
Hari demi hari Nara jalani dengan penuh rasa frustasi, namun ia tetap berusaha untuk bahagia di hadapan putri kecilnya itu. Tubuhnya masih terasa sakit sekali, tulang punggungnya seperti tidak menyatu, mungkin kiasan tersebut begitu mengerikan untuk didengar, namun memang itu yang ia rasakan.
Syakila dilarang menggunakan pampers sama sekali, alhasil dia harus sering mencuci ompol dan juga bekas buang air besar Syakila. Kata orang tua, memiliki anak harus serba bersih dan higenis, agar bayi tidak mudah sakit. Nara berusaha mengikuti semua arahan mertua Rendi meskipun dia sendiri masih awam dalam merawat bayi.
Hari ini, Rendi menginap di kampus karena ada acara di sana. Alhasil, Nara sendirian di rumah bersama Syakila. Untungnya Syakila sedang tidak rewel dan mengerti kondisi Nara. Ia jadi lebih sering berinteraksi dengan syakila, senyuman bayinya itu membuat Nara sangat bahagia dan bisa melupakan semua beban dan rasa sakitnya dalam sekejap.
“Lucu banget sih kamu, Nak,” ucap Nara sembari menyentuh pipi Syakila dengan lembut. Saat tengah asyik bermain dengan Syakila, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Nara.
Ada rasa sedikit takut, karena dia belum pernah bertemu dengan tetangga yang ada di kompleks situ.
Karena ruang tv dengan pintu luar berdekatan, Nara langsung berdiri dan membuka pintu dengan perlahan. Meskipun sebenarnya dia tidak ingin membuka pintu rumahnya, namun suara tv pasti terdengar sampai ke luar, hal itu membuat Nara semakin tidak enak hati.
“Iya?” sapa Nara sembari membuka pintu. Betapa terkejutnya Nara saat melihat Gibran sudah berada di depan rumahnya.
“Loh? Gibran?!” kejut Nara.
“Hai! Boleh aku masuk?” tanya pria itu.
“Oh … boleh, tapi maaf banget berantakan nih,” ucap Nara yang langsung merapikan tempatnya, meskipun sebenarnya tempat itu selalu rapi dan bersih.
Gibran masuk perlahan dan duduk di sebelah pintu, karena memang ruangannya yang kecil, mungkin hanya bisa menerima sekitar 7 tamu saja di ruangan itu. Mata Gibran tertuju kepada bayi yang berada di tempat tidur kecil itu.
“Itu anak kamu?” tanya Gibran sembari menunjuk Syakila.
“Iya, hehe. Namanya Syakila. Kamu kenapa tiba-tiba ke sini? Nggak ngabarin dulu pula,” ucap Nara yang sebenarnya sangat canggung karena ia menggunakan pakaian rumahan, takutnya tidak sopan dan tidak enak dilihat Gibran.
__ADS_1
“Maaf ya aku nggak ngabarin kamu. Kemarin kamu minta tolong ke aku, itu aku udah sampai di depan gang sana, tapi lihat kamu udah pergi sama suami kamu, aku nggak jadi ke sini deh,” urai Gibran kepada wanita itu. Nara langsung teringat jika ia sampai sekarang tidak mengabari apa-apa soal dirinya waktu itu.
“Ah! Iya juga, aku lupa kalau aku minta tolong ke kamu.” Nara mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal itu.
“Nggakpapa, aku ngerti kondisi kamu kok. Syukurlah kamu sama bayi kamu sehat. Kamu gimana kabarnya?” tanya Gibran.
Ini pertama kalinya ada orang yang menanyakan keadaan Nara, sampai Nara sendiri bingung harus bagaimana dan tidak tahu harus menjawab apa.
“Eh … emmm, aku baik-baik aja kok. Alhamdulilah sehat semua, hehe.” Nara sangat senang sekali sampai ingin menangis, namun, ia harus menahan air matanya itu sampai setidaknya Gibran pulang dari rumahnya.
“Syukurlah. Rendi ke mana?” tanya Gibran sembari melihat ke sekeliling rumah.
“Rendi lagi nginep di kampus, dia katanya ada acara tuh, jadi aku cuma berdua sama Syakila.” Nara menjelaskan situasinya dengan tersenyum, seakan tidak terjadi apa-apa. “Aku bikinin minum ya?” lanjut Nara.
“Kalau ngerepotin nggak usah,” jawab Gibran.
Nara langsung berdiri dan membuatkan minuman teh hangat untuk Gibran. Bahkan Nara membuat minuman pun di sebelah kamar mandi, karena memang spacenya yang kecil sekali. Bagi Nara, yang penting bisa jadi tempat yang nyaman dan tempat berteduh, itu sudah cukup.
Terlihat Gibran tengah bermain dengan Syakila dan menggoda bayi itu, nampaknya Gibran senang sekali bermain dengan Syakila. Nara membayangkan jika yang sedang bermain dengan
Syakila itu adalah Rendi, namun, sepertinya itu hanyalah khayalan tingkat tingginya saja. Air mata hampir menetes di pipi Nara kala melihat hal seperti itu di depan matanya. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawakan secangkir teh.
“Ini, diminum ya. Nggak usah buru-buru santai aja,” ucap Nara sembari memberikan cangkir itu kepada Gibran.
“Terima kasih ya, aku jadi ngerepotin loh. Oh iya, aku bawa ini buat kamu sama Syakila,” ucap Gibran yang mengambil sesuatu di tas besarnya itu dan mengeluarkan beberapa hadiah untuk mereka berdua.
__ADS_1
“Ih! Nggak usah loh. Aku jadi ngerepotin kamu ntar,” ucap Nara.
“Nggak, selamat ya atas kelahiran baby kamu. Lucu banget loh!” puji Gibran.
Pada akhirnya Nara pun menerima pemberian Gibran.
“Makasih ya, kamu baik banget sama aku.” Nara tersentuh saat mengetahui Gibran memberikan hadiah untuk mereka berdua.
Gibran pun menikmati saat-saat bersama dengan Syakila dan Nara. Meskipun sebenarnya Nara tidak enak hati karena sering sekali menyakiti hatinya Gibran.
“Suami kamu emang sering pergi?” Gibran memulai topik pembicaraan yang membuat Nara mengingat kembali kesedihannya.
“Iya, dia kan ketua BEM, jadi sibuk banget. Status pernikahan kita nggak ada yang tahu, jadi yaudahlah gimana lagi. Aku harus ngertiin posisi dia,” jawab Nara sembari bermain dengan tangan Syakila. Syakila meremas telunjuk Nara dan membuat wanita itu tersenyum, entah kenapa hal itu justru membuat Gibran terharu dan berkaca.
“Tapi kamu boleh loh nuntut dia buat di rumah aja. Kamu kan istrinya. Jangan sampai dia jadi semena-mena sama kamu gara-gara dia ketua BEM dan kepala keluarga,” saran Gibran kepada Nara yang nampak terluka. Bahkan tubuh Nara semakin kurus.
“Aku udah minta Rendi untuk tetap di rumah, tapi sia-sia aja. Aku sama sekali nggak ada harganya di matanya. Mungkin dia masih sibuk banget, jadi emang nggak ada waktu buat aku.”
Nara masih tetap berusaha berpikir positif.
“Dia udah keterlaluan dan nggak bisa memposisikan dirinya sebagai ayah, tahu. Kamu sendiri nanti yang sakit hati kalau gitu caranya. Jangan siksa diri kamu sendiri, aku dah sering bilang, kan?” Gibran memulai kembali pembicaraan mereka tempo hari.
“Untuk saat ini, aku belum bisa apa-apa, Gibran. Nggak masalah kok, semua baik-baik saja. Aku bakal jaga Syakila, karena ini kewajiban aku sebagai ibu.” Nara tersenyum menatap putrinya yang cantik itu.
Gibran pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena semua sudah kemauan Nara. Setelah cukup malam dan menurut Gibran, sudah melewati masa kunjungan tamu, ia langsung pergi meninggalkan Nara sendirian bersama Syakila.
__ADS_1
Sebenarnya dia sama sekali tidak tega, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Terima kasih ya, Gibran. Kalau senggang, main aja ke sini.” Setan mana yang merasuki Nara, mengapa ia bisa bilang seperti itu kepada pria lain. Gibran hanya tersenyum saja mendengar ajakan Nara tersebut dan langsung pergi meninggalkan Nara di kontrakan kecil itu dengan hati yang tidak tega.