Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Mau jadi Pacarku?


__ADS_3

Semenjak pertemuan Rendi bersama dengan Adel kemarin, Nara langsung berpikir untuk tidak terlalu memikirkan Rendi lagi, ia mulai fokus menjalani KKN agar bisa segera pulang, lalu menemui Syakila. Tidak terasa KKN hanya tinggal 3 hari lagi. Sejak tahu Nara menjauhi Rendi


terus menerus, Gibran pun menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Nara, setidaknya


dia harus bisa mengambil hati wanita itu lebih dulu.


Hari itu, mereka semua menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum beres, sehingga mereka


bisa segera berpamitan dan akan menggelar acara perpisahan juga. Skandal perihal Rendi dan juga mahasiswa lain yang terlibat itu juga langsung mereda setelah Rendi melakukan klarifikasi. Meski begitu, Nara sudah tidak peduli lagi dengan Rendi.


Malam hari pun tiba, di mana Nara masih seperti biasa, menelpon ibunya untuk melihat Syakila


dan menanyakan kabar ibunya. Nara masih belum siap bicara dengan ibunya. Saat sedang


video call, tiba-tiba Gibran duduk di sebelah Nara dan membuat Nara langsung terkejut dan


bergeser agar tidak terlalu dekat dengan Gibran.


[“Oh iya, hubungan kamu sama Rendi gimana, Nak? Baik-baik aja kan? Uang kamu juga masih kan?”] tanya sang ibu.


“Masih, Bu. Cukup kok sampai besok KKN selesai. Kalau gitu aku tutup dulu teleponnya ya, Bu.


Aku harus tidur,” ujar Nara yang sedikit berdusta, karena sebenarnya dia risih jika Gibran mendengarkan percakapan mereka.


[“Ya sudah, Sayang. Mimpi indah ya.”]


Setelah telpon dimatikan, Nara langsung menghela nafas panjang dan melihat ke arah Gibran.


“Kenapa deket-deket sih? Aku kan masih telpon,” ujar Nara.


“Siapa suruh matikan telponnya? Kamu telpon di depanku juga nggak masalah kok,” imbuh


Gibran sembari menyandarkan tubuhnya. Sebagai ketua di KKN itu, ia merasa sangatlah lelah.


“Ck, ya udah istirahat sana. Kamu seharian ini kayaknya ngeluyur terus deh. Inget, besok kegiatannya juga banyak loh!” ujar Nara sembari beranjak dari tempat dia duduk, namun,


tangan Nara digenggam oleh Gibran.


“Kamu nggak mau nemenin aku?” tanya Gibran.


“Ngapain? Kamu kan harus istirahat, besok banyak kerjaan ih! Dibilangin susah banget!” Nara selalu saja kesal saat Gibran susah diperingatkan.


Gibran menarik tangan Nara hingga membuat wanita itu kembali duduk di sebelah Gibran.


“Justru dekat dengan kamu itu bisa bikin aku pulih dan langsung semangat lagi,” ucap pria itu. Nara yang jarang sekali digombalin seperti itu langsung terdiam dan tersipu malu. Raut wajahnya juga memerah dan langsung terasa panas.

__ADS_1


“Ya udah, bilang aja kamu minta ditemenin. Nggak usah pakai gombal segala,” ujar Nara yang mau tidak mau akhirnya menerima permintaan Gibran.


Mereka berdua sekarang sedang menikmati malam bersama-sama, Gibran juga terlihat seperti sudah bisa berduaan dengan Nara, dia juga dipercaya oleh kepala desa untuk menjaga seluruh


anggotanya. Kini, kepercayaan itu digunakan Gibran untuk mendekati Nara dan menghabiskan


waktu berdua dengan wanita itu.


Gibran memulai pembicaraan yang cukup serius.


“Jadi, gimana? Kamu masih mau menerima Rendi?” tanya Gibran.


“Kayaknya nggak sih, aku masih berusaha buat melepaskan pria itu, karena jujur aja aku


pernah sesayang itu sama Rendi, dan sekarang aku harus melepaskan perasaan itu? Cukup


sulit untukku. Tapi aku masih berusaha kok,” urai Nara.


“Ya sudah, pelan-pelan aja. Aku ngerti kok, kamu juga pasti mikirin masa depan Syakila kan?


Wajar aja sih kalau kamu sekarang bimbang dan susah lepasin dia,” imbuh Gibran yang


berusaha mengerti perasaan Nara. “Tapi, tolong kalau ada apa-apa, kamu cerita sama aku ya?


yang terjadi, aku juga masih sayang banget sama kamu, Nara.” Gibran menggenggam tangan


Nara tanpa melihat wanita itu dan hanya melihat ke arah langit-langit saja.


Nara yang terkejut langsung melihat ke arah Gibran dan ingin sekali melepaskan genggaman tangannya, namun, hati kecilnya berkata lain.


“Begini sebentar saja nggak papa kan?” batin Nara setelah merasakan kenyamanan saat digenggam oleh pria yang begitu tulus kepadanya.


Pada akhirnya, Nara membiarkan Gibran melakukan apapun yang ia ingin lakukan.


“Gibran, terima kasih ya kamu sudah mau ada buat aku selama ini. Padahal sampai saat ini aku juga belum bisa balas perasaan cinta kamu, aku juga selalu saja bimbang dengan keputusanku. Maaf ya.” Genggaman tangan Nara semakin erat karena ia juga merasa bersyukur saat ini.


“Nggak masalah, aku juga susah hilangin rasa cinta aku ke kamu.” Gibran tersenyum kecil.


“Kenapa kamu suka sama aku sampai sekarang? Padahal kamu tahu sendiri kalau aku udah


punya Rendi? Kamu juga tahu pernikahan kami bakal susah dipisahkan karena aku yang bodoh menghadapi pria seperti Rendi,” tanya Nara sembari melihat ke arah Gibran.


Gibran pun melihat ke arah Nara hingga pada akhirnya mata mereka saling bertemu, tatapan hangat itu membuat jantung Nara semakin berdegup dengan kencang. Padahal selama ini dia


berusaha menahan perasaan itu kepada Gibran, namun semenjak ia berusaha melepaskan

__ADS_1


Rendi, ia merasa perasaan Nara jadi lebih besar daripada sebelumnya kepada Gibran.


“Aku sendiri nggak bisa menjelaskan mengapa aku mencintai kamu, namun, rasa itu timbul dengan tiba-tiba. Aku juga tidak mengerti mengapa perasaanku ini begitu kuat kepadamu. Maaf


ya, jika perasaanku ini menyusahkan kamu,” ucap Gibran yang sedikit merasa bersalah.


Nara tersenyum saat melihat ekspresi wajah pria itu yang terlihat semakin melunak di hadapan Nara, padahal di hadapan semua orang, wajahnya terlihat sangat dingin dan garang.


“Dari perasaan kamu itu, aku jadi bisa menghargai diriku sendiri. Kamu juga selalu baik sama


aku, sayang sama aku dan Syakila, itu juga bisa bikin aku cepet move on kok,” ucap Nara


sembari memberikan sedikit kode kepada pria itu.


“Kalau gitu, setelah kamu sama Rendi usai, kamu mau jadi pacarku?” Gibran langsung duduk tegap dan memegang kedua tangan Nara, menatap wajah wanita itu dengan penuh harap.


Nara terdiam sejenak saat mendengar kata itu keluar dari mulut Gibran. Bola matanya


berusaha untuk tidak menatap Gibran, karena ia sedang sangat gugup sekarang ini.


Jawaban apa yang harus diberikan Nara kepada Gibran? Dia sendiri tidak tahu kapan semua ini akan usai, apalagi dia juga masih bimbang karena beberapa hal. Bisakah dia mengiyakan permintaan Gibran itu?


“Kenapa? Kamu nggak mau?” tanya Gibran.


“Apa nggak papa kalau aku bisa ngerasain bahagia dengan berpaling kepadamu? Aku takut kamu justru kubuat pelampiasan doang,” ujar Nara.


“Nggakpapa, Nara. Aku selalu nunggu kamu kok. Kamu juga berhak bahagia, dan aku bakal


jamin kebahagiaan kamu, aku janji bakal bahagian kamu apapun yang terjadi, dan nggak akan pernah ninggalin kamu saat kamu sudah menjadi wanitaku.” Gibran menatap mata Nara


dengan sangat dalam, hingga membuat hati Nara langsung luluh dan matanya jugaberkaca-kaca. Baru kali ini ia melihat pria setulus ini dan menjanjikan hal yang selama ini Nara


inginkan. Jika boleh jujur, Nara lebih percaya kepada Gibran daripada Rendi, karena selama ini


Nara sudah paham betul bagaimana perilaku Gibran kepada Nara. Hanya saja, ia belum


mengenal Gibran lebih jauh lagi.


“Terima kasih, Gibran. Aku mau.”


Nara tersenyum kecil dan Gibran yang melihat hal itu langsung kegirangan dan sampai tidak


bisa berkata apa-apa. Dia ingin memeluk Nara, namun tempatnya tidak pas. Rendi hanya bisa menggenggam kedua tangan Nara dengan erat lagi.


“Terima kasih, Nara. Aku janji bakal bahagiain dan lindungin kamu!”

__ADS_1


__ADS_2