Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Bahagia Pulang ke Rumah


__ADS_3

Nara pun pulang bersama dengan ayahnya meninggalkan Rendi sendirian di kontrakan itu. Saat di mobil, Nara menghela nafas panjang dan ada sedikit perasaan lega, karena setelah ini dia tidak akan bertemu dengan Rendi selama 45 hari.


"Gimana hubungan kamu sama Rendi?" tanya ayahnya Nara dengan sangat mendadak, membuat Nara sedikit terkejut.


Nara ingin sekali jujur kepada ayahnya, namun, sepertinya tidak mungkin, ayahnya sudah banyak pikiran di kerjaan dan keluarganya, mana mungkin Nara menambah beban ayahnya.


"Hubungan kami baik-baik saja, Ayah." Nara berdusta kepada ayahnya sendiri.


"Syukurlah kalau baik-baik aja. Ayah sempat takut kalau hubungan kalian tidak baik-baik saja, karena kalian menikah terlalu muda, dan pasti ada saja cobaannya saat menikah," imbuh sang ayah.


"Iya ayah, Nara sama Rendi juga udah bukan anak kecil lagi kok. Kita juga bisa nyelesaiin masalah kita sendiri," ucap Nara yang berusaha menenangkan ayahnya.


"Pokoknya, apapun yang terjadi ayah nggak mau sampai kamu disakiti sama Rendi, kalau sampai dia nyakitin kamu, udah pulang aja ke rumah. Ayah sama ibu masih bisa nafkahin kamu sama Syakila kok." Sang ayah nampak serius dengan ucapannya barusan.


Hal itu justru membuat Nara ingin sekali menangis, namun, dia harus tetap kuat dan tegar menjalani semuanya. Meskipun ayahnya bilang begitu, namun, saat tahu aslinya, pasti ayahnya Nara tidak akan memberi ampun kepada Rendi.


"Tenang saja ayah, Rendi nggak seperti itu kok." Untuk yang kesekian kalinya, Nara berdusta.


Di sepanjang jalan, ayahnya bercerita perihal kehidupannya dengan ibu, dan membuat Nara menjadi sedikit terhibur. Seakan beban yang selama ini menekannya di kontrakan langsung hilang dalam sekejap.

__ADS_1


Hingga sampai di rumah, ibunya sudah menanti Nara dan langsung memeluk wanita itu saat sudah sampai di rumah. Sempat Nara ingin menangis saat berada dalam pelukan ibunya.


"Sehat, Nak? Sini, sini, ibu mau gendong cucu ibu." Ibunya Nara langsung sigap menggendong cucu kesayangan mereka dan membawanya masuk, lalu mengajak Nara juga untuk masuk ke dalam rumah.


"Semuanya udah dibawa pulang kan?" tanya sang ibu.


"Udah bu, semua perlatan Syakila sudah aku bawa pulang semuanya. Ibu yakin mau urus Syakila selama sebulan lebih? Ibu juga harus kerja kan?" Nara nampak khawatir kepada ibunya itu.


"Nggakpapa, Nak. Nanti ada ART juga yang datang pagi sampai sore, nanti ibu sama adik kamu bakal jagain Syakila malamnya." Mereka duduk di sofa sembari berbicara.


"Jangan ngerasa nggak enak gitu. Yang penting pendidikan kamu dulu, jangan mikirin hal yang aneh-aneh. Serahkan semuanya kepada kami, kamu fokus KKN saja." Ayahnya Nara masuk sembari membawa barang-barang Nara dan memotong pembicaraan mereka.


"Nggak sayang. Nggak ngerepotin kok. Ibu malah seneng dititipin cucu cantik begini. Ibu lebih khawatir lagi kalau nanti ditinggal di rumah mertuamu. Sepertinya mereka enggan sewa ART." Ibu nampak paham betul dengan sikap mertua Nara.


Nara pun hanya tersenyum kecil saja menanggapi ucapan ibunya, padahal yang dikatakan oleh ibunya memang benar adanya. Mertua Nara pasti enggan dititipi Syakila.


Nara pun merapikan pakaian Syakila di lemari milik Nara yang masih ada di rumah dan tersimpan rapi bersama dengan pakaian milik Nara. Ia sangat bahagia sekali bisa pulang dan perasaannya juga semakin tenang dan lega. Besok lusa, dia sudah berangkat KKN dan harus meninggalkan Syakila.


Saat Nara sedang beres-beres, ponsel Nara pun berbunyi dan terlihat notif pesan dari Gibran.

__ADS_1


[Kamu balik ke rumah?]


Melihat notifikasi tersebut, Nara langsung menghentikan kegiatannya dan mengambil ponselnya lalu membalas pesan pria itu.


[Iya, aku di rumah. Kamu baik-baik aja?] Nara membalas dengan penuh rasa bahagia.


[Tentu saja. Btw, mau lihat sesuatu yang mencengangkan?] tanya Gibran.


Nara menaikkan sebelah alisnya dan membalas kembali pesan pria itu.


[Hm? Apa? Kenapa?] Nara nampak penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Rendi.


Sepanjang menunggu balasan, jantungnya berdegup dengan kencang dan tidak sabar menunggu jawaban pria itu.


Hingga terdengar notifikasi ponsel Nara, terlihat Gibran mengirimkan gambar dan berisikan daftar nama serta foto peserta KKN.


Lalu, mata Nara membelalak lebar saat ia melihat satu nama yang ia sendiri tidak menyangka akan KKN bersama dengan orang itu.


"Gila sih ini!" kejut Nara, namun, dia bingung harus sedih, gembira, atau bagaimana. Perasaannya campur aduk kala itu.

__ADS_1


__ADS_2