Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Tidak Sudi Bertanggung Jawab


__ADS_3

Tibalah saatnya di mana Rendi sudah bisa keluar dari rumah sakit dan kedua orang tua Rendi


datang untuk menjemput putranya. Selama ini kedua orang tuanya tidak sempat mengurus Rendi karena kerjaan mereka yang begitu banyak, banyak sekali pesanan yang harus mereka kerjakan.


Rendi dan kedua orang tuanya datang menemui Adel di kediamannya yang berjarak sekitar 1 jam dari kampus Rendi. Karena ini merupakan pertemuan keluarga, maka mereka harus membicarakannya baik-baik secara kekeluargaan.


Rumah Adel ternyata cukup besar, banyak juga orang yang tinggal di dalam rumahnya itu, ada beberapa ART yang dipekerjakan dan juga supir.


Pantas saja Adel bisa melakukan apa yang


dia inginkan, karena dia juga anak tunggal dan kedua orang tuanya selalu sibuk dengan


pekerjaannya.


Kedua orang tua Adel nampak sudah menanti kedatangan keluarga Rendi, sebenarnya Rendi ingin langsung pulang saja ke rumah, namun, jika tidak begini maka masalahnya tidak akan


selesai.


“Silakan duduk,” sambut ayahnya Adel sembari membiarkan mereka duduk.


Tak berapa lama, datanglah ART yang membawakan minuman untuk mereka semua. Beberapa


menit kemudian, turun juga Adel bersama dengan ibunya, mereka menggunakan pakaian yang


rapi. Bahkan Adel juga terlihat sangat kalem di depan kedua orang tua Rendi. Padahal aslinya


tidak seperti itu.


“Saya sudah dengar semuanya dari Adel, saya sangat kecewa, mengapa bisa ketua BEM dari universitas pilihan, bisa menghamili anak saya dengan seenaknya?” ujar sang Ayah yang langsung membuat kedua orang tua Rendi kena mental.


“Maaf pak, anak saya memang sangatlah keterlaluan dan kami juga tidak bisa mengawasi anak


kami dengan baik dan benar. Jujur saja, kami datang kemari ingin meminta maaf atas perilaku


putra kami kepada anak bapak,” ujar ayahnya Rendi yang mewakili keluarganya untuk bicara.


“Lalu, bagaimana tanggung jawab kalian?” tanya sang ayah.


“Setelah kami perbincangkan lagi, bagaimana jika gugurkan saja kandungan Adel? Mengingat


usia kandungannya juga masih sangat muda, jadi tidak perlu melakukan operasi atau apapun


itu. Hanya tinggal meminum obat saja,” tukas ayahnya Rendi.

__ADS_1


“APA?! Beraninya kau bicara seperti itu kepada kami!!” teriak ibunya Adel yang tidak terima, begitu juga dengan Adel.


“Tunggu sebentar, Bu. Kami bicara seperti itu karena kami memiliki beberapa alasan.” Ayahnya Rendi masih berusaha untuk menenangkan wanita itu.


“Apa melakukan aborsi merupakan bentuk dari tanggung jawab kalian yang sudah menghamili anak saya?” hardik ayahnya Adel.


“Ya.” Rendi langsung menjawab tanpa basa-basi dan ragu. “Maaf saya menyela pembicaraan


ini, namun, saya memikirkan dan mempertimbangkan masa depan putri anda. Sekarang, saya


sudah tidak lagi menjadi ketua BEM dan jabatan saya sudah dilepas. Akan sangatlah beresiko


bagi Adel jika menjadi istri saya, karena semua orang bisa memandang buruk Adel juga dan


berimbas ke Adel. Bisa saja saya diperlakukan dengan tidak baik di kampus, itu pun bisa terjadi


kepada Adel jika masih bersama saya.” Rendi menguraikan resiko jika mereka berdua menikah.


“Hmmm, pemikiranmu luas juga. Saya jadi bisa melihat seberapa sayangnya kamu kepada anak saya,” ujar ayahnya Adel.


“Pa! Kok papa jadi ngebelain mereka sih!” ketus Adel.


“Lalu, secara ekonomi, saya sepertinya tidak siap jika harus menikah. Saya belum bisa bekerja


dan kelihatannya putri anda terbiasa dengan barang-barang yang mewah. Saya tidak mau Adel sampai menderita karena saya tidak bisa memberikan nafkah yang banyak untuk putri anda.


“Hmmm, benar juga apa katamu,” ucap ayahnya Adel.


Adel dan mamanya semakin geram karena ini tidak sesuai dengan apa yang sudah Adel rencanakan. Ia ingin menikahi Rendi agar bisa membuat Rendi bertekuk lutut kepada Adel dan mengikat Rendi selamanya dalam hidupnya.


“Nggak! Rendi harus bertanggung jawab dan menjadi ayah dari anakku! Aku nggak mau aborsi, Pa! Papa nggak lihat banyak banget berita aborsi yang memakan korban? Apalagi itu ilegal pa!” tolak Adel.


“Boleh saya berikan pendapat saya yang selanjutnya?” tanya Rendi dengan sopan dan Adel


merasa” kesal karena diabaikan.


“Bicaralah.”


“Masa depan Adel kelihatan sangat cerah. Dia bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Bisa juga menjadi pewaris dari perusahaan anda, masa depannya masih cerah, sangat disayangkan


jika dia harus menikah muda. Apalagi jika akhirnya tidak bahagia,” ucap Rendi sembari


mengingat beberapa kenangan tentang Nara, ia merasa sangat bersalah kepada istri

__ADS_1


rahasianya itu.


“Tapi kamu tetap harus tanggung jawab dong! Masa ia dengan cara aborsi! Kamu rela aku mati?!” tanya Adel.


“Justru karena usia kandungan kamu masih muda, semuanya akan baik-baik saja. Kalau semakin besar usia kandungan kamu, itu justru semakin membahayakan,” jawab Rendi sembari menatap Adel dengan tatapan yang sinis dan dingin.


“Bagaimana kau akan mempertanggung jawabkan keperawanan anakku?” Ibunya Adel mulai


bicara.


Kedua orang tua Rendi saling melihat dan sedikit bingung atas jawaban itu, namun, Rendi


hanya tersenyum kecil saja menanggapi pertanyaan itu.


“Coba tanya kepada putri bapak, mengapa dia bisa tidak perawan saat saya melakukan itu dengannya. Bahkan tidak ada darah sama sekali, ia sengaja mematikan lampu agar saya tidak melihat darahnya. Namun, saya sempat membersihkan dengan tisu dan tidak ada bercak apapun di sana.” Rendi bicara dengan sangat berani. Ia juga lalu membuka ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto Adel sedang pergi ke cafe malam. Ia terlihat sedang bersama dengan beberapa pria yang berbeda-beda dan juga check in hotel juga.


Ayahnya Adel yang melihat hal itu langsung melihat ke arah Adel dengan tatapan sedikit marah


dan ada juga rasa kecewa, begitupun dengan mamanya.


“Apa maksud semua ini, Adel?!” gertak sang ayah.


“I–itu pasti cuma foto editan! Aku nggak mungkin—”


“Maka dari itu, saya sendiri juga mempertanyakan, apakah anak yang ada di dalam


kandungannya itu adalah anak saya atau bukan? Bisa saja itu anak dari beberapa orang yang


sudah bersetubuh dengannya lebih dulu.” Rendi menjawab dengan berani.


“Beraninya kau menunjukkan foto tidak senonoh itu kepada kami dan menjadikan senjata untukmu!” geram sang ibu.


“Kalian boleh pergi. Saya akan bicarakan ini kepada keluarga saya, sepertinya saya juga tidak mau menerima keluarga rendahan seperti kalian,” ujar sang ayah dengan kata-kata pedasnya.


Rendi dan keluarganya pun bersiap untuk pergi dari rumah mewah tersebut, sebelum pergi dari hadapan mereka, ibunya Rendi sempat berucap, “Maaf, kami juga tidak bisa menerima Adel yang minim attitude nya di depan orang tua. Permisi!” Mereka semua pun pergi dari rumah Adel dan meninggalkan kesan yang kurang baik di mata keluarga Adel.


“Pa! Kok jadi gini sih! Aku mau nikah sama Rendi aja! Kenapa papa malah batalin semuanya


sih!” ujar Adel.


"DIAM KAMU!" gertak sang ayah yang terdengar marah dan menatap kepergian mereka semua dengan tatapan sinis.


Namun, ayahnya Adel hanya tersenyum kecil saja dan sedikit kesal dengan putrinya. Pria itu

__ADS_1


Merencanakan sesuatu yang licik untuk memberikan pelajaran kepada Rendi.


“Cecunguk kurang ajar! Dia berani bicara begitu di depanku,” batin papanya Adel


__ADS_2