Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Keputusan Sudah Bulat


__ADS_3

Tiba di mana Rendi sudah boleh keluar dari rumah sakit, Nara pun masih setia mendampingi sampai Rendi bisa pulang ke rumah kedua orang tuanya. Mereka berdua pulang dengan mobil online yang sudah Nara pesan, semua biaya administrasinya sudah ditanggung oleh ayahnya Rendi, sedangkan mereka hanya tinggal berkemas lalu pulang saja. Mertua Nara menunggu


kedatangan mereka di rumah.


Sepanjang perjalanan, Rendi nampak senang dan merasa bahagia dia sudah keluar dari rumah sakit, berharap setelah ini akan ada kebahagiaan yang datang kepadanya bersama dengan keluarga kecilnya itu.


“Aku tiba-tiba kangen banget sama Syakila, padahal berapa hari doang nggak ketemu,” ujar Rendi dengan senyuman.


“Oh ya? Dia juga kayaknya kangen sama kamu sih, nanti gendong dia yang lama kalau kamu kangen. Tangan kamu udah sembuh?” tanya Nara.


“Udah kok, seenggaknya tangan kananku masih baik-baik aja, aku bakal gendong Syakila


sampai puas deh pokoknya!” tukas Rendi dengan penuh penantian.


Nara sama sekali sudah tidak iba dengan perkataan pria itu, ia merasa bahwa yang dikatakan


Rendi adalah sebuah perasaan agar Nara tidak lepas dari dirinya dan akan selalu dimanfaatkan


oleh Rendi. Rendi bahkan menggenggam tangan Nara sepanjang perjalanan pulang.


Nara sudah bertekad untuk melepaskan semuanya yang ia punya saat ini, ia tidak peduli dengan resiko Rendi dan keluarganya nanti, ia juga berharap kedua orang tuanya mengerti jika memang perceraian adalah hal yang terbaik untuk mereka berdua.


Hingga sampailah mereka berdua di rumah kedua orang tua Rendi. Mereka disambut dengan


baik di sana dan bahkan ibu tiri Rendi terlihat sangat bahagia saat anaknya itu sampai di rumah


dan sudah terlihat baik-baik saja.


Mereka melepas rindu bersama-sama dan berbincang-bincang cukup lama. Rendi juga melepas rindu dengan putrinya itu. Nara sedikit rindu dengan suasana seperti ini, namun sudah pasti ini hanyalah terjadi sekali saja dan tidak akan bertahan untuk selamanya. Mereka hanya belum tahu saja dibalik putranya yang terlihat sangat baik dan pintar itu, ada sosok wanita yang dengan mudahnya ia lukai.


Rendi dan Nara pun dipersilakan untuk istirahat di kamar, sedangkan Nara terlihat sedang mengemasi barang Syakila.


“Kamu mau ke mana, Nara? Kok barang Syakila kamu masukin semua? Malam ini kita tinggal di sini dulu kan?” tanya Rendi yang sedang memeluk putrinya yang tengah tertidur.


Nara pun menghela nafas panjang dan melihat ke arah Rendi dengan tatapan mata yang begitu nanar. Nara bahkan semakin susah mengungkapkan bahwa ia sedang bersedih dan menangis


pun sedikit sulit untuknya. Yang ia rasakan kali ini hanya sesak di dada saja, selebihnya


hambar.

__ADS_1


“Aku mau bicara sama kamu sekarang, nggakpapa?” tanya Nara.


Rendi menaikkan sebelah alisnya dan sedikit takut dengan apa yang akan mereka bahas nantinya.


“Bicara aja, kamarku kedap suara kok. Lagian orang tuaku kayaknya pergi.” Rendi langsung duduk di ujung kasur dan membiarkan


putrinya itu tertidur dengan lelap.


Nara berdiri di hadapan Rendi persis dan melihat ke arah pria itu. Ia berpaling sejenak dan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


“Rendi, kamu tahu bahwa aku begitu sayang sama kamu kan?” tanya Nara yang merasa pipinya pegal karena selama ini ia berpura-pura bahagia di depan banyak orang.


“Iya aku tau kok, kenapa sih? Kamu ada masalah apa?” Rendi sedikit cemas.


“Tapi sejak lihat ini, perasaanku kepadamu langsung menghilang begitu saja.”


Nara mengeluarkan testpack milik Adel yang memang sengaja ia bawa dan menunjukkannya kepada Rendi. Terlihat garis dua semakin jelas di sana dan Rendi langsung terkejut dan melihat


ke arah Nara.


“Kamu hamil, Sayang?!” kejut Rendi yang ingin tersenyum, namun ia juga sedikit takut, karena artinya dia harus kerja ekstra untuk bisa menghidupi keluarganya.


terbendung di matanya. Setelah sekian lama ia tak merasakan sedih sedikitpun, kali ini hatinya


benar-benar sangatlah hancur.


“Kalau bukan kamu terus siapa?” Nada bicara Rendi semakin pelan dan pikirannya langsung mengarah kepada Adel.


Ia langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan milik Adel, benar saja ia mengirimkan


foto yang sama dengan yang diberikan oleh Nara. Rendi langsung berpikir keras dan


bertanya-tanya, kapan mereka bertemu dan bagaimana mereka bisa bertemu?


Otak Rendi langsung berpikir, berusaha untuk tidak membenarkan apa yang dikatakan oleh Nara, berusaha untuk membohongi istrinya untuk yang ke sekian kalinya. Namun, kali ini


pikirannya buyar dan kacau.


“Kamu dapat ini dari mana, Nara?” tanya Rendi dengan terbata-bata.

__ADS_1


“Menurut kamu dari siapa? Kamu mengakui kalau ada wanita lain yang juga kamu sentuh selain


aku kan? Sekarang ini bukan punyaku, dan Adel datang dengan memberikan ini.” Nara menjelaskan semuanya kepada Rendi.


“I-itu salah paham! Dia pasti mau menghancurkan hubungan kita berdua aja! Bukannya kita


udah sering salah paham gini, Nara?!” ujar Rendi sembari berusaha untuk membujuk Nara dan mencari-cari alasan.


Dari gelagat Rendi, Nara sudah tahu jika Rendi sedang berusaha untuk membohongi dirinya. Nara pun menggendong Syakila dan membawa seluruh barang milik Syakila dan bersiap untuk pergi. Namun, Rendi menahan wanita itu dan memegang kaki Nara.


“Nara plis, aku bisa jelasin kok! Kamu jangan pergi dulu, aku janji bakal jelasin semua!” ujar


Rendi sembari berusaha menahan Nara.


Namun, Nara sudah tahu semuanya dan tidak ingin ada jawaban apapun lagi dari pria itu. Nara melepaskan genggaman pria itu perlahan dan melihat ke arah Rendi.


“Buktikan kalau bisa, Rendi. Aku sudah tidak ingin lagi melihatmu, lebih baik kamu urus Adel


mulai saat ini. Pikirkan cara agar dia tidak membuat reputasimu hancur. Aku akan pergi


sementara dengan Syakila. Kuharap kamu bisa memperbaiki hidupmu, Rendi.” Nara langsung


keluar dari kamar Rendi dan langsung keluar dari rumah itu.


Untungnya saat itu kedua orang tua Rendi sedang pergi dan Rendi mengejar Nara sampai ke


luar.


“Nara! Bantu aku, aku mohon sama kamu jangan tinggalin aku yang lagi kesusahan ini! Tolong bantu aku biar Adel nggak deket-deket sama aku lagi dan ngerusak reputasi aku! Tolong, Nara!” pinta Rendi.


“Aku nggak bisa bantu kamu, kehadiranku bahkan bisa bikin kamu kesusahan nantinya. Lebih


baik aku pergi dari hidupmu untuk selamanya saja. Aku mohon, jangan halangi aku dan urus urusanmu sendiri!”


Nara pun meninggalkan Rendi pergi dari rumah itu, sayangnya Rendi belum bisa berlari dan banyak bergerak hingga saat ia mengejar Nara, pria itu sempat jatuh. Saat Rendi terjatuh, kaki Nara hampir tergerak untuk membantunya.


Namun, dengan tekad yang kuat, Nara memutuskan


untuk pergi sembari menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk abai.

__ADS_1


“Maaf, Rendi. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi denganmu!” batin Nara sembari menjauh dari Rendi.


__ADS_2