
Tama menghentikan larinya ke arah Rendi saat terdapat wanita yang menghalangi Tama untuk memukul Rendi lagi.
“Lo siapa?!” tanya Tama.
Karena pandangan Rendi yang sedikit kabur, ia jadi susah melihat siapa wanita yang ada di hadapannya itu. Namun, Tama justru mengingat wanita itu.
“Lo yang dulu pernah jalan sama Gibran kan?! Ngapain lindungi pria brengsek itu?! Minggir dari
situ!” teriak Tama.
Nara menatap ke arah Tama dengan tatapan mata yang sangat tajam, aura wanita itu berbeda dari yang sebelumnya.
Melihat adanya pemberitahuan di sosial media, membuat Nara langsung bergegas menitipkan Syakila dan buru-buru pergi ke kampus. Nara tidak tahu masalahnya apa, namun dia masih belum ikhlas jika Rendi diperlakukan seperti itu.
Untungnya, Nara tahu lebih cepat di mana posisi mereka semua, jadi ia langsung datang ke lapangan dan bisa melindungi Rendi tepat waktu.
“Jajaran ketua BEM harusnya saling menjaga nama baik universitas, kalian mengapa sampai melakukan hal seperti ini? Tahu nggak kalau yang kalian lakukan itu sudah viral di sosial
media!” hardik Nara.
Rendi pun langsung menyadari akan suara itu dan berusaha untuk bangun.
“Nara … ugh!”
Karena tubuhnya terluka, Nara pun membantu Rendi untuk berdiri.
“Rendi? Kamu nggakpapa?” tanya Nara.
Selepas itu, Gibran dan Tia pun langsung datang mendekati Rendi. Gibran langsung mengambil alih posisi Nara dan melindungi ketiga orang yang ada di belakangnya.
“Yang dikatakan oleh Nara benar adanya, jika caramu seperti ini, kau sudah membuat nama kampus ini menjadi jelek. Kau bisa dibawa ke bidang kemahasiswaan nanti. Bahkan jabatanmu bisa dicopot. Mikir sampai situ nggak?” tanya Gibran.
Tama pun berdecak kesal karena merasa bahwa mereka membela pria yang salah. Sedangkan orang-orang mulai kembali berkerumun dari jauh untuk mendengarkan mereka bicara.
“Kalian tuh salah bela orang! Kenapa bela pria brengsek seperti dia?! Dia nggak pantas dibela! Dia lebih pantas untuk diturunkan jabatannya dan di DO!” imbuh Tama.
“Apa salah Rendi sampai kau harus melakukan itu? Kalian tidak bisa bicara baik-baik? Malu sedikit, kalian udah bukan anak SMA lagi yang dengan mudahnya diajak tawuran!” tegas
Gibran.
“Kalian mau denger apa yang terjadi sebenarnya Kalau kalian denger, udah pasti kalian
langsung jijik dengernya!” hardik Tama yang sudah sangat emosi.
Rendi langsung menggenggam tangan Nara dengan sangat erat, seperti sudah tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi dan menimpa kehidupannya.
Saat mereka tengah berdebat, Adel tiba-tiba mendekati Tama dan berada di belakang Tama dengan raut wajah yang berpura-pura iba. Gibran yang menyadari apa yang akan Tama
bicarakan langsung membelalakkan matanya dan berusaha mencegah Tama untuk bicara.
“Tu-tunggu!” pinta Gibran.
“Dengerin kalian semua ya! Gue mau kalian semua dengerin ucapan gue! Gue yakin banget kalian pasti bakal setuju dengan apa yang gue lakukan barusan!” teriak Tama sembari melihat
ke arah kerumunan orang yang nampak penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
“Gawat!”
Gibran langsung mengeluarkan ponselnya dan berusaha menelpon seseorang, ia terus
menerus melihat ke arah Rendi, Nara, dan Tia. Berharap mereka akan aman-aman saja.
“Sebenernya, pria tampan yang kalian puja-puja sebagai ketua BEM itu, sudah berhasil menghamili wanita yang ada di sebelah gue! Dia menghamili Adel dan nggak mau tanggung
jawab sama sekali!”
Kalimat itu jelas membuat semua orang langsung terkejut dan membuat nama baik Rendi langsung jelek dan tercemar, sedangkan Nara dan Tia berada di ambang kepanikan, mereka
tidak bisa lari karena saking takutnya dan merinding dengar perkataan Tama dan juga tatapan
mata orang-orang ke arah mereka.
Sedangkan Rendi diam saja, seakan dia sudah siap dengan konsekuensi dan eksekusi yang
dia lakukan selama ini. Gibran masih terus berusaha menelpon seseorang.
“Tama! Kau tidak bisa berasumsi seenaknya begitu!” teriak Gibran yang berusaha menghentikan ucapan Tama.
Mendengar Gibran membela Rendi, membuat Tama dan Adel kembali melihat ke arah Gibran.
“Lo masih belain pria brengsek itu? Bukannya lo benci sama dia ya?! Kalian bertiga dulu
kayaknya benci sama Rendi deh! Kenapa jadi bela dia begitu!” tanya Tama.
“Yang diucapkan oleh Tama benar!” Adel pun mulai angkat bicara dan membuat semua orang langsung terdiam mendengarkan Adel dengan saksama.
dia bilang bakal bertanggung jawab sepenuhnya, tapi ujung-ujungnya dia nolak buat
bertanggung jawab! Bahkan dia minta aku buat gugurin kandungan aku! Jahat banget, hu hu
hu.” Adel mengeluarkan air mata buaya di depan semua mahasiswa yang melihat kejadian tak
terduga itu.
Semua orang langsung menatap Rendi dengan jijik dan menyoraki Rendi.
“TURUN LO DARI KETUA BEM! JIJIK BANGET DENGERNYA!” teriak salah satu mahasiswa
yang langsung mengompori semua orang untuk menjatuhkan Rendi.
Nara dan Tia semakin takut, sedangkan Gibran nampak selesai dengan urusannya dan
langsung mendekati mereka bertiga.
“Gibran, apa nggak ada yang bisa kita lakukan?” tanya Nara yang sudah mulai panik,
sedangkan Rendi hanya diam saja sembari menggenggam tangan Nara.
“Tunggu dulu sebentar. Tunggu ya, kita nggak bisa kabur dari sini, Rendi nggak bakal kuat,” ujar Gibran.
“Gila, semua orang mulai menggila!” Tia pun ikut panik dan memegang pundak sahabatnya
__ADS_1
terus menerus.
“SERET DAN TELANJANGI COWOK BRENGSEK ITU!”
Teriak salah satu pria lagi dan membuat semua orang langsung menghampiri Rendi dan kawan-kawannya. Gibran berusaha melindungi ketiga orang yang ada di hadapannya.
“Mundur kalian semua! Kalian bisa kena pidana karena main hakim sendiri!” ujar Gibran
sembari menghadang mereka semua.
“Nggak peduli! Sampah masyarakat seperti Rendi sudah sepantasnya pergi dari sini!” teriak
salah seseorang anak BEM yang kehilangan kepercayaan kepada Rendi.
“Ugh!”
Mereka semua tidak bisa ditangani, pada akhirnya mereka semua berhasil merebut Rendi dari
Gibran dan kawan-kawannya.
“Lepasin Rendi! Jangan sakiti dia! Rendi cuma korban di sini! Dia nggak sepenuhnya salaah!” teriak Nara sembari berusaha menarik Rendi dan tidak membiarkan Rendi pergi.
“Nara …,” panggil Rendi dengan lembut dan membuat Nara melihat ke arah pria itu. “Terima kasih banyak ya.”
Tangan Rendi pun lepas dari genggaman tangan Nara dan membuat Nara langsung
berkaca-kaca. Gibran langsung mendekati Nara dan memeluk wanita itu dengan erat agar tidak
tersenggol massa yang melewatinya.
“Gibran! Tolongin Rendi! Tolong dia boleh dihukum apa saja tapi jangan dengan cara seperti ini,
tolong!” pinta Nara sembari memukul dada Gibran dan berharap banyak kepada pria itu.
“Nara, kita harus tenang. Keadaan di sini lagi kacau banget,” ujar Tia yang juga menenangkan Nara.
“Iya tunggu sebentar. Kita ikutin mereka dulu ya, pokoknya kita pantau biar Rendi nggak luka lebih parah lagi,” ujar Gibran yang langsung menuntun Nara.
Mereka pun pergi mengikuti beberapa massa yang membawa Rendi pergi ke bawah tiang bendera dan mengikat Rendi yang sudah lemas di sana, bahkan beberapa ada yang melempari Rendi dengan benda tumpul. Pakaiannya pun sudah di lepas, Rendi terlihat hanya bisa lemas saja di sana, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Hingga saat Rendi akan disiksa dengan dipukul menggunakan benda tumpul, petugas
keamanan pun datang dengan beberapa Brimob yang membawa pengamanan yang ketat.
Gibran pun akhirnya merasa lega karena bantuan yang ia panggil sudah datang meskipun agak terlambat. Awalnya, beberapa mahasiswa justru bergelut dengan keamanan.
“YANG TIDAK PERGI DALAM HITUNGAN LIMA DETIK, AKAN SAYA MASUKKAN KE DAFTAR
DO MAHASISWA!” hardik pria yang datang dengan menggunakan speaker.
Mendengar ancaman tersebut, beberapa mahasiswa langsung kabur dan hanya menyisakan
mahasiswa nakal saja. Semua langsung panik dan suasana menjadi chaos, beberapa brimob
juga menghampiri Nara, Tia, juga Gibran untuk diselamatkan dari area tersebut.
__ADS_1
Terakhir, Nara hanya melihat tubuh Rendi yang sudah terkapar lemas dan sedang dibawa oleh beberapa tenaga medis.