
"Apa-apaan ini?! Selama ini dia bohong? Atau emang kegiatannya yang begini?" batin Nara.
Takut suaminya segera bangun, karena pria itu terlihat akan meregangkan otot-ototnya dan bangun.
"Ng ... Kamu kok belum siap-siap?" tanya Rendi sembari menatap Nara dengan mata yang masih merah karena masih mengantuk. Sedangkan Nara langsung mengembalikan ponsel Rendi dan meletakkannya di sebelah Rendi.
"Iya ini lagi mau siap-siap. Kamu mandi dulu, aku udah masak buat kamu." Nara segera pergi dari hadapan pria itu.
Rendi pun akhirnya bangun karena terdengar sudah hampir maghrib. Nara mengganti pakaian bayinya menjadi lebih bagus lagi. Kali ini, ia mengenakan pampers kepada Syakila karena hari ini mereka akan pergi cukup lama dan menghadiri acara yang cukup sakral.
Suami Nara juga bersiap untuk mandi. Nara memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas milik putrinya. Ini kali pertamanya Nara keluar dari rumah, setelah sekian lama dia tidak keluar karena memang tidak diperbolehkan keluar sama sekali. Setelah sudah siap semua, Nara dan Rendi langsung pergi ke rumah orang tua Rendi. Sampai di sana, hari sudah maghrib dan Nara langsung masuk ke dalam rumah. Di sana terlihat ibu mertua Nara menyambut Nara dengan lembut dan langsung mengambil Syakila dari gendongan Nara.
"Aduh, aduh, cucu ibu yang paling cantik. Ibu gendong ya? Kamu kalau mau makan dulu." Ibu mertua Nara nampak sangat perhatian kepada Nara.
"Aku mau bantu ibu dulu. Apa yang belum selesai dikerjakan, Bu?" tanya Nara yang memang berniat membantu.
"Tinggal menata sotonya aja kok, setelah itu udah selesai."
"Ya udah biar Nara yang tatain ya, Bu?"
"Iya, terima kasih ya, Nak."
Nara pun menyiapkan beberapa makanan yang akan disajikan untuk acara nanti. Baru pertama kali ini Nara menginjakkan kaki di rumah mertuanya sendiri dan membantu pekerjaan rumah. Saat ia tengah merapikan beberapa mie, nasi, dan sayuran untuk membuat soto, Nara mendengar sedikit pembicaraan ibu mertuanya dengan kerabat yang lain, ternyata tante Irma juga berada di sana.
"MasyaAllah, cantiknya. Ibunya mana?" Kerabat lain menanyakan keberadaan Nara.
"Lagi bantu-bantu di belakang." Ibu Mertua Nara tersenyum sembari menggendong cucunya.
__ADS_1
"Nah gitu dong, suruh bantu. Acara ini kan buat dia juga, harusnya emang dia yang banyak ngurusin. Malah kita yang harus banyak kontribusi." Tante Irma jelas langsung menambahkan hal-hal buruk tentang Nara ke orang lain.
"Saya belum pernah ketemu Nara. Dia emang pemalas kah?"
"Suruh bantu aja nggak mau!"
"Irma!" hardik bapak mertua kepada adiknya. Karena tidak berani melawan tuan rumah, alhasil tante Irma hanya diam saja.
"Nara anak yang baik kok, dia bahkan bisa merawat Syakila sampai gemuk seperti ini. Lahir aja 3,5 kg loh! Besar, kan?" puji ibu mertua di hadapan kerabat mereka.
"Wah, alhamdulilah. Pasti dirawat dengan baik, ibu mertuanya juga baik karena mau bantu urusan seperti ini." Kerabat Rendi memuji mertua Nara.
Di dapur, Nara hanya tersenyum saja. Ia bersyukur, setidaknya masih memiliki ibu mertua yang begitu baik. Memperlakukan Nara layaknya seorang anak kandung dan bukan anak tiri. Selama hampir satu bulan, Syakila tidak pernah digendong oleh siapapun selain dirinya. Saat Syakila lepas dari pandangan dan gendongannya, Nara ternyata merasa cemas dan juga hampa, namun, ada juga perasaan lega di dalam dirinya, karena akhirnya dia bisa beristirahat dan bisa melakukan pekerjaan yang lain.
Sembari menata makanan, Nara masih memikirkan perihal foto yang tadi ia lihat, hal itu membuat Nara sedikit terganggu, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk fokus lebih dulu dalam acara ini, mengingat ini adalah acara milik keluarga kecilnya yang dibantu oleh banyak orang. Doa dari mereka untuk Syakila adalah hal yang paling penting saat ini.
"Nara, saat doa berlangsung, biar bapak yang membawa Syakila ya? Kamu sama Rendi ikut mendoakan aja," pinta bapak mertua.
"Iya, Pak."
Acara pun dimulai, di mana rambut tipis Syakila akan dipotong sedikit dan diikuti oleh berbagai macam doa-doa yang dipanjatkan untuk masa depan Syakila. Hingga saat Rendi tengah bersama Nara di ruang yang berbeda, Nara mulai menanyakan sedikit hal yang janggal untuknya.
"Kemarin kamu kumpul sama anak-anak BEM, nggak ngeluarin uang kah?" tanya Nara.
"Ngeluarin lah. Buat beli beberapa perkakas yang dibutuhkan, juga buat iuran, bahkan sehari bisa habis 50ribu tuh. Untungnya banyak yang mau iuran." Rendi seakan tengah menceritakan masalahnya.
"Terus, seharian kalian di kampus? Nggak ke mana-mana? Emang nggak bosan?" Nara sengaja menanyakan pertanyaan yang tidak langsung menyangkut pada hal yang sensitif untuk Rendi, apalagi soal pergi ke cafe dan foto bareng cewek.
__ADS_1
"Nggak lah! Mana sempat ke cafe, Sayang. Aku bawa duit aja pas-pasan loh." Rendi menggaruk kepalanya seakan merasa bahwa dirinya kekurangan uang. Nara masih belum puas dengan pertanyaan yang ia ajukan barusan.
"Kalau lagi kumpul, banyak ceweknya nggak?" bisik Nara di tengah mereka yang sedang berdoa.
"Nggak ada, soalnya yang cewek lagi pada mudik. Kamu kenapa tanya gitu? Nggak percaya sama aku?" Rendi justru bertanya balik.
"Iyalah! Yang kulihat di hp kamu itu apa kalau bukan cewek? Banci?!" batin Nara yang tidak berani meluapkan perasaannya.
"Nggak, kirain ada, Sayang. Ternyata nggak ada, ya udah sih. Aku cuma nanya aja, aku kan istri kamu, masa iya nggak boleh cemburu?" Nara sedikit cemberut kala mendengar ucapan pria itu.
"Masa sama suami sendiri nggak percaya sih. Aku nggak bakal macem-macem, Sayang. Tenang aja kamu tuh." Rendi mengusap kepala Nara dengan lembut seakan menenangkan istrinya agar tidak berpikiran buruk seperti itu lagi.
"Iya, aku percaya kok. Besok kamu di rumah kan?" tanya Nara.
"Kayaknya si di rumah. Aku juga capak beberapa hari ini acara terus. Urunan juga ngeluarin duit, aku belum dapat kerja sambilan, bisa-bisa kita yang kerepotan nih," pungkas Rendi kepada Nara.
"Ya udah, Sayang. Pelan-pelan aja." Nara tersenyum kecil ke arah suaminya itu.
Saat mereka tengah kembali berdoa, tiba-tiba Nara merasakan sakit dan pegal yang luar biasa di punggungnya.
"Ukh!" keluh Nara.
"Kenapa? Sakit? Capek?" Rendi nampak khawatir dengan kondisi Nara.
"Bukan, sejak lahiran, punggungku kaya nggak nyambung, tahu. Sakit banget." Nara berucap sembari memegang punggungnya.
"Astaghfirullah, Nara belum pijit, kah?" Tiba-tiba ibu mertuanya Nara berada di samping Nara dan tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua.
__ADS_1