Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
KKN telah Usai


__ADS_3

KKN pun berakhir, Nara berhasil melewati 45 hari bersama dengan orang-orang yang tidak ia kenal sebelumnya. Ia merasa lega karena semua sudah usai, dan 45 hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan untuk Nara, karena dia bisa menghabiskan waktunya dan masa mudanya tanpa merasakan harus merawat anak, selepas KKN sudah jelas ia kembali menjadi sosok ibu yang terus menerus berada di rumah dan hanya memiliki kegiatan mengurus anak saja.


Berakhirnya KKN tentu membuat beberapa orang bersedih karena mereka harus meninggalkan teman-teman yang sudah seperti keluarga, Nara juga menangis karena akan berpisah dengan teman satu kamar yang sudah seperti saudara baginya.


"Sehat-sehat ya kalian berdua," ucap Nara sembari memeluk Evi dan juga Lies.


"Iya, Nara. Kamu juga sehat-sehat ya. Sering-sering meet up biar kita bisa sering ketemu," ujar Lies yang juga menangis.


"Aku bakal ngabarin kalian berdua dan aku juga nggak bakal lupain kalian berdua," ucap Evi yang juga menangis.


Saat itu, semua orang kembali ke kampus kecuali Nara. Ia membawa semua barang bawaannya sendiri dengan menggunakan motor karena dia tidak punya tempat untuk pulang di kampus. Dia tidak ingin pulang ke kontrakannya dan bertemu dengan Rendi dulu.


Saat semua motor sudah siap berangkat, tiba-tiba Gibran mendekati Nara dan membuka kaca helm full facenya.


"Kabari kalau ada apa-apa ya. Hati-hati di jalan," ujar Gibran sembari memegang motor Nara.


Nara pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. Ia sebenarnya agak bersedih karena akan berpisah dengan pria itu. Namun, ia percaya bahwa takdir pasti akan mempertemukan mereka lagi.

__ADS_1


Mereka pun berpisah di jalan dan Nara pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar akan bertemu dengan putri kecilnya yang selama ini dia tinggalkan.


Sampai di rumah, Nara langsung membawa semuanya masuk ke dalam rumah dan melihat Syakila sedang duduk di kasur depan tv. Nara langsung melepas helmnya dan berlari ke arah Syakila yang tengah dirawat oleh asisten rumah tangga di rumahnya dan memeluk Syakila dengan gemas.


"Ih, Syakila udah bisa duduk!" ucap Nara dengan penuh rasa bahagia karena melihat putrinya sudah bisa duduk.


ART Nara pun meninggalkan mereka berdua dan langsung membawa pakaian kotor milik Nara dan merapikan barang-barang Nara.


Sedangkan Nara menghabiskan waktu berdua bersama putri kecilnya itu, awalnya Syakila bahkan lupa siapa yang sedang berada di hadapannya. Namun, lama kelamaan anak itu mengingat Nara dengan baik.


Beberapa saat kemudian tibalah ibunya Nara yang baru saja pulang kerja. Nara pun memeluk ibunya karena rindu dan banyak berterima kasih atas jasa ibunya dan keluarganya.


"Sehat kok, Bu. Ibu juga gimana? Sehat kan?" tanya Nara.


"Iya, ibu sehat kok."


Saat di tengah pembicaraan tiba-tiba Nara bersedih dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa, Nak?" tanya sang Ibu.


"Asi Nara udah nggak keluar. Gimana ya?" tanya Nara kepada sang ibu.


Ibunya Nara pun hanya bisa diam saja dan sejenak berpikir, usia Syakila baru 6 bulan dan seharusnya waktu menyapih itu adalah 2 tahun.


"Ya udah nggakpapa, yang penting kamu kencengin aja susunya Syakila. Dia juga terbiasa pakai susu formula, jadi nggak papa sepertinya," jawab sang ibu sembari menepuk punggung Nara.


Nara pun terlihat bersedih di hadapan Syakila dan ibunya.


"Nggakpapa, Syakila anak pinter. Dia nggak rewel waktu harus disapih di usia yang sangat muda," ujar sang ibu yang berusaha menenagkan.


Nara pun tersenyum dan merasa Syakila adalah anak yang pengertian, ia bisa mengerti keadaan dan kondisi Nara di saat seperti ini. Ia beruntung punya putri seperti Syakila.


Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu rumah Nara.


Setelah Nara membukakan pintu, ia sangat terkejut jika pria itu datang ke rumah Nara tanpa sepengetahuan Nara sama sekali.

__ADS_1


"Rendi?!" kejut Nara yang padahal sedang menghindari sosok pria itu.


__ADS_2