
Gibran dan Tia pun makan bertiga di kantin, mereka melihat ke arah Nara dan kasihan dengan wanita itu. Namun, mereka sendiri bingung harus bagaimana mengatasinya kegalauan Nara.
"Kalian berdua kenapa lihatin aku begitu sih?" Nara justru heran dengan sikap mereka berdua.
"Lo nggak sakit hati lihat kelakuan pacar kamu itu?" tanya Tia.
"Bi–biarin aja. Nanti juga dia bakal minta maaf sendiri kok, nggak usah khawatirin aku, makan gih!" ujar Nara sembari menyuruh mereka makan makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka.
Nara melihat jam dan sudah pukul 15.45. Nara pun bergegas menghabiskan makanan dan minumannya, karena dia harus menjemput Syakila jam 4 sore.
"Buru-buru gitu mau ke mana?" tanya Tia.
"Oh, aku harus pergi. Soalnya aku ada acara lain nih!" Nara berdusta demi menutupi keberadaan putrinya itu.
Sedangkan Gibran yang sudah paham kondisi Nara hanya bisa membantu Nara untuk segera pergi dari kantin.
"Pokoknya, kalau lo ketemu sama Rendi, langsung aja tampar dia! Atau gua yang bakal tamparin buat lo!" ucap Tia.
"Iya, iya!"
Nara tersenyum dan beranjak dari kursi untuk membayar makanannya sendiri. Namun, saat ia akan membayar, penjual makanan justru berkata, "Oh! Sudah dibayar semua kok mbak, sama mas-mas yang itu!"
__ADS_1
"Eh?"
Nara langsung melihat ke arah Gibran dan pria itu hanya menjulurkan lidahnya saja. Nara menghampiri pria itu.
"Serius kamu bayarin semua?" tanya Nara.
"Iya, udah buruan sana! Nanti keburu sore loh!" usir Gibran yang paham betul Nara akan pergi ke mana.
"Ya udah, thanks ya! Aku ganti lain kali!" ucap Nara sembari pergi meninggalkan mereka berdua.
Ia sedikit terburu-buru karena takut terlambat menjemput Syakila, lalu ia harus membayar lebih. Untuk menitipkan Syakila saja membutuhkan uang sebesar 50ribu jika dari pagi sampai sore, tergantung jamnya. Jika hanya 2 jam atau 4 jam, Nara membayar sebesar 25.000.
"Eh, ibumu sudah pulang," ucap mbah Tik kepada Syakila yang masih bayi.
"Terima kasih sudah menjaga Syakila," ucap Nara sembari duduk di sebelah mbah Tik.
"Sama-sama, sudah kewajiban mbah kok. Syakila juga anak yang anteng, nggak rewel, gemes!" ucap mbah Tik.
Nara pun mengambil Syakila dari pelukan mbah Tik, lalu kembali menyusui Syakila lebih dulu sebelum menelpon suaminya. Sebenarnya, Nara sedikit malas menelpom suaminya karena sudah pasti ditolak. Namun, apa salahnya mencoba dulu.
Setelah cukup lama berdering, akhirnya Rendi mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Sayang, bisa jemput aku sama Syakila?" tanya Nara.
["Kamu di mana?"] tanya pria itu.
"Aku masih di tempat mbah Tik."
["Ya udah, tunggu dulu. Aku otw ke sana,"] jawab Rendi.
Nara sedikit tidak menyangka jika suaminya mau menjemput dirinya, apakah karena rasa bersalah karena tadi pergi bersama Adel? Atau memang Rendi berusaha mengubah sikapnya?
Beberapa menit kemudian, terlihat Rendi sudah datang, dan Nara sudah selesai menyusui Syakila. Ia pun langsung berkemas dan memberikan amplop berisikan uang untuk mbah Tik.
"Terima kasih ya, Nak. Besok ke sini lagi kan?"
"Iya, Mbah. Besok saya cuma kuliah dari jam 8 sampai jam 12 kok." Nara mencium punggung tangan wanita tua itu.
"Iya sudah, besok mbah tunggu. Dahh Syakila, jangan rewel sama mama ya!" ujar wanita tua itu menggoda Syakila.
Nara pun pergi meninggalkan rumah Mbah Tik dan pulang bersama Rendi. Ia berusaha untuk tidak marah dengan Rendi.
Hingga sampai di rumah....
__ADS_1