Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Menyimpan Dua Cinta


__ADS_3

Selepas sampai di kos-kosan Adel, wanita dengan tubuh kecil dan imut itu mencium pipi Rendi dan tersenyum kepada pria itu.


"Minggu depan jadi jalan, kan?" Adel memastikan lagi kepada Rendi.


"Iya jadi dong." Rendi mengiyakan ucapan kekasihnya yang imut itu. "Kamu jangan deket-deket sama Gibran deh!" Rendi membahas hal tadi. Karena mereka janji tidak akan mempublish hubungan mereka lebih dulu.


"Kenapa?" Adel nampak tidak mengerti dengan perkataan pria itu.


"Aku nggak suka aja kamu deket-deket sama cowok lain. Gibran tuh bawa masalah banget loh." Rendi terlihat kesal dengan Gibran yang tadi ikut campur urusan mereka.


"Kamu kenal sama Gibran?" Adel nampak penasaran dengan hal itu.


"Ya nggak kenal-kenal banget sih. Aku cuma tahu aja, dan menurutku dia sama sekali nggak baik buat kamu dan hubungan kita. Terus, kita juga udah janji nggak bakal publish hubungan kita, kan? Kak Gibran itu deket sama anak-anak BEM loh." Rendi memperingatkan Adel soal keputusan mereka.


"Iya deh Sayang, maaf ya. Aku bakal lebih berhati-hati." Wanita itu menundukkan kepalanya dan merasa bersalah.


Rendi justru hanya tersenyum dan mengusap kepala wanita itu dan mencubit pipinya. "Aku nggak marah kok, Sayang. Jangan cemberut gitu ya?"


Adel pun tersenyum melihat kekasihnya yang begitu lembut kepadanya itu. Rendi pun berpamitan pulang dan pergi meninggalkan Adel, lalu pulang ke rumah.


Di sepanjang jalan, Rendi sudah sedikit khawatir jika tiba-tiba keluarganya Nara sudah sampai dan melihat Rendi tidak ada di rumah.


Saat sampai di kontrakan, ternyata mereka belum datang. Rendi melihat pesan dari Nara dan ternyata ada banyak yang belum dia balas karena keasyikan bersama Adel.


Rendi langsung masuk ke dalam rumah dan sedikit merapikan rumahnya yang berantakan, apalagi pakaian Rendi banyak yang berhamburan di lantai karena memang sikap Rendi yang masih kekanak-kanakkan dan menggantungkan semua pekerjaan rumah kepada Nara.


Hingga beberapa menit kemudian, ternyata Nara sudah sampai bersama dengan kedua orang tuanya, dan Rendi sudah berhasil merapikan kontrakan kecil itu.


Sampai di sana, Rendi langsung menyambut mereka dan menggendong Syakila. Ternyata ia memiliki rasa rindu terhadap putrinya juga, membuat Nara tersenyum saat sampai di rumah.

__ADS_1


Kedua orang tua Nara pun menurunkan beberapa barang bawaan yang sudah dibeli oleh keluarga Nara untuk kebutuhan sehari-hari mereka di kontrakan.


"Rendi, kamu sehat?" sapa ibunya Nara sembari mencium kedua pipi pria itu.


"Alhamdulilah sehat, Bu. Ibu belanja banyak banget." Rendi menyambut ibu mertuanya dengan senyuman.


Mereka pun langsung duduk berempat di ruangan kecil itu dan ayahnya Nara berniat untuk membicarakan hal yang tempo hari membuat mereka khawatir. Namun, langsung dicegah oleh ibunya Nara sembari berucap, "Biar Nara aja yang bilang, ya?"


Rendi sedikit bingung dengan sikap mereka berdua dan langsung melihat ke arah Nara dengan sedikit bingung.


Nara pun hanya mengedipkan sebelah matanya saja, memberikan kode kepada Rendi dan berkata bahwa semua baik-baik saja.


"Ya sudah, kami langsung pamit ya? Soalnya bakal ada pengajian nanti malam." Ayahnya Nara pun langsung beranjak dari tempatnya dan mencium putrinya itu.


"Iya, Bu, Pak. Hati-hati di jalan ya. Terima kasih sudah mengantarkan Nara." Rendi mencium tangan mertuanya dan mengantarkan mereka sampai ke depan.


"Hati-hati di rumah ya, Nak. Jaga Syakila baik-baik, juga jangan boros ya?" Ibunya Nara memberikan uang saku kepada Nara secara diam-diam.


Kedua orang tua Nara pun pergi dari rumah anaknya itu dan Rendi juga Nara langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah.


Nara membuka kedua tangannya dan meminta peluk kepada suaminya itu. Rendi pun memeluk istrinya dan mencium keningnya dengan lembut.


"Aku kangen, kamu nggak kangen sama aku?" tanya Nara.


"Kangen tau. Di rumah aku kesepian. Tiap malem ada yang nemenin tidur, kemarin tidur sendiri," ucap Rendi dengan senyuman.


Ternyata saat di dekat Nara, ia juga merindukan Nara. Hal itu membuat Rendi sedikit merasa bersalah kepada istrinya itu. Namun, dia juga tidak bisa melepaskan Adel begitu saja.


"Tadi ayah kamu ngomongin apa?" tanya Rendi yang sedikit penasaran.

__ADS_1


Nara yang sebenarnya tidak ingin langsung bicara hal itu pun sedikit bingung, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan suaminya itu.


Nara melepaskan pelukan Rendi dan menatap Rendi.


"Ayah cuma khawatir kita makan apa kalau misal orang tua aku nggak kasih aku uang saku. Ayah berharap kamu ada kerja sambilan. Tapi aku nggak maksa kok, soalnya kamu kan juga sibuk, aku takut kamu capek kalau terlalu memaksakan diri." Nara pun akhirnya bicara dan berusaha untuk tidak terlalu menyakiti perasaan suaminya itu.


"Kerjaan ya? Mungkin nunggu jabatanku selesai dulu baru aku bisa kerja sambilan deh. Kalau gitu gimana?" Rendi pun merespon dengan lembut, karena moodnya juga sedang bagus.


"Iya menurutku nggakpapa sih. Nanti aku coba bicara sama ayah dulu ya? Kira-kira mereka sanggup nggak kalau harus bayarin biaya hidup kita setahun lagi," pungkas Nara.


"Iya, aku juga nanti bicara sama bapak biar seenggaknya ekonomi kita dibantu," pungkas Rendi dengan senyuman dan berusaha untuk menenangkan istrinya itu.


"Iya, Sayang. Kamu udah makan belum?" tanya Nara yang mengkhawatirkan suaminya yang ditinggal selama beberapa hari.


"Udah kok, aku kangen sama Syakila loh." Rendi mendekati Syakila dan mencium pipi anaknya itu dan bermain sebentar dengan Syakila.


Baru kali ini Nara melihat pemandangan yang begitu menghangatkan dan membuat Nara cukup bahagia. Ternyata tidak ada salahnya juga jika Nara pulang ke rumah untuk beberapa hari, justru membuat Rendi terlihat merindukan Nara dan juga Syakila.


"Oh iya, aku kemarin diminta bapak buat bawa kamu ke rumah. Katanya bapak kangen sama Syakila." Rendi membuka ponselnya dan baru ingat saat melihat whatsapp bapaknya.


"Mau ngapain?" tanya Nara yang rasanya sudah ingin menolak duluan.


"Kangen, Sayang. Sebentar aja ya? Aku jamin nggak bakal ketemu sama bulikku deh!" Rendi seakan tahu jika istrinya itu anti sekali dengan tantenya yang omongannya setajam silet.


"Bener? Aku nggak mau moodku rusak gara-gara bulik kamu ih. Dia nggak suka banget sama aku loh, akunya kan jadi malas." Nara mengerucutkan bibirnya dan terlihat cemas.


"Iya, besok nggak bakal ketemu bulik kok. Ketemu bapak aja sebentar terus kita balik ya?" Rendi menjanjikan hal yang setidaknya membuat Nara tenang.


"Iya, Sayang."

__ADS_1


Nara pun tersenyum kala suaminya itu menjanjikan hal yang akan membuat mood Nara naik. Rendi pun menghela nafas lega, karena Nara tidak bertanya macam-macam soal kegiatan Rendi selama berada di kontrakan sendirian.


Sedangkan Nara selalu percaya dengan Rendi bahwa dia tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh. Tanpa Nara ketahui, Rendi sudah menyimpan dua wanita dalam hatinya.


__ADS_2