Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Kecewanya Kedua Orang Tua Rendi


__ADS_3

Nara pun berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Ia juga hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Nara menyerahkan semuanya kepada Gibran dan mempercayakan keadaan Rendi kepara Gibran.


"Hari ini kamu mau nemuin Rendi?" tanya Nara sembari bermain dengan Syakila.


"Iya, kudengar Rendi sudah siuman. Rendi juga sekarang menjadi tanggung jawabku dan aku dipercaya untuk merawat pria itu. Bagian kemahasiswaan sudah tidak bisa mentoleransi keadaan Rendi lagi," ucap Gibran.


Nara pun terdiam sejenak dan merasa iba dengan Rendi. Namun, dia harus kuat. Demi menjalani hari-hari yang baru dengan Syakila, ia harus bisa merelakan dan mengikhlaskan semuanya.


"Ya udah, hati-hati ya. Kabari kalau mau pulang," ujar Nara.


"Iya, kamu mau nitip apa?" Gibran terus menanyakan hal yang sama saat dia akan pergi meninggalkan wanita itu. Kali ini, Nara seperti ingin berucap sesuatu.


Sebenarnya, dia tidak ingin merepotkan Gibran, namun, tidak semua makanan yang ia inginkan bisa ia pesan secara online.


"Boleh kah?" tanya Nara sembari melihat ke arah Gibran yang sedang mengenakan jaket.


Gibran yang mendengar Nara akan meminta sesuatu langsung mendekat ke arah wanita itu dan tersenyum.


"Boleh. Mau apa? Nanti aku belikan," ujar Gibran dengan penuh bahagia.


"A–aku pingin jagung manis, boleh?" pinta Nara.


Gibran pun mengusap kepala wanita itu dengan sangat lembut dan tersenyum kecil.


"Boleh dong. Chat aja kamu mau yang rasa apa ya! Nanti aku belikan."


Pria itu pun pergi ke luar dan meninggalkan Nara di kontrakan itu.


Semenjak terjadi kerusuhan, ayahnya Gibran jadi sering sekali turun tangan menangani masalahnya. Padahal dulu ia hanya menyuruh supirnya Gibran saja untuk menangani masalah yang terjadi di kampus.


Gibran pergi dengan membawa mobilnya, ia pergi ke rumah sakit untuk menemui Rendi dan melihat keadaannya lebih dulu.

__ADS_1


Sampailah Gibran di ruangan tempat Rendi beristirahat, di dalam tidak ada siapapun selain Rendi dan juga perawat.


Setelah selesai di priksa dan dinyatakan baik-baik saja, suster langsung pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruang inap tersebut.


Rendi nampak lemas dan tatapannya juga tidak seperti dulu. Pria itu sudah mengalami hal yang sangat panjang.


"Sudah jauh lebih baik?" tanya Gibran sembari mendekati pria itu dan duduk di kursi yang ada di sebelah kasur Rendi. Pria itu seperti mencari sesuatu dalam ruangan itu, Gibran pun paham dia pasti mencari Nara. "Nara nggak di sini. Ini sudah bukan ranah dia," imbuh Gibran.


Rendi pun menatap ke arah Gibran dengan air mata yang terbendung di matanya.


"Nara baik-baik saja kan?" tanya Rendi.


"Ya, dia baik-baik saja. Aku di sini akan terus memantau kesehatanmu, lalu, setelah ini orang tuamu akan datang kemari. Mereka sudah pasti akan tahu apa yang terjadi, apa kau sudah siap?" tanya Gibran.


Rendi pun terdiam sejenak dan menatap ke arah langit-langit kamar tersebut. Ia seperti sedang menyiapkan mentalnya agar bisa kuat menghadapi cobaan yang sudah ia buat sendiri.


"Dia benar-benar akan meninggalkanku?" tanya Rendi dengan nada bicara yang lirih.


"Iya, jangan berharap dia akan kembali. Nara sudah berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Apalagi perihal Adel, hatinya sudah terlalu sakit untuk mendengar semua fakta itu." Gibran membuka ponselnya dan melihat pesanan dari Nara. Sontak membuat Gibran tersenyum.


"Aku yang akan mendampingimu menyelesaikan semuanya, aku akan menemanimu sampai semuanya berakhir. Nara juga masih mencemaskanmu dan memintaku untuk baik kepadamu. Dia baik sekali bukan?" ledek Gibran.


"Ya, aku saja yang tidak bersyukur sama sekali." Rendi mulai merasa menyesal.


Gibran pun terdiam sejenak saat ia mendapatkan kabar bahwa orang tua Rendi sudah sampai di rumah sakit.


Gibran membantu Rendi untuk duduk di kasurnya dan bersiap menyambut omelan kedua orang tua Rendi yang sudah tahu beberapa hal yang terjadi. Mereka ingin memastikannya kepada Rendi.


Sampai di ruangan Rendi, kedua orang tua Rendi langsung memeluk Rendi dengan penuh haru lalu mulai membicarakan hal yang cukup serius.


Sebelumnya, Rendi pun memperkenalkan Gibran dan meminta kedua orang tuanya membiarkan Gibran di dalam bersama mereka.

__ADS_1


"Rendi, Bapak sudah tahu dari dosen yang ada di kampus kamu. Apa benar kamu terlibat masalah yang membuat nama baikmu terancam? Apa masalahnya?" tanya sang ayah.


Rendi pun terdiam sejenak dan menggenggam erat tangannya sendiri. Ia sedikit takut, jantungnya juga berdebar sangat kencang saking takutnya.


"Maaf Pak, Buk. Rendi belum bisa jadi anak yang baik buat kalian. Rendi juga belum bisa jadi suami yang baik." Nada bicara Rendi sediit bergetar karena penyesalannya benar-benar sangat dalam.


"Kenapa? Kamu ada masalah apa? Terus Nara juga kemana? Sebenernya kenapa?" tanya ibu tirinya Gibran.


"Maaf, Pak, Bu. I–ini salahku. Semua kekacauan ini terjadi karena aku menghamili Adel, temanku yang kemarin kalian temui di rumah sakit."


Ucapan itu langsung membuat bapak dan ibunya Rendi terkejut bukan main, bahkan mereka langsung terlihat shock dan terus menerus mengucap nama Allah.


"Ya Allah, Rendi. Kok bisa? Kenapa kamu setega itu sama Nara? Sama kita juga?" tanya ibunya Rendi sembari memegang kedua tangan Rendi dan menitihkan air mata.


Kejadian di mana dia menghamili Nara saja sudah cukup membuat kedua orang tua Rendi shock, sekarang mereka harus mendengar hal yang sama di saat yang berbeda.


"Maaf. Ini karena Rendi gelap mata dan termakan nafsu juga merasa tidak pernah puas. Maafin aku, Pak, Bu." Rendi pun langsung menitihkan air matanya.


"Kamu sadar nggak sih apa yang sudah kamu lakukan?!" hardik sang ayah yang sedang berdiri dan menunjuk ke arah putranya sendiri.


"Maaf, Pak."


"Kamu itu udah punya Nara! Dia aja baiknya luar biasa sama kamu, kenapa malah kamu nyakitin Nara dengan cara yang memalukan seperti ini! Menghamili wanita lain saat kamu sudah beristri? Tobat, Rendi! Tobat! Ya Allah." Bapaknya Rendi nampak kebingungan dan juga kesal mendengar apa yang sudah terjadi.


"Kamu banyak masalah kah? Kok sampai begitu?" tanya sang ibu perlahan.


"Terus sekarang kamu mau gimana? Ceraikan Nara terus nikah lagi sama si selingkuhan kamu itu?!! Sadar nggak kalau sikap kamu ini bikin jabatan kamu dicoret dan beasiswa kamu dicabut loh, Rendi!" geram sang ayah kepada putranya.


"Aku bakal perbaiki semua kok! Aku bakal berusaha kerja buat bayar UKT. Aku janji bakal membuat Nara balikan lagi sama aku," ujar Rendi dengan penuh frustasi.


"Kalau Nara nggak mau? Terus kita harus bilang apa sama keluarganya Nara? Ya allah, Rendi. Kok bisa sih." Ibunya Rendi terus menerus menangis dan bingung.

__ADS_1


Tiba-tiba, karena amarah yang sudah meluap-luap, Rendi langsung ditampar dengan keras oleh bapaknya.


PLAK!


__ADS_2