Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Ingin Bertemu


__ADS_3

"Kenapa Rendi?" Nara mengangkat telepon pria itu.


["Gimana KKN kamu? Enak nggak? Kita satu kota kan? Aku boleh nemuin kamu nggak?"] Rendi tiba-tiba menanyakan hal yang membuat Nara sedikit tercengang.


Bahkan Nara sempat melihat kembali nama di layar ponselnya, ia mengira jika ia mendapatkan panggilan salah sambung atau telpon iseng. Nyatanya setelah dilihat lagi, ternyata memang benar itu adalah Rendi, suaminya.


"Kenapa nggak ketemu di rumah aja sih? Aku sekitar seminggu sekali juga bakal balik nemuin Syakila," jawab Nara yang sebenarnya sedikit menolak permintaan Rendi.


["Aku maunya berduaan sama kamu, kalau di rumah kamu nanti kita nggak bisa berduaan dong?"] Rendi terdengar membutuhkan kasih sayang.


Namun, Nara teringat jika dia bukanlah wanita satu-satunya yang mencintai pria itu, dan dia juga belum tentu balas mencintai Nara.


"Kenapa sama aku? Biasanya kamu ajak sekingkuhan kamu kok. Ajakin aja itu si cewek kebanggaan kamu." Nara terlihat naik darah.


["Kamu kenapa ngomong gitu sih? Kamu suruh aku buat memperbaiki semuanya, aku mau ngajakin kamu buat baikan biar kita bisa kaya dulu lagi, tapi kamunya malah gitu."] Rendi bicara dengan nada bicara yang terlihat lembut dan terdengar tidak marah sama sekali. Nara bahkan sempat goyah, tidak seperti biasanya Rendi bersikap seperti itu.


Tiba-tiba, pundak Nara ditepuk oleh Gibran, ia memberikan isyarat jika teman-temannya akan kembali dari tengah sawah. Jadi, Nara harus cepat.


"Maaf ya, aku trauma banget sama kamu. Bayangin lah kalau kamu jadi aku? Aku harus nyembuhin diri aku sendiri, dan itu nggak cukup sebulan!" ucap Nara dengan rasa kesal.


["Maaf ya. Pokoknya aku mau ketemu kamu dulu. Aku janji bakal memperbaiki semuanya,"] ucap Rendi dengan senyuman.


Namun, Nara terlihat tidak percaya dengan pria itu. Mau bagaimanapun juga kepercayaannya sudah hilang dan dia juga sudah tidak percaya dengan Rendi. Di sisi lain, sebenarnya dia juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Rendi.


"Terserah kamu aja. Kamu bebas menentukan." Nara nampak pasrah dengan situasi yang terjadi saat itu.


["Makasih sayang, aku bakal kabari kamu kalau udah senggang. Soalnya aku juga jadi kormades di sini. Kamu gimana di sana, Sayang?"] Rendi nampak basa-basi dengan Nara.


"Aku baik-baik saja. Sudah ya, aku lagi ada urusan."


Nara langsung mematikan panggilannya dan menuju ke arah teman-temannya. Mereka melihat Gibran yang terkenal dengan rumornya saja sudah heboh, apalagi jika tahu kalau Nara mengenal Rendi yang merupakan ketua BEM? Sudah pasti dia akan mendapatkan banyak wawancara dari teman-temannya.

__ADS_1


Nara dan seluruh kelompok KKNnya pun langsung kembali ke rumah pak kepala desa dan beristirahat. Ini masih hari sabtu, dan mereka berencana menjalankan beberapa kegiatan mereka di hari senin.


Hari itu masih sore, kebetulan semua teman-teman Nara juga masih berada di kamar dan beberapa ada yang sedang mandi karena mereka berencana untuk pergi ke kota mencari kebutuhan pribadi.


Nara duduk di samping rumah dan menelpon ibunya, Nara merindukan putrinya itu. Nara sedikit khawatir jika sampai ada orang yang melihat atau mendengar pembicaraan Nara. Ia berbincang-bincang kepada ibunya selama 15 menit.


["Oh iya, Nak. Tadi Rendi telpon loh. Dia katanyabmau ketemu Syakila."] Ibunya tiba-tiba berkata seperti itu.


"Hah? Tumben banget Rendi telpon. Terus habis itu ngapain?" Nara penasaran dengan apa yang tadi terjadi.


["Ya udah gitu aja. Kalian lagi marahan?"]


Deg!


Feeling Nara langsung tidak enak, dia takut jika Rendi mengadu bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.


"E–enggak bu, bentar lagi juga kita mau ketemuan kok."


["Ya udah, jangan lupa foto ya. Ibu kangen lihat kalian berdua."]


"Aduh, salah bicara," batin Nara.


Pada akhirnya mereka pun mengakhiri pembicaraan karena Nara melihat Gibran ada di pintu dan mengisyaratkan untuk segera pergi.


"Kenapa?" tanya Nara kepada Gibran seusai mematikan telepon.


"Semuanya udah siap. Kamu pergi sama aku aja ya? Jalannya jelek, motor kamu biar dibawa orang lain," pinta Gibran.


"Loh, kok jadi kamu yang ngatur?" protes Nara.


"Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Jalannya jelek, kanan jurang, kiri hutan, kemungkinan kita juga pulang malem. Nurut aja pokoknya," pinta Gibran sembari pergi dari hadapan Nara.

__ADS_1


"Ughh, dasar pria itu." Nara menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.


Masalahnya, jika tiba-tiba Gibran meminta begitu, bukankah bisa memancing opini dari anak-anak lain?


Hingga saat mereka akan pergi, Gibran sungguh-sungguh bicara kepada semua orang jika Nara tidak akan bawa motor, dan motornya akan dibawa oleh Evi.


Evi langsung melihat ke arah Nara dan tersenyum sembari berucap, "Waduh, hoki banget tuh. Aku mau."


Sedangkan Nara hanya bisa diam saja dan menuruti perkataan pria itu. Pada akhirnya, Nara pun berboncengan dengan Gibran. Biasanya di tengah mereka ada Syakila, namun, kali ini mereka hanya berdua saja, dan itu membuat Nara cukup gugup.


Satu kelompok pun pergi ke kota dengan motor, yang jaraknya sekitar 10 menit dari desa mereka. Namun, mereka harus melewati hutan dan juga jalanan yang cukup susah. Sampai di kota, mereka berbelanja kebutuhan pribadi dan berjalan-jalan sebentar lalu kembali lagi ke rumah pak kepala desa.


"Gimana kamu sama Rendi?" tanya Gibran saat mereka menuju ke rumah, naik motor.


"Nggak tahu nih, aku juga bingung harus gimana. Dia ngajakin aku ketemu dekat-dekat ini. Dia juga tadi tiba-tiba telpon ibuku untuk melihat Syakila," ujar Nara.


"Serius? Pasti ada maunya tuh," ucap Gibran yang sudah tidak bisa berpikir positif jika mengenai Rendi.


"Aku nggak tahu juga, tapi dia terlihat serius. Ibuku juga mau lihat fotoku dengan Rendi, jadi mau tidak mau aku harus bertemu dengan Rendi agar terlihat baik-baik saja," ucap Nara.


Gibran terdiam sejenak dan berpikir. Sebenarnya dia sama sekali tidak setuju jika Nara bertemu dengan Rendi, Gibran juga tidak percaya dengan tipu daya pria yang seperti buaya darat itu.


"Ya udah, tapi jangan lama-lama. Jalan cuma sekedar makan aja, nggak usah sampai nginep berdua. Pokoknya jangan mau kalau disuruh nginep!" ujar Gibran yang tidak terima.


Nara pun hanya tersenyum kecil saja menanggapi ucapan Gibran yang memang sudah tidak bisa difilter, apalagi jika menyangkut Rendi.


"Eh? Ngomong-ngomong, kita di mana ya? Kayaknya aku nyasar deh," ucap Gibran tiba-tiba.


"HAH?! Kok bisa? Kan kamu ngikutin temen-temen kan?" ujar Nara dengan heboh.


"Iya tadi aku ngikutin mereka kok! Ini udah nggak ada loh!" ucap Gibran.

__ADS_1


Nara melihat ke sekitar, ternyata jalanannya juga semakin menyempit dan banyak hutan-hutan juga di sana. Nara mengecek sinyal di ponselnya namun hasilnya nihil.


"Nara, kayaknya kita tersesat deh," ucap Gibran dengan sedikit panik.


__ADS_2