Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Antara Takut dan Bahagia


__ADS_3

“Kok bisa nyasar sih?” tanya Nara yang sedikit panik.


Mereka pun berhenti di tengah perjalanan yang padahal sedang berada di tengah hutan. Hal itu membuat Nara dan Gibran terdiam sejenak. Penerangan juga hanya sedikit, bahkan sudah


remang-remang.


“Aduh, nggak lucu deh kalau jadi kaya cerita KKN yang lagi viral itu!” keluh Nara yang semakin khawatir dan juga takut.


“Halah, jangan terlalu percaya sama yang gituan deh. Kita balik aja gimana?” tanya Gibran.


“Iya udah terserah kamu deh mau gimana. Mau balik aja juga boleh, daripada nanti tambah nyasar,” ucap Nara yang semakin ketakutan.


Karena sudah sepakat dan takut akan semakin masuk ke dalam dan nyasar, mereka pun memutuskan untuk putar balik dan kembali sampai ke jalan besar. Sepanjang jalan, Nara hanya


bisa menengok ke kanan dan ke kiri, suasananya benar-benar sepi dan membuat bulu kuduk


Nara merinding bukan main. Dia belum pernah sampai masuk ke hutan seperti ini sebelumnya.


“Pegangan kalau kamu takut.” Gibran menarik tangan Nara yang sedari tadi berada di pinggang Gibran, hingga Nara benar-benar sedang memeluk Gibran. Perasaannya sedikit tenang karena


dia tidak sendirian, terlebih kini ia memeluk pria itu dengan sangat erat agar perasaannya jadi


semakin tenang. Nara bahkan tersenyum kecil saat tangannya ditarik.


“Padahal baru sehari kita di sini, udah nyasar aja loh,” ucap Gibran.


“Bukannya wajar? Beda kalau kita udah lama di sini terus sampai nyasar, itu baru aku makin heran!” jawab Nara. Mereka sengaja berbincang-bincang agar tidak merasa ketakutan.


“Kamu percaya hantu?” Tiba-tiba Gibran membahas hal seperti itu.


“Ih! Kenapa bahasnya sekarang sih?! Nggak bisa bahas nanti gitu?” Nara sedikit takut jika harus membahas soal hantu.


“Nggak ada yang ngikutin juga kok. Kenapa kamu yang panik?” Gibran semakin menggoda


Nara.


“Nggak panik kok, kan aku juga enggak sendiri. Selama ada kamu, aku nggak takut kok!” jawab Nara. Gibran justru tersenyum mendengar ucapan wanita itu, Gibran mengusap tangan Nara yang


ada di perutnya dengan lembut, berusaha menenangkan wanita itu dan berjalan pelan membelah jalan yang di kanan kirinya hanya ada hutan dan perkebunan.


Jantung Nara semakin berdegup kencang, selain karena rasa takut, dia juga merasa bahwa


sentuhan Gibran cukup membuat hati Nara tenang.


Mereka pun terus berjalan hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam. Ternyata, sudah sangat

__ADS_1


lama mereka berkendara tapi tetap saja tidak menemukan jalan keluar sama sekali. Bahkan


mereka merasa hanya berputar-putar saja di tempat itu. Gibran yang tadinya tenang, tiba-tiba


menjadi sedikit panik dan juga takut. Mereka berhenti di bawah penerangan dan ada pos


terbengkalai di situ, hanya tempat itu saja yang terang.


“Aduh, kayaknya kita beneran disasarin deh,” ucap Gibran sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.


“Lah? Maksudnya? Disasarin hantu gitu?” kejut Nara yang sedari tadi hanya berani melihat ke kanan dan kiri saja.


“Kayaknya gitu sih. Baru awal dateng udah kaya di cerita horor KKN nih.” Gibran mengambil ponselnya dan melihat ada sedikit sinyal. “Eh! Ada sinyal nih! Aku telpon pak Roni dulu deh!”


ujar Gibran.


Sembari Gibran berusaha menelpon kepala desa, Nara juga berusaha menghubungi


teman-teman lainnya dengan mengirimkan lokasi mereka. Jika beruntung, maka mereka akan


mengirim lokasi mereka balik dan bisa mengantarkan Nara kembali ke desa mereka.


“Hallo, Pak! Pak tolong pak, ini saya sama Nara kok nyasar ya!” ujar Gibran yang terlihat sudah berhasil menelpon pak Roni.


berhasil mendapatkan arahan selama telepon, namun, raut wajah Gibran juga terlihat tidak


terlalu bahagia.


“Gimana? Bisa balik kan?” tanya Nara setelah mereka selesai menelpon.


“Pak Roni cuma jawab, lurus aja terus sambil baca-baca. Jangan lihat ke kanan juga ke kiri, apalagi berhenti di tengah jalan waktu lagi gelap.” Jawaban Gibran juga ternyata sama sekali membuat Nara tidak tenang. Yang artinya, perkataan Gibran barusan benar adanya.


“Kalau bensinnya habis gimana? Kita udah lama banget loh ini naik motor,” ucap Nara yang makin khawatir.


“Harusnya cukup sih.” Gibran melihat ke arah meteran bensinnya dengan sedikit ragu.


“Ya udah, bissmillah aja deh.”


“Terus nanti kalau ada apa-apa, jangan noleh ke belakang ya. Diem aja, jangan teriak juga,”


lanjut Gibran.


Nara semakin merasa bahwa mereka semakin tidak baik-baik saja. Ternyata ada hal yang membuat mereka tersesat, dan seperti di film, atau cerita yang lainnya, mereka diganggu oleh hal yang tidak kasat mata.


Setelah menyiapkan mental, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan. Nara juga terus

__ADS_1


memeluk Gibran dengan erat, Dibandingkan rasa takut, Gibran justru merasa sangat bahagia


karena ia dipeluk oleh Nara. Rasa khawatir itu seketika menghilang begitu saja.


Gibran menggenggam erat tangan Nara yang terdengar sedang membaca-baca beberapa ayat agar tidak diganggu.


“Kamu kok nggak takut sih?!” ujar Nara yang menempel di pelukan Gibran.


Mereka semakin takut karena sepanjang mereka jalan, Gibran melihat sesuatu yang tak kasat


mata menyebrang jalan, bahkan ada suara-suara teriakan juga bisikan yang mengganggu


mereka. Namun, Gibran tetap tersenyum.


“Ibuku pernah bilang kepadaku, bahwa ia akan melindungiku apapun yang terjadi. Jadi, aku


tidak akan takut. Ibuku pasti membantuku.” Gibran berucap dengan senyuman. Sedangkan


Nara yang tadinya takut, justru menjadi iba mendengar hal seperti itu.


“Kamu pasti sayang sama ibumu ya?” ucap Nara dengan senyuman sembari mengeratkan


pelukan ke perut pria itu.


“Tentu saja, aku sangat menyayangi ibuku. Dia sudah mempertaruhkan semuanya untukku, dan aku hanya bisa memberikan ucapan terima kasih saja. Bahkan sampai saat ini pun aku percaya bahwa dia selalu membantuku.” Gibran tersenyum menatap ke arah jalanan yang sangat gelap


itu.


Suasana mencekam dan menakutkan itu ternyata mereka bisa mengatasinya dengan saling bercerita satu sama lain, Nara juga sudah jauh lebih tenang, Gibran juga hanya pasrah saja. Hingga sampailah mereka di sebuah pedesaan dan motor mereka berhenti tepat di depan warung sederhana yang masih buka. Nara dan Gibran pun turun di depan warung, lalu


dihampiri oleh beberapa bapak-bapak yang masih ronda malam di sana.


“Dek? Kenapa dek? Dari mana malam-malam gini?” tanya bapak-bapak itu.


“Maaf pak, kami tadi kesasar, nggak tahu sampai ke mana. Saya dari sana tadi.” Gibran


menunjuk ke arah mereka datang yang ternyata itu merupakan hutan.


“Astaghfirullah! Ya sudah sini istirahat dulu di sini!” Ajak mereka semua yang nampak terkejut dengan apa yang terjadi kepada mereka berdua. Nara dan Gibran langsung duduk di warung tersebut dan diberikan teh hangat agar tenang.


“Kalian tuh disasarin sama penunggu di sana loh! Makanya kami selalu di sini untuk jaga-jaga, soalnya sering banget kejadian.” Mendengar hal itu Gibran dan Nara langsung saling menatap


dan sedikit merinding.


“Beberapa malah ada yang hilang selama seminggu!” Percakapan mereka semakin terdengar menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2