
"Pak, tenang dulu. Sabar!" Sang ibu nampak berusaha untuk menenangkan suaminya yang sudah terlihat naik pitam.
Baru kali ini Rendi merasakan sakitnya ditampar, bahkan rasanya dadanya sesak dan ingin menangis.
"Pak, mohon maaf, Rendi baru saja sadar. Tolong jangan bermain tangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik." Gibran juga berusaha untuk menenangkan bapaknya Rendi.
"Bagaimana aku bisa bersabar jika di hadapanku ini terdapat putraku yang sudah menyakiti perasaan orang lain! Pikirkan dulu sebelum bertindak, Rendi! Astaghfirullah." Bapaknya Rendi nampak lebih frustasi ketimbang Rendi.
"Maaf pak."
Rendi hanya bisa menunduk dan meminta maaf. Ia tahu konsekuensi atas semua yang sudah ia lakukan selama ini.
"Rendi, bukan soal kamu bisa bayar UKT kamu atau tidak, ini soal perilaku dan adab kamu! Bapak sebenarnya nggak peduli uang kuliah kamu mau semahal apa, yang penting sikap kamu itu baik! Bapak bangga kamu jadi ketua BEM karena bapak percaya sikap kamu yang begitu baik kepada semua orang sampai mereka percaya kepadamu dan memilihmu. Namun, bagaimana perasaan mereka jika ternyata yang mereka pilih zonk!" hardik bapaknya Rendi.
"Maaf, Pak. Maafin Rendi." Rendi hanya bisa tertunduk lemas.
"Terus sekarang mau kamu gimana? Jabatan kamu dicabut, beasiswa kamu juga ikut dicabut, nama baik kamu jadi jelek, kamu mau apa sekarang, Rendi?" Ayahnya Rendi sudah semakin gemas dan kesal kepada putranya sendiri.
Terlihat ibu tiri Rendi hanya bisa menangisi perilaku putranya itu. Ia juga sadar diri jika sebagai ibu tiri, ia sangatlah tidak dekat dengan Rendi. Mungkin itu yang membuat Rendi susah menghormati seorang wanita.
"Nak, sekarang Nara di mana? Kamu udah minta maaf sama Nara?" tanya sang ibu.
Rendi pun semakin sedih dan melihat ke arah Gibran, seakan memberikan sebuah kode untuk bicara perihal Nara.
"Maaf, Pak, Bu, jika saya menyela. Untuk saat ini, Nara dan Syakila berada di dalam pengawasan saya juga. Namun, Nara ingin cerai dengan Rendi setelah tahu dia menghamili Adel."
Ucapan itu semakin membuat keluarga Rendi sangatlah bersedih. Terutama ibu tirinya yang justru semakin larut dalam kesedihannya.
__ADS_1
"Ya Allah, Rendi. Nara yang sebegitu sabarnya aja bisa sampai memutuskan untuk menceraikan kamu. Apa kamu nggak sadar kalau kamu sudah sangat keterlaluan?" ujar ibunya Rendi.
"Maaf, Bu. Rendi nggak bisa menghargai Nara. Rendi menyesal udah membuat Nara pergi dari hidupku. Ternyata cuma dia yang baik sama Rendi selama ini." Rendi menitihkan air matanya dan sangat menyesali perbuatannya itu.
"Sekarang kamu mau gimana? Mau nikahin Adel? Tanggung jawab lagi?" tanya ayahnya Rendi.
"Nggak mau, aku nggak mau sama Adel. Nara jauh lebih baik dari Adel. Aku menyesal sudah membuat Nara menjauh dariku," ujar Rendi dengan berurai air mata.
Sebagai sesama pria, kali ini Gibran melihat bahwa itu bukanlah air mata palsu. Baru kali ini Gibran melihat Rendi sangat menyesali perbuatannya itu.
"Nasi sudah menjadi bubur, Nak. Jika memang itu kemauan Nara, kamu harus menurutinya. Hati tidak bisa dipaksakan. Lalu, jika kamu tidak menginginkan untuk bersama dengan Adel, jauh lebih baik jika kamu bicara kepada Adel untuk menjauh darimu." Ibu Tiri Rendi nampak mengeluarkan sebuah kalimat yang akan semakin merusak citra Rendi.
"Kok gitu, Bu?" tanya Rendi.
"Nama baik kamu sudah hancur, lebih baik nama baik kamu yang hancur daripada hidup kamu yang hancur. Ibu juga tidak setuju jika kamu hidup dengan Adel, penampilannya saja sudah begitu. Ibu tidak mau."
Rendi berpikir sejenak dan memikirkan bagaimana cara ia bisa menolak Adel. Di satu sisi lain, dia juga berpikir untuk bicara secara kekeluargaan dengan Nara. Rendi juga ingin banyak mengucapkan kata maaf kepada istrinya itu. Selama ini, Rendi tidak pernah memperlakukan istrinya dengan baik.
"Gibran, bisakah kami bertemu dengan Nara?" tanya Rendi dengan tiba-tiba.
Sedari tadi, Gibran dibiarkan ada di sana untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Karena nantinya Gibran juga akan bicara dengan Nara atas semua yang sudah terjadi.
Gibran sedikit keberatan jika harus mempertemukan Rendi dan Nara lagi. Karena takut jika Nara akan kembali berubah pikiran dan hidupnya tidak akan pernah bahagia.
"Biar aku sampaikan kepada Nara apa yang sudah terjadi di hari ini. Terakhir, Nara sama sekali tidak ingin menemuimu. Dia sudah sepakat untuk bercerai, ia juga sudah mengurus surat cerainya." Gibran memperjelas keadaan yang terjadi kepada Nara.
Memang surat cerainya sudah diurus dan sebentar lagi akan selesai. Itu pun karena bantuan dari Gibran juga.
__ADS_1
"Nak, tolong sampaikan maaf kami kepada Nara. Selama ini kami merasa bahwa tidak pernah memperlakukan menantu kami dengan baik. Maafkan semua kesalahan kami " Sang ayah berkata dengan penuh ketulusan.
"Baik, nanti akan saya sampaikan." Gibran pun menganggukkan kepalanya dan kembali menyimak pembicaraan mereka.
Semakin lama, pembahasan mereka semakin berat, mereka benar-benar menolak kehadiran Adel di dalam hidup Rendi. Sedangkan di satu sisi lain, Rendi harusnya bertanggung jawab atas kehamilan Adel. Ia berada di dalam dilema yang sangat besar.
"Pak, Bu. Haruskah kita bicara dengan Adel sekarang? Jujur saja, tidak ada yang tahu jika aku sudah menikah dengan Nara, kecuali Gibran dan satu teman Nara." Rendi kembali mengusulkan sesuatu.
Orang tua Rendi saling menatap dan sedikit bingung dengan keputusan yang akan mereka ambil.
"Menurut saya juga akan jauh lebih baik jika Adel tahu identitas Rendi dan Nara yang sebenarnya. Siapa tahu itu akan membuat Adel berubah pikiran." Gibran kembali memberikan saran kepada mereka.
"Tapi, sepertinya kedua orang tua Adel bukanlah orang yang mudah dibujuk," lirih Rendi.
"Aku setuju denganmu, Rendi. Kemungkinan terburuknya, kalianlah yang akan diancam oleh mereka dan akhirnya kalian tetap bertanggung jawab." Gibran seakan tahu siapa Adel sebenarnya.
"Aduh, Rendi. Kamu itu bikin bapak pusing saja. Kenapa sih kamu nggak bisa kuliah dulu yang bener, malah ngehamilin anak orang lagi." Ayahnya Rendi masih kesal dengan sikap putranya itu.
"Maaf, Pak. Rendi khilaf, Rendi salah." Pria itu kembali tertunduk diam.
"Ya sudah! Begini saja. Kita semua akan bicara dengan Adel dan keluarganya. Lalu, setelah itu bapak mau bicara kepada Nara dan meminta maaf atas semua yang sudah terjadi. Dia belum pulang ke rumah, artinya orang tua Nara belum tahu masalah ini." Pria itu seperti sudah merencanakan sesuatu.
"Pak, lebih baik kita bicarakan dulu matang-matang, besok baru bertemu Adel. Nara tidak ada di sini, jadi kita yang harus merawat anak kita dan menyelesaikan semua masalah ini," ucap ibunya.
"Ya sudah, banyakin istirahat sekarang. Besok, suruh Adel kemari kalau perlu dengan keluarganya." Keputusan terakhir pun diambil oleh kepala keluarga.
"Baik, Pak. Aqkan kusuruh Adel untuk datang kemari besok," jawab Rendi.
__ADS_1