
Semenjak Rendi mengambil mahkota berharga dalam hidup Adel, mereka berdua sering sekali melakukan hubungan badan di belakang Nara, entah saat mereka pulang dari kampus, ataupun saat libur. Hal itu sering sekali mereka lakukan, bahkan hampir setiap hari Rendi datang ke kos Adel.
Hingga mulai banyak sekali rumor tersebar di kalangan beberapa anak BEM yang mengatakan bahwa Rendi berpacaran dengan Adel. Tentu saja Adel bahagia mendengar kabar seperti itu. Bahkan itu adalah hal yang sedari dulu sangat ia inginkan. Ia sangat ingin diakui oleh Rendi sebagai kekasihnya di depan publik.
"Nggak usah disembunyiin lagi, kita udah tau kok kalau kalian pacaran," ujar Lisa, salah satu teman Rendi yang sering sekali melihat mereka berdua bersama, bahkan bergandengan tangan.
"Ih apa sih Lisa." Adel nampak malu-malu saat dia ketahuan berpacaran dengan Rendi.
Kala itu, mereka sedang rapat dan akan mengadakan sebuah pagelaran besar-besaran. Setiap fakultas akan mewakili dan bebas mau menampilkan apa saja. Lalu, di puncak acara, akan ada band ternama untuk menarik minat mereka semua.
"Fokus aja sama rencana kita. Jangan ngomongin hal lain deh," ucap Rendi sembari melihat beberapa sponsor yang siap menyumbang untuk acara tersebut.
"Aduh, pak Ketua ini benar-benar nggak bisa diganggu, ya? Santai aja dulu lho, Pak. Kalian mau sayang-sayangan dulu juga boleh kok," timpal Tama yang sudah curiga dengan hubungan mereka dari awal.
"Soalnya ini event besar, jadi jangan sampai ada miss di acara ini. Nanti kita juga harus mencari perwakilan dulu setiap orang di fakultas agar bisa maksimal menampilkan karya mereka." Rendi nampak fokus dan berusaha untuk mensukseskan acara tahunan tersebut.
"Nggak salah nih si Rendi dijadikan ketua, dia serius banget!" ujar Tama sembari merangkul Rendi.
"Hebat kan pacarku? Hehe," ucap Adel dengan bangganya.
Rendi pun hanya tersenyum kecil saja. Ia juga sebenarnya bahagia karena hubungan mereka sudah ketahuan, dia juga tidak perlu diam-diam jika akan jalan bersama dengan Adel. Meskipun dia sedikit khawatir jika hubungan mereka ketahuan oleh Nara. Maka hancur sudah nama baik dan rahasia besarnya.
Waktu berjalan sampai sore, dan para jajaran BEM pergi ke setiap fakultas untuk menyebarkan flyer dan juga menempelkan banner di beberapa papan pengumuman yang ada di tiap gedung. Gedung Rendi dan Nara berbeda, membuat mereka jarang ketemu. Rendi hanya sering datang ke kantin tempat Nara berada, karena di kantin itu makanannya paling enak. Namun, sekarang Rendi menolak makan di sana karena takut ketahuan Nara atau temannya, atau bahkan Gibran.
__ADS_1
Setelah banner ditempelkan dan juga ada beberapa pesan disebarkan melalui whatsapp dan sosial media, banyak orang yang nampak antusias dengan acara tersebut karena guest starnya.
"Wih! Acara tahunan nih! Angkatan kita angkatan paling tua, kayaknya kita harus urun kegiatan nggak sih?" tanya Tia saat berada di depan papan pengumuman sembari merangkul Nara.
"Kamu lah sana, ngapain gitu kek. Aku mah seperti biasa nonton aja. Ini acara diadain sebelum angkatan kita fokus KKN ya?" tebak Nara sembari membaca banner tersebut.
"Betul sekali. Habis acara ini selesai, satu bulan lagi bakal KKN tau!" Tia seakan tidak siap dengan kegiatan wajib tersebut.
"Semoga aku satu kelompok sama orang yang aku kenal deh! Soalnya random banget tau orangnya!" ujar Nara yang sedikit tahu soal kegaiatan KKN.
Mereka pun turun ke lantai satu dan pergi ke kantin untuk membeli makanan kesukaan mereka. Namun, sampai di sana, Tia justru teringat jika Rendi pernah pergi bersama dengan wanita lain, dan berpikir, akan seperti apa hancurnya hati Nara saat melihat suaminya selingkuh dengan wanita lain?
"Nara, gue boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Adel saat mereka sudah duduk di bangku dan sudah selesai memesan makanan.
"Apa sih? Tanya aja, aku juga bakal jawab kok," ujar Nara dengan senyuman.
"Iyaaa." Nara nampak gemas dengan sahabatnya itu.
"Emmm ... apa yang bakal lo lakuin, seandainya suami lo selingkuh?"
DEG!
Jantung Nara langsung berhenti saat itu juga, dia merasa bahwa perkataan Tia seperti serius. Ia merasa bahwa Tia mengatakan hal yang sebenarnya, dan seandainya itu hanyalah kedok saja.
__ADS_1
"Bahasan kamu berat banget sih? Aku bahkan kaget dengernya." Nara nampak tidak siap menjawabnya.
"Ya enggak. Kan gue juga paham kalau tiap rumah tangga juga pasti ada tuh yang namanya selingkuh, atau tidak sengaja dekat dengan wanita lain. Ini cuma seandainya doang kok," ujar Tia berusaha meyakinkan Nara.
Mendengar Tia berkata seperti itu, Nara pun berpikir keras. Bagaimana jika Rendi selingkuh?
"Hmmm, aku belum pernah ngalamin yang senyesek itu sih. Tapi, mungkin kalau dia selingkuh, aku bakal balik ke rumah orang tuaku sih. Ya yang pasti dibicarain dulu maunya apa dan gimana. Tapi kadang aku nggak bisa marah sama Rendi tau. Kadang aku malah ngalah, dan banyak kasihan sama dia," urai Nara.
"Lu kaya kena pelet serius!" Tia terlihat kesal dengan jawaban Nara.
"Lah katanya seandainya? Ya emang begitu kan."Nara tersenyum saat jawabannya itu justru membuat Tia emosi.
"Ya udah, ya udah. Emang lo sendiri yang bucin sih ya. Tapi saran gue, mending lo tinggalin dia sih. Karena dari pernikahan kamu aja udah kelihatan banget kalau dia nggak serius. Gue nggak mau lo hidup menderita ya." Tia memberikan saran kepada sahabatnya itu karena dia tidak ingin Nara menderita lebih jauh lagi. Dia tidak bisa memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dih, jahat amat, kenapa gitu dah?" tanya Nara.
"Ya gue nggak mau lo menderita! Gimana sih," ujar Tia dengan perasaan semakin kesal sekaligus gemas. Membuat Nara hanya bisa tertawa kecil saja.
"Ya tapi nggak sejahat itu lah, Tia. Pasti ada solusi atas setiap masalah, tergantung Rendinya juga maunya gimana dan bisa berubah atau nggak," ujar Nara sembari menerima minuman dan makanan yang baru saja datang.
"Iiiih, gue tahu ya lo emang sayang sama Rendi. Tapi jangan sebucin itulah. Pikirin diri lo sendiri, dan jangan sampai lo sendiri hancur karena pria brengsek itu," ujar Tia semakin gemas.
"Kamu kenapa sih? Kan seandainya doang? Kamu ngomong gitu seakan itu bakal terjadi tau!" Nara sedikit curiga. "Atau jangan-jangan...." Nara curiga dengan apa yang dikatakan oleh Tia.
__ADS_1
Tia hampir kelepasan. Dia bicara terlalu banyak dan membuat Tia jadi terdiam menunggu perkataan Nara selanjutnya, jantungnya berdegup dengan sangat kencang, keringat bahkan keluar dari dahinya, ia juga cukup sulit menelan salivanya.
"Mampus gue! Gue kebanyakan ngomong!" batin Tia.