Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Rumor Menyebar


__ADS_3

Hari pun semakin berlalu, di mana perilaku Rendi justru semakin membaik dan terlihat semakin perhatian kepada Nara. Nara juga masih sering berangkat kuliah, Rendi juga sering sekali ke kampus karena memang kesibukannya sebagai ketua BEM.


Pagi hari, Rendi berangkat ke kampus selepas KKN usai dijalankan dan hanya tersisa pembuatan laporan. Sampai di kampus, terlihat semua orang sedang membicarakan Rendi saat Rendi lewat di depan mereka semua. Lorong kampus


saat itu juga sedang sangat ramai. Ada adik tingkat dan juga beberapa kakak tingkat di sana. Rendi


juga lewat dengan percaya diri karena sejujurnya dia terlalu percaya diri dengan rumor baik


tentang dirinya dan juga ketampanannya. Rendi masuk ke ruang BEM dan terlihat semua orang sedang terdiam, saat melihat Rendi


masuk semua orang langsung melihat ke arah Rendi dengan tatapan yang bingung. Akhirnya,


Rendi merasakan ada sesuatu yang aneh.


“Kalian kenapa natap gue gitu dah?” tanya Rendi sembari menutup pintu, dan juga sedikit


ketakutan.


Beberapa orang saling lihat-lihatan, seakan bingung harus bicara mulai dari mana. Hingga Tama mendekati Gibran dengan raut wajah nampak kecewa dan juga kesal.


“Lo serius nggak tahu apa yang terjadi?” celetuk Tama.


“Emang kenapa sih? Ada apa sebenernya?” tanya Rendi yang semakin kebingungan.


Adel juga berada di sana dan juga nampak kesal saat melihat Rendi.


“Udah semingguan ini ada rumor kalau lo udah nikah.”


DEG!


Jantung Rendi seakan berhenti berdegup selama satu detik.


“Udah 3 hari loh rumor itu menyebar, masa kamu nggak sadar? Apa bener itu?” tanya Adel


dengan tatapan mata yang dingin.


“Apa bener soal semua kabar itu? Kalau gitu, lo sengaja bohong dong?” imbuh Tama dengan perasaan yang semakin kesal.


Sedangkan Rendi hanya diam beribu bahasa dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia bingung bagaimana harus mengatasi semua ini. Ternyata dia terlalu percaya diri dengan apa yang ia


miliki sampai dia tidak sadar jika selama ini rumor itu menyebar dan sudah tiga hari lamanya.


Tiba-tiba Adel berdiri dengan cepat dan langsung menggebrak meja hingga membuat semua orang terkejut.


BRAK!

__ADS_1


“Ngomong nggak lo! Kenapa diem aja, Rendi!” hardik Adel.


Rendi menelan salivanya dan rasanya sangatlah sakit. Rendi tidak bisa berkata apa-apa, tentu saja dia akan berbohong dan tidak akan menyebarkan yang sebenarnya, namun siapakah


orang yang berani menyebarkan berita seperti ini?


Rendi terlihat mulai mengeluarkan keringat dingin dan ketakutan bukan main saat dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini.


“Lihat, bahkan di blog kampus udah tersebar berita kaya gini loh. Lo yakin nggak mau klarifikasi


soal ini? Apa emang semua rumor itu benar adanya?” Tama terus mendesak Rendi dan Rendi


masih melihat berita yang ada di blog kampus.


“Ketua BEM yang selama ini didambakan semua orang, nyatanya sudah menikah dan memiliki anak, namun masih mendapatkan beasiswa dari kampus dan merupakan sisi gelap dari


kampus,” gumam Rendi yang masih tercengang di depan pintu.


“Takedown itu sekarang juga!” pinta Tama yang ternyata masih membela Rendi.


Beberapa orang pun mengurus untuk menurunkan postingan tersebut.


“I-itu cuma fitnah doang!” ujar Rendi yang berusaha membela dirinya.


“Ma-mana aku tahu! Kemarin juga rumor waktu KKN itu juga tak berdasar kan? Orang itu bilang kalau dia suka sama aku doang. Salahku apa? Aku korban di sini loh!” bela Rendi yang mulai berani untuk bicara.


“Kalau gitu, kamu ngaku kalau itu cuma fitnah aja kan?” ujar Tama.


“Iya, aku difitnah sama orang yang nggak suka sama aku! Pasti dia mau nurunin aku dari


jabatan ketua BEM!” ujar Rendi.


Semua orang pun terdiam di ruangan itu, namun mereka merasa sedikit lega setelah


mendengar pernyataan Rendi, terutama Adel. Sedangkan di kepala Rendi, ia masih


bertanya-tanya siapa yang menyebarkan hal tersebut. Mungkinkah Gibran?


“Kalau gitu, kita harus cari siapa orangnya yang udah memfitnah Rendi dong?” ujar Adel.


“Benar juga, dia biang kerok nih! Kalau sampai dosen tahu bukannya bakal bahaya? Kasihan si Rendi dong!” ujar salah satu jajaran BEM.


“Kita bisa lacak siapa yang posting itu kok. Tapi rumornya udah kesebar, jadi kamu jangan


sampai gegabah atau melakukan hal yang membuat nama kamu jelek. Bersikap biasa aja

__ADS_1


karena kamu lagi difitnah kan?” Tama memberikan solusi atas masalah kawannya itu.


“Terima kasih, Tama. Aku akan mengingat hal itu.” Rendi pun langsung terdiam dan langsung merasa sangat kesal, mengapa ada orang yang bisa melakukan hal itu kepada Rendi.


Suasana di ruangan itu jadi sedikit runyam dan semua orang berusaha untuk mengembalikan nama baik Rendi.


“Apa kalian percaya kepadaku?” tanya Rendi di tengah keheningan mereka semua.


Beberapa orang sempat hanya terdiam saja ketika ditanya seperti itu, namun Adel justru


menjawab dengan lantang.


“Aku percaya kepadamu. Tidak mungkin orang sebaik kamu akan membohongi kami selama ini, jikalau itu benar, sudah pasti yang akan mendengar kabar itu lebih dulu adalah kami, bukan?”


ujar Adel dengan senyuman membela Rendi.


Rendi pun membalas senyuman dari kekasih gelapnya itu, akhirnya dia tidak perlu bertengkar dengan Adel juga. Semua orang pun juga mengatakan hal yang sama, karena mereka banyak


berhutang budi pada Rendi dan menganggap bahwa Rendi adalah orang yang sangat baik.


Jadi, fitnah itu tidaklah mempan untuk mereka. Demi menyelesaikan masalah Rendi, semua orang pun langsung mencari siapa pelaku sebenarnya orang yang telah mencemarkan nama baik Rendi. Postingan amatir itu juga sudah


dihapus.


Hingga saat semua sedang serius, terlihat ponsel Rendi bergetar dan ada satu pesan dari


orang tak dikenal yang menghubungi Rendi.


[Kalau mau nama baik kamu tidak tercemar lagi, datangi aku ke belakang kampus!]


“Surat ancaman?!” kejut Rendi yang masih berusaha diam.


Rendi sejujurnya sangatlah panik dengan semua keadaan ini, namun ia masih bisa mengontrol emosinya sendiri.


“Kalian tidak perlu mencari siapa pelakunya, aku akan mencarinya sendiri. Kalian melakukan kegiatan kalian seperti biasa saja. Aku jadi tidak enak hati kalau kalian begini,” ujar Rendi


sembari tersenyum dan beranjak akan pergi meninggalkan mereka.


“Kau yakin?” tanya Tama.


“Iya, ini masalahku. Kalian cukup percaya kepadaku saja, dan aku akan mencari siapa pelakunya!” Rendi berdiri dan keluar dari ruangan itu, lalu pergi ke luar di mana Rendi akan menemui orang yang mengaku telah menyebarkan rumor buruk perihal Rendi. Meskipun itu


bukan berita bohong, namun Rendi harus melenyapkan rumor dan berita itu demi reputasinya!


“Sialan! Kenapa disaat begini sih!” geram Rendi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2