hari dia tinggal di
sana.
Saat selesai bersih-bersih, mereka duduk di depan tv dan beristirahat karena kelelahan perjalanan jauh. Nara sering sekali curi-curi pandang dengan Rendi, karena mau bagaimanapun juga Rendi adalah pria yang selama ini ia pertahankan dan ia perjuangkan meskipun dengan penuh lika-liku dan tidak semulus yang ia pikirkan.
“Kamu mau makan apa? Aku belikan ya?” tanya Rendi kepada istrinya.
“Terserah kamu, kamu pengen apa, belikan buat aku ya,” pinta Nara.
Rendi pun membuka ponselnya dan ternyata ia berniat memesan online, Nara sejenak berpikir, apakah Rendi juga menabung sama seperti saat Nara KKN? Karena sebenarnya Nara memiliki banyak uang di rekening yang lainnya, dia menyembunyikan uang itu untuk keperluan dirinya
sendiri dan juga Syakila. Jika dia memberitahukan kepada Rendi, mungkin uangnya juga akan
langsung dihabiskan untuk keperluan yang kurang penting.
Rendi terlihat sedang memesan makanan dan sangat antusias dengan makanan yang akan datang. Nara pun hanya tersenyum saja karena dia juga sangat lapar sedari tadi perjalanan dia tidak makan sama sekali.
Beberapa menit kemudian makanan pun datang dan Rendi langsung membayarnya dengan uangnya sendiri, Nara yang melihat itu tentu sangat senang karena berpikir ekonominya akan baik-baik saja dan dia juga akan bisa memperbaiki hubungannya dengan Rendi.
Setelah makanan tiba, mereka pun makan bersama dan Nara terlihat bahagia. Setelah itu Nara
membersihkan piring yang barusan mereka gunakan, dan disaat Nara sedang bersih-bersih, terdengar Rendi sedang bermain dengan putri kecil mereka dan itu bukanlah hal yang biasa
bagi Nara. Tanpa sadar, Nara tersenyum saat ia mendengar pria itu sedang bermain dengan Syakila.
Nara pun masuk dan melihat Rendi yang sedang menggendong putrinya, ini benar-benar hal
yang sangat tidak biasa. Nara mendekati pria itu dan tersenyum.
“Kamu kangen Syakila? 45 hari kayaknya kalian nggak ketemu,” ujar Nara.
“Iya kangen banget, waktu KKN rasanya hampa banget nggak dengar suara Syakila, dan
__ADS_1
rasanya kangen banget pengen ketemu Syakila,” ucap Rendi sembari memangku putrinya.
Nara semakin merasa lega dan bahagia mendengar itu, ia yakin sekali hidupnya akan jauh lebih
baik saat ini dan Rendi pasti akan memperbaiki semuanya agar bisa kembali harmonis seperti
dulu.
“Maaf ya kalau selama ini aku bikin kamu nggak nyaman tinggal sama aku, bahkan sampai
kamu ngerasa kalau kamu tinggal sendiri. Kamu marah sama aku?” tanya Rendi.
“Nggak kok, aku nggak pernah marah lama-lama sama kamu. Aku percaya kamu pasti
sebenernya peduli kok sama aku dan Syakila, cuma emang karena kamu lagi sibuk aja
mungkin jadinya pikiran kamu kalang kabut,” urai Nara sembari bersandar di pundak suaminya.
“Selama KKN aku ngerasa kesepian banget dan ternyata aku kangen banget sama kalian,”
ucap Rendi.
Nara sebenarnya ingin menanyakan perihal hubungannya dengan Adel, namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu, dia takut jika nanti Rendi marah dan sikapnya berubah lagi. Nara memilih untuk mengalah dan tidak tahu apa-apa dari pada harus marah
“Kamu beneran deket sama Gibran kah?” tanya Rendi dengan tiba-tiba.
Jantung Nara langsung seakan berhenti berdetak, ia berada di sana dengan tujuan untuk
membuat suaminya tidak marah lagi, namun sepertinya hal ini susah sekali dilakukan.
“Kenapa tiba-tiba tanya gitu?” tanya Nara.
“Kamu kelihatan deket banget sama Gibran loh, kemarin bukannya kita habis ketemu?” tanya Rendi sembari memangku putrinya.
Nara serasa susah saat ingin menelan salivanya, apalagi pertanyaannya itu sudah jelas memancing sebuah perkara dan sudah pasti akan membuat hubungan mereka bermasalah.
“Aku sama Gibran cuma temenan, nggak lebih. Dia juga kebetulan satu KKN sama aku. Kamu cemburu kah?” tanya Nara sembari sedikit menggoda Rendi.
“Iyalah! Kamu itu istri aku, masa aku nggakbcemburu waktu lihat kamu jalan sama cowok lain,”
ujar Rendi.
Nara pun terdiam sejenak dan tanpa basa-basi, langsung membalikan sebuah fakta.
__ADS_1
“Kamu sendiri gimana? Bukannya kamu sama Adel memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman?” tanya Nara yang sengaja membicarakan itu kepada suaminya, sudah telanjur
membawa topik yang seperti ini, maka sekalian saja ia bahas semuanya.
“Aku udah bilang kan? Aku khilaf banget dan sampai sekarang aku nyesel banget karena udah jahatin kamu. Ternyata Adel itu nggak sebaik kamu dan tetep kamu di hati aku,karena sekarang
nyatanya aku juga nyeselnya luar biasa karena udah ninggalin kamu,” ujar Rendi menjelaskan
semuanya.
Nara langsung mengambil Syakila dari gendongan Rendi dan memeluknya dengan erat, ia
seperti tahu jika akan ada pertengkaran di antara mereka berdua, jadi Nara segera menyelamatkan putrinya agar tidak menjadi korban dari suaminya.
“Syakila biar sama aku. Aku pingin tahu kenapa kamu sampai jahat banget ngelakuin itu ke
aku Padahal hubungan kita baik-baik aja loh, Rendi. Aku bahkan bisa menjaga nama baik
kamu loh,” ujar Nara.
“Aku ngerasa kita merenggang aja sih, mungkin lebih ke bosan aja karena setiap hari kita
ketemu dan aku juga capek karena harus kuliah, sama harus kerja juga. Kita juga jarang banget
bicara, kamu juga seakan menjauh dari aku.” Rendi justru lebih menyalahkan Nara.
“Oke aku anggap kamu bosan sama aku. Haruskah kita cerai?” Nara langsung menawarkan hal
yang selama ini dia inginkan meski dengan berat hati.
“Jangan! Kalau kita cerai, kamu nggak kasihan sama Syakila? Kamu juga nggak kasihan sama aku? Kamu tahu sendiri aku nggak ada yang ngurus kalau di rumah, bahkan apa-apa beli sendiri. Aku dipaksa hidup mandiri.” Rendi mulai mengeluarkan sifat aslinya.
“Kamu nggak kasihan sama perasaan aku yang selama ini buat mainan kamu? Aku bahkan sampai takut ketemu kamu lagi karena trauma loh, Rendi. Kalau sayang, aku masih sayang
sama kamu dan mau mempertahankan rumah tangga kita. Tapi kamu sendiri malah gitu ke aku
loh,” ujar Nara yang berusaha menahan rasa tangis karena sakit hati yang luar biasa.
“Iya aku tahu, Nara. Maka dari itu, aku bakal berusaha memperbaiki semuanya mulai dari sekarang ya? Aku janji bakal bikin kamu sama Syakila bahagia, kita mulai dari 0 lagi ya?” ajak Rendi dengan bersujud dan memohon kepada sang istri.
Nara jadi semakin penuh dengan rasa bimbang, apalagi Rendi bicara nampak serius. Pada akhirnya, Nara pun hanya menganggukkan kepalanya saja karena memang dia ingin mempertahankan dan memperbaiki hubungan suci ini untuk selamanya.
Ia berharap tiada lagi air mata dalam pernikahan ini.
__ADS_1