
Hari senin yang selalu di sebut sebagai monster day pun tiba. Hari itu, Nara nampak bersiap-siap untuk pergi ke kampus, karena harus berangkat pagi, Syakila bahkan tidak sempat dimandikan dan Nara mempasrahkannya kepada mbah Tik saja.
"Sayang, udah siap belum?" tanya Nara kepada Rendi.
"Bentar! Lagi pakai baju!" Rendi menjawab dari kamar dan merapikan pakaiannya, ia akan bertemu dengan Adel, jadi dia harus terlihat tampan dan menarik perhatian sebagai ketua BEM juga.
Nara tengah menata beberapa pakaian dan setiap hari senin, mereka tidak sempat sarapan karena keduanya masuk pagi.
"Ntar jemput aku bisa?" tanya Nara.
"Bisa dong, kan kita mau ke tempat bapak, kan?" Nara bahkan sempat lupa dengan janji semalam.
"Oh iya. Ya udah entar kabarin aja kalau udah selesai." Nara menggendong Syakila dan keluar dari rumah.
Rendi mengunci pintu dan memastikan tidak ada yang tertinggal sama sekali. Kehidupan mereka benar-benar cukup sibuk hingga membuat mereka sendiri kewalahan.
Rendi pun mengantarkan Syakila lebih dulu, baru habis itu mengantarkan Nara ke kampus. Hal itu sudah menjadi rutinitas mereka berdua dan Nara juga sudah terbiasa ribet seperti itu. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun atas keadaannya itu, yang ada di harus jadi lebih kuat lagi untuk menghadapi semuanya.
Saat sampai di kelas, terlihat Tia datang menghampiri Nara.
"Hei! Jadi balik kemarin?" tanya Tia yang memang menghubungi Nara sejak kemarin.
"Jadi dong." Nara nampak sumringah karena moodnya juga sedang bagus.
"Baguslah kalau gitu. Bentar lagi KKN, tahu. Kamu udah siap-siap belum?" tanya Tia.
Nara sempat terkejut, karena ia baru ingat jika sudah saatnya dia KKN, meskipun masih beberapa bulan lagi, namun dia tetap harus siap.
"Berapa hari sih?" Nara seakan tidak ingin terlalu lama melakukan KKN.
"Dulu mah sampai 3 bulan ya. Sekarang cuma 45 hari aja kok. Tapi sayang banget nggak sih, masa cuma 45 hari doang angkatan kita," ujar Tia.
__ADS_1
"Tiga bulan lebih lama lagi. Gabut banget tiga bulan di desa orang mau ngapain coba?" Nara sedikit keberatan dengan pernyataan wanita itu, selain karena menurutnya aneh, dan ia juga tidak bisa meninggalkan Syakila begitu saja.
"Iya juga ya?" Tia pun sedikit setuju dengan ucapan Nara.
Nara merasa bersyukur karena dia tidak perlu pergi meninggalkan Syakila selama 3 bulan dan hanya 45 hari saja. Namun, yang membuat Nara bingung adalah, Syakila akan tinggal dengan siapa?
Mereka berdua pun mengikuti perkuliahan dan terlihat serius menjalankan kuliah mereka. Hingga mereka selesai kuliah dan selesai pukul 2 siang tanpa istirahat. Nara berniat untuk langsung pulang, tapi tiba-tiba seseorang memegang lengan tangan Nara.
Grep!
"Eh?" Nara terkejut dan melihat siapa yang memegang tangannya itu. "Gibran?" kejut Nara.
"Kalian mau ke mana?" tanya Gibran dengan nafas terengah-engah.
"Mau pulang lah, kenapa?" Tia terlihat senang saat Gibran datang.
"Ada waktu nggak? Ikut aku yuk! Aku bakal traktir kalian deh!" ajak pria itu.
"A–aku nggak bisa. Aku harus balik sekarang." Nara berusaha untuk meminta pulang lebih awal, karena sudah terasa sakit di dadanya.
"Kenapa?" Gibran justru seakan menginginkan Nara ikut.
"Sama aku aja deh! Ayoo! Nara pasti sibuk mau ketemu sama si pacar brengseknya itu. Mending kamu sama aku deh!" ajak Tia kepada Gibran.
Namun, Gibran seperti menunjukkan sesuatu kepada Tia dengan memberikan kode lewat matanya. Tia yang mengerti kode itu langsung mengernyitkan keningnya dan melihat ke arah belakang Nara. Mengerti maksud Gibran, Tia langsung mengajak Nara dan menarik tangannya secara paksa.
"Eh ayo! Gue kemarin lihat es krim yang lo mau!" Tia menarik tangan Nara dengan paksa dan membawa wanita itu pergi dari parkiran.
"Gila! Mereka terang-terangan banget di publik!" gumam Gibran sembari melihat ke parkiran dan terlihat Rendi sedang bersama dengan Adel dan seperti akan pulang bersama-sama. Padahal ini wilayah kampus, dan Nara sering ke sana. Pria itu dengan percaya dirinya membawa Adel untuk pulang bersamanya.
Tia membawa Nara pergi jauh-jauh dari parkiran dan pergi ke ruko es krim yang memang sedang hits di sana.
__ADS_1
"Gimana sih? Katanya lo mau balik? Nggak jadi?" tanya Nara yang bingung dengan sikap Tia.
"Iya, gue tiba-tiba pengen es krim! Bentar doang kok, beli, makan, pulang." Tia tersenyum dan masuk ke dalam ruko es krim tersebut. Diikuti oleh Gibran yang ada di belakang mereka dan terus menatap Nara dari belakang.
Mereka bertiga duduk dan menikmati es krim, di situ, Tia dan Gibran nampak banyak bicara dan begitu asyik. Namun, Nara sudah merasa kesakitan sedari tadi, berusaha untuk menghabiskan es krimnya dengan cepat, tapi dia tak bisa melakukan itu karena giginya yang sensitif.
"Gue tuh sempet suka sama lo, Gibran."
DEG!
Pembicaraan Tia langsung membuat Nara terkejut. Nara melihat ke arah Gibran dan pria itu nampak biasa saja dan tak terkejut sama sekali.
"Kayaknya gue salah denger deh. Ngapain lo suka sama gue?" Gibran tersenyum dan meladeni ucapan wanita itu.
"Ya karena lo baik banget. Nara nggak bakal mungkin suka sama lo karena ada Rendi. Jadi, kayaknya boleh nih gue lanjutin rasa suka gue." Tia melanjutkan secara terang-terangan dan membuat Nata sedikit bingung.
"Ha ha ha, lanjutin aja kalo lo bisa dapetin hatu gue. Saran gue sih nggak usah ya, dari pada lo sakit ati ntar!" Gibran sudah memberikan kode dari awal kepada Tia untuk tidak mendekati dirinya lebih jauh. Karena Gibran masih belum bisa berpaling dengan gadis yang ia suka.
Nara pun melihat ke tangan Gibran dan melihat gelang yang ternyata masih dipakai sampai saat ini. Mungkinkah Gibran berkata seperti itu karena masih mengharapkan Nara? Nara terus bertanya-tanya dalam benaknya.
"Nara, lo sakit? Diem aja dari tadi," tanya Tia yang nampak khawatir.
Gibran pun langsung melihat ke arah Nara dan melihat dirinya sudah sangat tidak nyaman, namun berusaha untuk tersenyum di hadapan Tia.
"Nggak kok! Es nya enak banget, mana dingin juga. Brain freeze terus nih!" Nara tidak banyak bergerak seperti biasanya.
"Makannya pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru!" Tia menyikut lengan tangan Nara hingga menyenggol dada kirinya. Membuat Nara langsung menahan rasa sakitnya itu. Gibran pun menyadari hal itu. "Wait, kok sikut gue basah, sih?"
Tia langsung melihat ke arah dada Nara dan melihat pakaiannya sudah basah di bagian dada kirinya. Nara langsung berusaha menyembunyikannya dengan kedua tangannya itu.
"Nara, itu apaan yang basah?" Tia menunjuk ke arah dadanya Nara yang berusaha ditutupi Nara, namun masih terlihat basah dan banyak. Nara pun bingung harus berkata apa kepada Tia.
__ADS_1