Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Penguntit


__ADS_3

Gibran mengajak Nara ke sisi yang lain. Gibran mau mengajak Nara ke tepi pantai yang berada


di pojokan. Ia merasa tempat itu adalah tempat yang paling cocok untuk mereka berdua. Gibran juga ingin menghabiskan waktu bersama Nara, karena sepertinya setelah ini hubungan mereka akan semakin runyam. Sampailah mereka di tempat yang sejuk dan memainkan ayunan di sana.


“Kenapa sih tiba-tiba ngajakin pergi?” tanya Nara saat tangannya dilepaskan oleh Gibran dan


pria itu justru bermain ayunan sendiri.


“Duduk sini dulu, kenapa sih? Nggak usah khawatir gitu,” ujar Gibran.


Nara pun mengikuti ucapan pria itu dan duduk di ayunan yang ada di sebelah Gibran, ia mengayunkan mainan itu perlahan. Mereka diam sejenak, namun sesekali ekor mata Nara


melihat ke arah Gibran karena ingin tahu apa yang sebenarnya sedang Gibran lakukan dan apa


yang ingin ia katakan.


Saat mereka sedang diam karena belum ada pembahasan, tiba-tiba Gibran berhenti berayun dan melihat ke arah Nara.


“Ceraikan Rendi,” ujar Gibran dengan tiba-tiba. Mendengar hal itu, Nara langsung melihat ke arah pria itu dan membelalakkan matanya. Pria itu langsung bicara blak-blakkan.


“Kenapa tiba-tiba, Gibran?” Nara juga menghentikan laju ayunannya.


“Jangan paksain kalau kamu udah nggak cinta. Kamu selama ini udah cukup menderita, Nara. Cerai aja sama Rendi,” ucap Gibran.


Nara menundukkan kepalanya sejenak, hembusan ombak langsung menerpa rambut wanita itu


dan Nara juga sampai tak bisa bergeming karena dia sendiri masih ragu untuk menceraikan


Rendi.


“Apa yang bikin kamu susah buat ceraiin Rendi sih?” tanya Gibran.


“Aku sama Rendi itu bukan cuma setahun dua tahun, GIbran. Bahkan di saat seperti ini pun aku pingin banget Rendi berubah. Aku masih berharap pria itu berubah. Padahal aku tahu sendiri


kalau dia sampai kapanpun nggak akan berubah dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Aku


belum bisa ceraikan dia,” urai Nara sembari memikirkan masa depan Syakila.


“Kenapa? Kamu cerai sama dia tuh nggak bakal bikin masa depan kamu hancur, Nara!” hardik Gibran yang sudah gemas dengan Nara.

__ADS_1


“Iya aku tahu. Emang aku yang susah buat lupain Rendi, buat lupain semua tentang dia. Aku


juga nggak terima kalau dia jalan sama cewek lain. Hidupku kaya bakal hancur karena nggak


akan ada cowok yang mau sama aku lagi!” ujar Nara sembari sedikit mengeraskan suaranya.


Mendengar Nara berucap seperti itu, Gibran langsung turun dari ayunannya dan beralih ke hadapan Nara. dan memegang kedua tangannya sembari menatap mata yang sudah dipenuhi


oleh air mata.


“Ada aku.” Saat Gibran berucap seperti itu, Nara meneteskan air matanya. “Hey, aku mau


terima kamu apa adanya. Mau kamu janda anak satu, mau kamu sakit apa, nggak perawan


atau apapun itu aku mau kok terima kamu apa adanya. Lihat aku, Nara. Selama ini aku


nungguin kamu,” lanjut Gibran sembari mengusap air mata Nara.


“Kamu bilang kaya gitu bukan buat nenangin perasaan aku doang kan?” tanya Nara dengan senyuman dan mulai mengusap air matanya.


“Mana mungkin. Aku serius sama kamu, aku mau terima kamu seperti apapun masa lalu kamu. Jangan insecure, Nara. Kamu tuh baik banget di mata aku, kamu cantik dan sosok yang sempurna. Aku selalu ada di sini buat kamu.” Gibran mengusap pipi Nara dengan lembut dan tersenyum hangat kepada wanita itu.


Nara terdiam sejenak dan ikut tersenyum mendengar Gibran berucap seperti itu, apalagi selama ini memang Gibran selalu ada untuk Nara dan menghibur Nara apapun yang terjadi, bisa-bisanya dia tidak melihat Gibran.


Gibran.


“Ya, sudah pasti semua akan baik-baik saja dan kamu akan lebih bahagia denganku. Aku sudah berjanji akan membahagiakan kamu kan?” tukas Gibran yang tersenyum saat melihat Nara


mulai tersadar akan cinta butanya itu.


“Baiklah, aku akan berusaha untuk menceraikan Rendi. Lagipula aku sudah lelah dengan


semua ini,” ucap Nara yang sebenarnya menyayangkan pernikahannya yang baru berjalan


beberapa bulan saja. Padahal di matanya, pernikahan adalah hal yang sangat sakral.


Gibran masih berlutut di hadapan Nara dan menggenggam tangan wanita itu dengan sangat erat, senyum pun keluar dari bibir mereka berdua. Lalu, pertama kalinya Gibran mencium


punggung tangan wanita itu dengan lembut.

__ADS_1


“Percayalah, semuanya bakal baik-baik aja kok. Kamu nggak perlu khawatir. Kalau ada apa-apa bilang sama aku.” Gibran kembali mengingatkan wanita itu.


“Iya, Gibran. Terima kasih ya, kamu baik banget sama aku.”


“Iya, kamu juga nggak perlu mikirin karir Rendi yang merupakan ketua BEM itu. Bahkan, biar semua universitas tahu kalau ketua BEM yang mereka banggakan itu benar-benar memiliki


sikap dan perilaku yang sangat busuk! Sampai berani menghamili kamu dan menyembunyikan


identitas kamu sebagai istri sah. Malah dia main sama cewek lain yang bukan muhrimnya,”


kesal Gibran. Nara hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Gibran itu. Melihat Nara sudah


semakin lega dan tenang, Gibran mengajak Nara untuk bermain air dan juga foto bersama


dengan menggunakan ponsel Gibran. Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuk


mereka berdua.


Namun, tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang memperhatikan mereka berdua dan terlihat


kesal dengan Gibran dan juga Nara. Tangannya mengepal dan matanya memerah karena menahan air mata dan merasa sudah tersakiti hatinya. Hatinya dilukai oleh dua orang yang selama ini ia percaya dengan baik.


“Ugh! Sialan! Kenapa nggak bilang aja dari awal kalau kalian itu saling suka sih!” kesal Evi yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka saat berada di ayunan.


“Tapi tunggu dulu, Nara pacarnya Rendi? Anak ketua BEM itu? Lebih nggak nyangka aja sih, seorang ketua BEM seleranya rendahan begitu Kena pelet kali ya?” gumam Evi sembari menyusuri pinggir pantai dan mencari teman-teman lainnya untuk ikut bergabung.


Tiba-tiba, ia terhenti dan tersenyum licik.


“Lihat aja, ini bakal jadi berita yang menggemparkan dan semua orang juga pasti bakal seneng


denger gosip hangat begini! Awas aja kalian, aku bakal hancurin hidup kalian berdua yang udah


bikin hatiku hancur berkeping-keping!” gerutu Evi yang justru merencanakan rencana licik untuk


menghancurkan mereka berdua.


“Kalian berani sama Evi? Lihat aja, kalian bakal kubalas dua kali lipat!” ujar Evi sembari kembali berjalan dan dengan senyuman yang licik.


Kali ini Gibran kurang awas dan kurang memperhatikan sekitar, sehingga membuat Evi bisa

__ADS_1


mendengarkan percakapan penting antara mereka berdua. Mereka sama sekali tidak tahu apa


yang nantinya akan mereka hadapi di depan sana.


__ADS_2