
"Nara!"
Gibran yang berada di ambang pintu terlihat panik saat melihat Nara sudah memegang silet dan mengarahkannya ke pergelangan tangannya. Pria itu langsung mengambil silet tersebut dan membuangnya ke sisi lain ruangan itu.
Gibran menggenggam kedua tangan Nara dengan erat.
"Kamu mau ngapain, Nara! Hah?!" Gibran nampak khawatir dengan wanita itu.
"Lepasin, Gibran! Aku capek dengan semuanya! Aku nggak mau idup lagi! Aku lebih baik mati dari pada harus bertahan seperti ini!" teriak Nara yang sudah frustasi.
"Sadar, Nara! Sadar!" Gibran mengayunkan tubuh Nara perlahan dan berusaha menyadarkan wanita itu.
"Kamu nggak tahu rasanya! Sakit, Gibran! Aku capek harus bertahan dengan kondisi seperti ini! Aku capek harus bertahan dengan pria itu! Kamu nggak bakal tahu rasanya!" teriak wanita itu sembari mengeluarkan air mata dan amarahnya meluap-luap.
"Tapi nggak gini caranya, Nara." Gibran masih berusaha menenangkan Nara.
"Terus aku harus gimana lagi biar semua ini cepat usai kalau bukan dengan menghabisi nyawaku sendiri!" bentak wanita itu.
Gibran paham betul wanita itu mengalami shock dan frustasi berat. Luka di tubuhnya pasti membuat Nara trauma dan juga sakit yang luar biasa. Dengan cepat, Gibran langsung memeluk wanita itu dengan erat dan menenangkan Nara yang masih terus memberontak dalam pelukan pria itu.
"Kenapa harus aku yang menderita sendiri! Emangnya cuma Rendi yang menderita?! Aku juga menderita dan kesusahan merawat Syakila sendirian tau! Aku capek! Capek banget!" berontak Nara dalam pelukan Gibran. Namun, pria itu masih terus mendekap erat wanita di hadapannya itu.
"Iya, Nara. Aku ngerti kok, pasti berat. Pasti susah," ujar Gibran dengan suara lembut.
"Semua orang nggak akan pernah ngertiin aku sama sekali! Mereka hanya mengerti diri mereka sendiri! Mereka nggak akan tahu susahnya merawat anak dan juga berhadapan dengan suami yang kejamnya luar biasa!" teriak Nara yang masih terus mengeluarkan keluh kesahnya.
__ADS_1
"Iya, Nara. Iya aku ngerti." Gibran masih tetap berusaha untuk menenangkan wanita itu.
Lama kelamaan, Nara yang kehabisan tenaga dan tidak bisa mengeluh lagi, langsung menangis di dalam pelukan pria itu dan hanya pasrah saja. Tenaganya habis dan dia sudah tidak bisa mengeluhkan apa-apa lagi. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk mengeluhkan semuanya.
"Aku capek banget, Gibran. Selama ini aku bertahan buat dia, ternyata dia selingkuh, dia juga menghancurkan hidupku, bahkan nggak pernah sama sekali peduli sama Syakila." Nara menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Gibran. Semua air mata tumpah di pipinya dalam sekejap karena selama ini, hal yang sudah mengganggunya berhasil ia ungkapkan di depan orang lain. Nara terlalu lama memendam semuanya sendiri.
"Iya, pasti capek ya. Kamu harus bertahan, karena mau bagaimanapun juga masih ada anak yang harus kamu besarkan, dia adalah tanggung jawab kamu." Gibran mengusap rambut Nara dengan lembut, berusaha menenangkan wanita itu agar tidak lagi tertekan.
Nara terdiam sejenak di pelukan pria itu, sudah lama sekali dia tidak merasakan kenyamanan seperti itu dalam pelukan seorang pria. Ia sudah lama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Nara memeluk balik Gibran, meskipun jantungnya berdegup dengan kencang, namun dia menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
"Jangan kebanyakan mikir. Kamu harus bisa terima dan menjalani apa yang sudah terjadi. Karena Rendi bersikap seperti itu denganmu, bercerailah dengannya. Dia tidak baik untukmu." Gibran memberikan saran perlahan, dengan harapan Nara akan mendengarkannya dengan baik.
Nara hanya diam saja mendengarkan suara pria itu yang begitu menenangkan di telinga Nara. Pikiran Nara yang tadinya campur aduk, menjadi sudah jernih kembali.
"Sudah ya, jangan terlalu dipikirkan. Otak kamu itu kecil, jangan terlalu banyak mikir yang berat-berat. Fokus aja sama diri kamu juga Syakila. Saat ini, dia adalah orang yang paling penting dan berharga buat kamu." Gibran mengusap kepala Nara dengan lembut.
Nara melepaskan pelukan Gibran dan mengusap air matanya. Gibran membantu mengusap air mata Nara dan tersenyum di hadapan wanita itu.
"Jangan berpikir mau mengakhiri hidup lagi, Nara. Diselingkuhi, atau pisah dari Rendi itu bukan akhir dari segalanya. Harusnya kamu bersyukur karena kamu dikasih petunjuk seperti ini, artinya kamu sedang ditunjukkan bahwa pria yang kamu nikahi itu bukanlah pria baik-baik." Gibran memberikan saran kepada Nara.
"Jujur aja, aku sayang sama Rendi meskipun dia nggak pernah nafkahi aku. Karena pernikahan bagiku itu sakral dan sekali seumur hidup. Tapi sepertinya kamu benar. Aku menikahi orang yang salah." Nara menundukkan kepalanya dan merasa sangat sedih.
Rendi tidak habis pikir mendengar jawaban Nara seperti itu. Padahal dirinya sudah sangat tersakiti, namun, mengapa mau saja dia memberikan kesempatan kepada Rendi?
"Ada baiknya kamu pikirin diri kamu sama Syakila dulu ya. Terus pikir juga kira-kira setelah ini kamu mau ngomong gimana sama kedua orang tua kamu." Gibran mengusap rambut Nara lagi.
__ADS_1
Pria itu jadi sering mengusap rambut Nara karena gemas dengan wanita itu.
"Syakila mana?" Nara baru sadar jika Syakila tidak ada di kamar.
"Dia tidur di depan tv. Kekenyangan minum terus. Kamu makan ya? Dari tadi kamu belum makan loh, perut kamu kosong, kamu nggak mau kasih asi ke Syakila?" Gibran masih mengkhawatirkan kondisi Nara.
"Nanti aku makan. Terima kasih ya udah jagain Syakila. Ini udah malam, juga. Kamu yakin nggakpapa aku tinggal di rumah kamu?" tanya Nara sembari melihat ke luar jendela yang di luar sudah gelap gulita.
"Nggakpapa. Kamu kalau sendiri, pikiran kamu lagi nggak jernih. Bisa aja kamu yang kena atau bahkan Syakila yang kena. Di sini dulu aja ya? Kalau perlu, aku tidur sama Syakila deh," ujar Gibran.
"Jangan ...." Nara tidak ingin ditinggalkan oleh pria itu dan dia juga tidak enak dengan Gibran.
Gibran melihat wajah Nara yang tertunduk, mencoba bertatap mata dengan wanita itu.
"Terus kamu maunya gimana?"
Nara terdiam sejenak dan sedikit malu-malu.
"Ka–kamu tidur di sini aja. Temani aku dan Syakila," pinta Nara.
Entah mengapa Nara meminta begitu kepada Gibran. Sejak terus menerus ditenangkan oleh Gibran, Nara jadi merasa ketagihan. Ia belum pernah mendapatkan belaian setulus itu.
"Ya udah aku temenin kamu di sini. Bener nggakpapa nih? Nggak nyesel?" Gibran kembali memastikan.
Nara menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Gibran justru tersenyum mendengar jawaban Nara yang seperti itu. Setidaknya, Gibran bisa ada saat Nara butuh saja sudah cukup untuk Gibran, ia tidak meminta lebih dari Nara.
__ADS_1
Semenjak ditinggal oleh Nara, terlihat Gibran menelpon Nara berkali-kali dan juga berkirim pesan yang meminta Nara untuk pulang dan Rendi meminta maaf kepada Nara. Namun, ada pula pesan yang menunjukkan bahwa Rendi marah.
Bagaimana Nara bisa kembali ke Rendi? Tubuh Rendi pernah dijamah oleh wanita lain yang bukan istrinya, mengingat hal itu saja Nara merasa jijik dan semakin tidak ingin pulang menemui Rendi.