
Setelah menitipkan Syakila, mereka berdua pun langsung pergi berdua untuk berkencan. Sebenarnya, Gibran sudah merencanakan ini sejak lama, namun, selama ini ia belum bisa merealisasikan rencananya tersebut, karena lebih takut akan membuag Nara tidak nyaman sama sekali.
Hingga ia merasa ini adalah hari yang tepat untuk mengajak Nara dan menjalankan rencana kencannya bersama Nara.
Gibran mengajak Nara berkencan di mall dan bermain timezone. Pria itu ingin memberikan hal yang sangat berkesan untuk Nara. Gibran melihat, selama Nara menjalin hubungan dengan Rendi, wanita itu sama sekali tidak pernah merasakan kebahagiaan. Bahkan Nara selalu bahagia dengan hal-hal sederhana, seperti dibelikan cilok, atau jajanan sederhana lainnya.
Gibran membiarkan wanita itu bermain sepuasnya, selagi Syakila sedang dititipkan ke pengasuhnya, dan besok dia juga harus kembali mendapati sebuah kenyataan bahwa ia harus berhadapan dengan keluarganya Rendi.
"Gibran, kamu mau dapetin itu buat aku?" tanya Nara sembari menunjuk mesin boneka capit yang konon katanya mustahil untuk mendapatkan boneka tersebut.
"Hah? Serius? Kamu tau kan itu dapetinnya susah banget?" keluh Gibran.
"Hehe, iya tau. Makanya aku minta kamu ambil itu," ucap Nara yang memang sengaja meminta Gibran untuk memainkan mesin tersebut.
Karena rasa sayangnya kepada Nara, Gibran pun memutuskan untuk mengambil tantangan Nara dan mulai memainkan mesin capit tersebut. Ada 10x Gibran memainkan mesin tersebut, tiba-tiba....
"UWAH! DAPET!" kejut Gibran
Nara pun juga ikut terkejut dan bertepuk tangan karena usaha pria itu selama 10x ternyata membuahkan hasil.
"Hebaaat! Keren banget kamu!" puji Nara.
__ADS_1
"Ha ha ha, iya dong! Nih, buat kamu. Buat Syakila juga boleh," ujar Gibran sembari memberikan boneka beruang kepada wanita itu.
Nara pun menerimanya dengan senang hati dan langsung pergi dari timezone untuk mencari makanan. Ada 1 jam mereka bermain di sana.
Setelah selesai bermain, Gibran mengajak Nara makan makanan Jepang. Wanita itu sangat menyukai makanan Jepang, namun, karena kendala ekonomi, Nara lebih memilih membeli susu untuk putrinya ketimbang membeli makanan.
"Serius kita makan di sini? Ini kan mahal!" ujar Nara yang menahan Gibran untuk tidak masuk ke dalam.
"Halah, ikut aja ayo. Nggak usah khawatir uangku habis, yang penting kamu kenyang!" ucap Gibran.
Nara merasa sedikit tidak enak hati dengan Gibran, namun, seperti biasa Gibran tidak bisa ditentang sama sekali.
Semenjak pergi bersama Gibran, Nara jadi suka sekali bercerita semua hal yang pernah ia lakukan dan ia rasakan. Hal itu juga merupakan suatu kebahagiaan Gibran karena nyatanya Nara ternyata bisa sangat terbuka dengan pria itu.
"Udah siap ketemu Rendi sama keluarganya besok?" tanya Gibran.
"Iya, aku sudah memutuskan untuk bercerai. Aku harus bisa konsisten dengan perkataanku ini. Aku akan bicara dengan mereka dan mewakili keluargaku. Mana bisa aku merepotkan keluargaku untuk yang kesekian kalinya," urai Nara.
"Kamu nggak ada rencana mau pulang?" tanya Gibran.
"Belum. Nanti kalau semuanya sudah selesai, kebetulan mereka juga sibuk, jadi tidak bisa menjengukku dalam waktu dekat ini," ujar Nara.
__ADS_1
"Syukurlah. Kamu benar-benar akan meninggalkan Rendi? Bukankah saat dia bertemu denganmu tadi, dia kelihatan sangat tulus?" tanya Rendi.
"Memang benar begitu, tapi, jika aku kembali kepada Rendi, tidak menjamin sikapnya akan berubah. Bisa saja dia semakin kesal kepadaku. Aku sudah memutuskan kalau ini adalah cara terbaik untuk membuatnya jadi lebih baik," ucap Nara dengan senyuman.
"Rendi juga menolak Adel loh. Dia tidak mau bertanggung jawab."
DEG!
Nara sedikit terkejut mendengar ucapan Gibran.
"Ko–kok kamu tahu?" tanya Nara.
"Dia meminta pendapat denganku, jadi kuberikan pendapatku dan dia memutuskan untuk menjauh dari Adel," urai Gibran.
Saat mereka sedang makan-makan, tiba-tiba tatapan mata Gibran menuju ke belakang Nara, seperti melihat seseorang datang.
Nara yang menyadari akan hal itu pun langsung menengok ke belakang.
"Eh?" kejut Nara dan dia bahkan ingin langsung menghindar rasanya.
Dengan cepat, Gibran menggenggam tangan Nara dan menarik tangan Nara agar duduk di sebelah Gibran.
__ADS_1